UII & Kominfo, Ciptakan Tenaga Terampil IT

Dalam upaya mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Prof. Dr. Gati Gayatri, MA, Peneliti Utama Direktorat Infokom PMK melakukan sosialisasi program Digital Talent Scholarship 2019 di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Kegiatan dilaksanakan di Ruang Audiovisual Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta (23 Ramadhan 1440 H / 28 Mei 2019).

Prof. Gati Gayatri menjelaskan, program Digital Talent Scholarship 2019 merupakan kesiapan pemerintah untuk menghadapi era 4.O. Pelatihan ini penting untuk meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia. “Jadi, ambilah peran penting sebagai orang yang akan membuat sebuah kebijakan, yang akan membuat aturan dan instruksi kerja,” jelasnya

Baca : Kemenkominfo Gandeng UII dalam Digital Talent Scholarship 

Beasiswa yang diselenggarakan oleh Kementrian Kominfo bersama dengan 30 Kampus diantaranya Universitas Islam Indonesia dan 23 mitra Politeknik serta 4 mitra sertifikasi internasional dari perusahaan global AWS, Cisco, Google serta Microsoft ini terdiri dari empat akademi, yakni Fresh Graduate Academy (FGA) yang terdiri dari 6.000 beasiswa, Vocational School Graduate Academy (VSGA) 4.000 beasiswa, Coding Teacher Academy (CTA) 4.000 beasiswa serta Online Academy (OA) 11.000 beasiswa.

Peserta akan menjalani program ini selama dua bulan, terhitung sejak 28 Juni-20 Agustus 2019. Terdapat beberapa pilihan yang ditawarkan dalam Digital Talent Scholarship 2019. UII mendapatkan amanah peserta Digital Talent Scholarship 2019 kategori Fresh Graduate Academy dengan Program Pelatihan Machine Learning (AWS).

Program Fresh Graduate Academy (FGA) merupakan program pelatihan bidang TIK yang berfokus pada enam (6) tema pelatihan yakni Artificial Intelligence, Big Data Analytics, Cloud Computing, Cybersecurity, Internet of Things, dan Machine Learning. Pelatihan ini ditujukan bagi 6.075 orang lulusan D3/D4/S1 bidang TIK dan MIPA yang belum bekerja, agar memiliki kompetensi secara profesional dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era revolusi industri 4.0.

Diharapkan, dengan terselenggaranya program FGA ini, dapat memberikan kemampuan siap pakai bagi lulusan S1 dan D3/D4 yang akan berdampak untuk mengurangi angka pengangguran, serta mampu memenuhi kebutuhan tenaga terampil di bidang teknologi. Kementerian Komunikasi dan Informasi dalam hal ini berupaya untuk menciptakan ekosistem seimbang untuk memaksimalkan peran triple helix (instansi pemerintahan, sektor privat, dan institusi pendidikan) untuk menjadi fasilitator dan akselerator pendukung ekonomi digital.

Pendaftaran Online: digitalent.kominfo.go.id selambatnya 15 Juni 2019

Jerri Irgo

Membaca Indonesia Melalui Mahadata

Berbicara mengenai teknologi, internet menjadi salah satu dari perkembangan teknologi yang paling dekat dengan masyarakat saat ini. Berbagai macam informasi dan data terekam dengan cukup cepat melalui internet. Terlebih di era revolusi industri 4.0 terjadi digitalisasi di berbagai sektor yang berorientasi pada data.

Guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam memanfaatkan big data di kalangan civitas akademica, Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kuliah umum untuk mahasiswa program profesi, magister dan doktor bertajuk Membaca Indonesia Melalui Mahadata.

Pada kuliah umum kali ini, yang diinisiasi oleh Direktorat Layanan Akademik UII, mengundang pakar bigdata Indonesia yang juga Founder Media Kernel Indonesia, Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D. Jalanya acara dipandu oleh Direktur Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan UII, Beni Suranto, S.T., M.Soft.Eng.

Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc.selaku Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik & Riset UII, dalam sambutannya mengatakan pengembangan data adalah hal yang cukup krusial dalam perkembangan revolusi industri 4.0 saat ini. Mengingat perkembangan dunia digital kini telah merambah di berbagai sektor terutama pendidikan.

“Pengetahuan tentang data menjadi tonggak penting di era yang serba digital ini, sebagai institusi pendidikan kita juga harus mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan memiliki wawasan dalam menguasai data,” ungkapnya.

Disampaikan Ismail Fahmi bahwa saat ini berbagai macam peristiwa ataupun informasi di seluruh Indonesia bahkan dunia dapat kita ketahui secara langsung melalui media sosial, karena adanya data. Segala sesuatu yang berhubungan dengan data dapat dengan mudah diakses akibat adanya transfer data melalui internet.

“Membaca Indonesia melalui data itu sangat menarik. Berbagai macam peristiwa terekam secara langsung melalui data yang dapat kita akses, salah satunya melalui media sosial,” tuturnya.

Ismail Fahmi melanjutkan, sering sekali terjadi atau muncul berita-berita yang tidak benar di kalangan masyarakat akibat adanya resonansi data. Maka dari itu, Ia menghimbau kepada pengguna internet saat ini agar mampu menyaring berbagai informasi yang diterima. Sehingga berita-berita yang tidak benar itu dapat diminimalisir.

“Unik ketika kita melihat data percakapan di media sosial. Terlebih mengenai isu-isu yang sedang heboh, misalnya politik. Kita dapat mengetahui bagaimana polemik para pendukung yang saling serang. Inilah salah satu bentuk data yang berbahaya jika kita tidak mampu menyaring dengan baik,” ujar Ismail Fahmi yang juga Dosen Program Studi Teknik Informatika, Program Magister Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII tersebut.

Akan sangat bermanfaat bagi di kalangan civitas akademica dalam mengakses data. Ismail Fahmi mengajak kepada mahasiswa, dosen, peneliti dan mahasiswa dalam pemanfaatan data. Salah satunya melalui Drone Emprit Academy (DEA) yang merupakan gagasannya dalam memberikan fasilitas di kalangan civitas akademica.

“Saya mengajak teman-teman khususnya UII agar bisa memanfaatkan data melalui program ini. DEA siap memberikan data yang dibutuhkan baik untuk riset ataupun keperluan akademik lainnya,” ungkapnya.

diberitakan : Humas UII

Workshop SDM Fashion di Era Industri 4.0

Program Studi (Prodi) Teknik Kimia, Konsentrasi Teknik Tekstil Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII), bekerjasama dengan Prodi Teknik Busana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Assosiasi Ahli Design Pola Marker Garmen Indonesia (AADPMGI) di Auditorium FTI UII, Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (2 dan 3 Maret 2019) menggelar Workshop SDM Fashion di Era Industri 4.0.

Dalyono S.Teks. M.Si, Dosen Prodi Teknik Kimia FTI UII mewakili Ketua Program Studi, dalam sambutannya “berterima kasih atas kepercayaan untuk menjadi tuan rumah dan menyambut baik kehadiran serta kerjasama AADPMGI dengan salah satu agenda melaksanakan workshop SDM Fashion di Era Industri 4.0”

Peserta yang diundang untuk hadir berasal dari penjuru Tanah Air, selama dua hari berbagi dan menambah wawasan khususnya tren fashion dan desain bersama para pembicara dari kalangan industri.

Hadir sebagai narasumber Ronny, Gemini CAD/CAM System, memperkenalkan diantaranya automatic photo digitizer dan pattern editor. Merujuk dari release Gemini CAD Sistem menyatakan tidak peduli seberapa baiknya teknologi, Nilai riil dengan ditambahnya sentuhan manusia. Gemini CAD Sistem merupakan keseimbangan dengan menempatkan usaha yang sama dalam membangun tim yang kuat seperti yang dilakukan kami dalam mengembangkan produk-produknya.

Selanjutnya L Donny Yulianto, AD Machinery Juki Sewing Machine Indonesia sebagai narasumber kedua, menjelaskan 5 Produk unggulan Juki yang dapat menjawab kebutuhan industri dan dunia pendidikan.

Menurut Fitriansyah, CAD/CAM Engineer dan Ketua AADPMGI “Kegiatan rutin AADPMGI yang ke 2 kerjasama dengan UII. “Dipilih UII karena selain ada konsentrasi Tekstil, juga saat koordinasi dengan Program Studi, selain bersedia untuk kerjasama juga sangat serius, termasuk pengadaan alat pun siap” tuturnya

Sangat beralasan baginya, karena “UII pertama yang lengkap peralatannya diantara Perguruan Tinggi lainnya. UII memiliki plootter, cutting plotter dan software serta 3D. Harapan ke depan, sebagaimana telah direncanakan dengan materi-materi berbeda yang berhubungan dengan fashion dan desain akan menjadi kegiatan rutin,” pungkas Fitriansyah.

Jerri Irgo

Retno, Bagi Tips Raih IPK Tertinggi 4.0

Retno Dyah Purwaningrum, Mahasiswi Program Studi Teknik Industri, Program Sarjana Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) mendapat apresiasi atas raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Tertinggi yaitu 4.0.

Apresiasi ini juga diberikan Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T, Dekan FTI UII kepada 4 Mahasiswa FTI UII Angkatan 2018 lainnya yang dari Program Studi Teknik Kimia, Teknik Informatika, Teknik Elektro dan Teknik Mesin. Sebagai rangkaian kegiatan Temu Orangtua/Wali Mahasiswa FTI UII Angkatan 2018 (Sabtu, 23 Februari 2019) bertempat di Auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakir, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta.

Prof. Hari Purnomo berharap “Semoga penghargaan ini dapat menginspirasi kita semua, untuk meneruskan semangat khususnya bagi Mahasiswa FTI UII lainnya”. IPK tinggi sebenarnya bukan hanya soal meraih nilai tinggi saja, tapi bagaimana selalu mempertahankan IPK yang sudah bagus sehingga nilanya dapat stabil sampai lulus.

Seusai menerima apresiasi, puteri pasangan Agus Djuari dan Yulia Mulyawati, yang berasal dari Sepinggan, Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur ini pun berbagi tips dan triks untuk dapat meraih IPK Tertinggi.

“Saya mempunyai manajemen waktu saya sendiri, membagi waktu untuk belajar dan juga aktif di kegiatan lain. Yang penting bagi saya ialah ada kemauan dan kerja keras. Serta   jangan pernah malas, terutama untuk urusan menuntut ilmu” ujar Retno.

Selain itu Retno mengatakan “Dukungan dari orang tua, meliputi materi dan juga non materi. Tetapi sebenarnya, Orang tua saya tidak pernah menuntut banyak, senyamannya saya saja.  Tentunya itu semua tak luput dari doa orang tua saya dan juga teman teman. Teman teman juga membantu saya dalam belajar, seperti berdiskusi dan  belajar kelompok”.

Retno berharap untuk “Program Studi adalah dapat membangun kerjasama, saling memberikan manfaat, dan terus meningkatkan tenaga pengajar akademisi sehingga dapat menghasilkan mahasiswa yg berkualitas dan mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional” pungkasnya.

Jerri Irgo

Asesor AUN-QA Visitasi Jurusan Teknik Industri

Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T, Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) menerima langsung Prof. Dato’ Ir. Dr. Riza Atiq Abdullah bin O.K. Rahmat, Former Deputy Vice Chancellor (Academic & International Affairs), Universiti Kebangsaan Malaysia dan Assoc. Prof. Dr. Anan Mungwattana, Kasetsart University saat melakukan visitasi ke Jurusan Teknik Industri FTI UII (12 Februari 2019)

Kehadiran Prof. Dato’ Ir. Dr. Riza Atiq Abdullah dan Assoc. Prof. Dr. Anan Mungwattana, di Gedung KH Mas Mansur, kampus Terpadu UII sebagai Asesor ASEAN University Network on Higher Education for Quality Assurance (AUN-QA) yang mendapatkan mandat melakukan penilaian mutu kualitas pendidikan dan pengajaran di Jurusan Teknik Industri FTI UII

Proses penilaian secara institusional Tim Asesor dari AUN-QA untuk melaksanakan penilaian melalui audiensi dengan seluruh elemen kampus, seperti Dekan, Dosen, Mahasiswa, serta Tenaga Kependidikan, dilakukan selama tiga hari, mulai 12 hingga 14 Februari 2019.

Tampak hadir Dwi Ana Ratna Wati, S.T., M.Eng, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Dr. R.M. Sisdarmanto Adinandra, S.T., M.SC, Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni FTI UII.

Selain itu juga hadir dari Jurusan Teknik Industri, Muhammad Ridwan Andi Purnomo, S.T., M.Sc., Ph.D, Ketua Jurusan Teknik Industri, beserta Sekretaris Jurusan Teknik Industri, Harwati, S.T., M.T dan Ketua Program Studi Teknik Industri – Program Sarjana, Dr. Taufiq Immawan, S.T., M.M. serta Sekretaris Program Studi Teknik Industri – Program Sarjana, Sri Indrawati, S.T., M.Eng.

Penilaian AUN-QA terdiri dari 25 kriteria dalam QA startegis, QA sistemik, QA fungsional, dan results. Penilaian mencakup sistem perencanaan, implementasi, evaluasi, serta tindak lanjut yang dilakukan.

Jerri Irgo

Winda, Strategi Praktis Selesaikan Tugas Akhir

“Output yang dihasilkan dari kegiatan penelitian dapat berupa perancangan maupun pengembangan, baik produk, sistem, metode atau kebijakan” jelas Winda Nur Cahyo, S.T., M.T., Ph.D, Ketua Program Studi Teknik Industri Program Magister Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Winda menjelaskan hal tersebut dihadapan Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Program Magister FTI UII yang mengikuti Program BootCamp 2019, bertempat di Auditorium Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (02 Februari 2019).

“Dimulai saat membuat latar belakang penelitian, sudah harus memuat informasi dasar perlunya dilaksanakan kegiatan penelitian ini, masalah iptek yang dihadapi pada saat ini dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat / industri. Latar belakang juga harus mampu menjelaskan bagaimana kegiatan riset ini dapat memperkuat Sistem Inovasi Nasional (SINas)” ujar Dosen Magister Teknik Industri tersebut.

Selain itu harus dipahami bahwa peluang melakukan penelitian tidak harus dari masalah yang besar, namun dapat dimungkinkan juga dari sesuatu yang dianggap kecil, hal tersebut belum dimaknai oleh sebagian besar Mahasiswa. Bagi sebagian mahasiswa terlepas dari asal konsentrasinya saat menjalani tugas akhir adalah masa-masa yang menyeramkan dan penuh tantangan. Bahkan, tak sedikit di antara mahasiswa yang tidak mempersiapkan dengan baik, akhirnya memutuskan drop-out karena tidak kuat menghadapi dosen pembimbing yang terlalu ‘killer’.

Pada kesempatan tersebut, Winda juga berbagi tips dan triks mudahnya mengakses jurnal ilmiah dengan dukungan Teknologi Informasi. Jurnal menjadi penting, karena salah satu fungsi jurnal ilmiah adalah untuk mendapatkan permasalahan yang dapat dijadikan sebagai dasar penulisan latar belakang masalah tesis. Dalam contoh jurnal terbaru biasanya terungkap permasalahan yang aktual. Ini akan memudahkan peneliti dalam menyusun latar belakang masalah.

“Kita berharap dengan strategi tersebut mahasiswa dapat menyelesaikan tugas akhir, selain dapat tepat waktu juga dengan selalu having fun” pungkasnya

Jerri Irgo

FTI UII Kembangkan Pembangkit Listrik Fuel Cell

Untuk menciptakan sumber energi alternatif, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengembangkan pembangkit listrik fuel cell yang diberi nama Hydrogen Fuel Cell Electro Project UII.

Pengembangan pembangkit listrik fuel cell tersebut hasil kerja sama dengan PT Cascadient Indonesia. Secara resmi inovasi tersebut dilauching di kampus UII Yogyakarta, Jumat (18/1/2019).

Ketua program studi (prodi) Teknik Elektro (TE) FTI UII, Yusuf Aziz Amrulloh mengatakan, pemgembangan pembangkit listrik fuel cell ini juga sebagai alternatif pembangkit listrik dengan memanfaatkan potensi sumber energi baru dan terbarukan. Yakni, dengan energi hydrogen fuel cell.

“Dengan selesainya pembangunan proyek ini diharapkan dapat menjadi percontohan serta edukasi dan inspirasi untuk dapat memanfaatkan potensi sumber energi baru dan terbarukan. Terutama dalam pemenuhan kebutuhan listrik, khususnya di institusi pendidikan,” kata Yusuf, Jumat (18/1/2019).

Project Manager Hydrogen Fuel Cell FTI UII Setyawan Wahyu Pratomo menjelaskan, cara kerja pembangkit listrik hydrogen fuel cell ini, yaitu dengan mengubah hydrogen fuel menjadi elektron atau listrik 48 VDC melalui reaksi kimia yang ada pada tabung reaktor. Kemudian output 48 VDC tersebut diubah menjadi listrik 220 VAC melalui inventer.

“Untuk langlah kerjanya valve tabung gas hidrogen dibuka, kemudian aliran gas hidrogen mengalir pada rangkaian stacking reaktor hydrogen fuel cell hingga pada akhirnya terjadi pertukaran elektron listrik sebesar 48 VDC, dari listrik 48 VDC dihubungkan ke inventer 220vac sehingga listris bisa digunaan,” kata Setyawan di sela-sela launching tersebut.

Menurut Setyawan secara umum hydrogen fuel cell sebesar 48 DVC bisa digunakan untuk kebutuhan BTS Telekomunikasi. Sedangkan di UII dengan kapasitas 2,5 KW dengan sistem hibrid digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di FTI. Sekaligus menambah pembangkit listrik yang sudah ada, yakni PLTS, PLN dan genset.

“Dengan beban listrik di UII 220 VAC kapasittas fuel cell tersebut bisa dengan inventer dari 48 DC ke 220 VAC, sehingga bisa menjadi pembangkit listrik alternatif,” terangnya.

Sumber : SindoNews

Sembilan Mahasiswa UII Ikuti Student Exchange ke Thailand

Sebanyak sembilan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri UII mengikuti program Student Exchange di Chulalangkorn University Thailand. Program ini merupakan hasil kerja sama yang sudah terjalin antara Chulalangkorn University Thailand dan UII sejak tahun 2013. Program akan dilaksanakan selama 4 bulan penuh, mulai 14 Januari 2019 mendatang.

Disampaikan Wakil Rektor Bidang Networking & Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., Student Exchange ini merupakan salah satu wujud internasionalisasi universitas agar memiliki daya saing yang lebih kompeten dengan universitas lain.

“Kita perlu yang namanya meningkatkan kemampuan mahasiswa, baik dari segi akademik maupun non akademik. Maka dengan adanya program ini harapannya dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa,” ujarnya pada acara pelepasan di Gedung GBPH Prabuningrat UII, Jl. Kaliurang Km. 14,5, pada Jum’at (4/1).

Internasionalisasi universitas menjadi salah satu program penting dalam visi misi yang dimiliki UII. Disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni UII, Dr. Drs. Rohidin, SH., M.Ag., program ini bertujuan untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam berbagai aspek. Baik dari segi akademik, soft skill bahkan kebudayaan.

”Melalui program ini harapannya dapat memberikan wawasan baru dan meningkatkan kemampuan mahasiswa itu sendiri. Jangan sampai kita hanya hebat di rumah sendiri, tetapi juga harus bisa bersaing dengan masyarakat global,” ungkap Rohidin.

Di hadapan mahasiswa peserta program, Rohidin berpesan untuk tetap menjaga nama baik UII dan bisa mendapat ilmu baru di sana. “Membawa nama almamater, jadi jagalah nama baik UII, artinya jagalah sopan santun. Jangan sampai ikut budaya di luar sana yang negatif dan bagikan pengalaman serta semangat kepada teman-teman mahasiswa lainnya,” pesannya.

Dr. Arif Hidayat, S.T., M.T., selaku Sekretaris Program Studi Teknik Kimia menyampaikan tujuh dari peserta program akan ditempatkan di Petroleum and Petrochemical College (PPC). Sementara dua mahasiswa lainnya ditempatkan di Chemical Engineering Department. Disampaikan Arif, selama di Thailand para mahasiswa akan melakukan berbagai macam kegiatan akademik maupun non akademik.

Kesembilan mahasiswa program Student Exchange tersebut yakni Febri Putri Batama, Muhammad Fadila Putra, Bagus Surya Saputra, Fakhri Fachreza, Anjanetta Nadya Pasha, Salma Avia Pratidina dan Silvi Nursukma Indri di Petroleum and Petrochemical College (PPC) serta Malik Nur Hakim dan Siti Mursidah di Chemical Engineering Department.

Selama mengikuti program, setiap mahasiswa akan diberikan biaya hidup dan biaya studi. Selain itu, nilai mata kuliah yang mereka tempuh juga bisa dikonversi dengan mata kuliah yang ada di UII. (ENI/RS)

sumber : uii.ac.id

Forensika Digital, Siapkan Profesional Cybersecurity di Industri 4.0

Rachmad Affandi, S.Kom., M.Kom. CEH, CHFI, Founder – InDonesia Digital Forensic Conference (IDDFCon) CEO – Nappa Technologies menyatakan “Ide itu murah karena tak berisiko apa-apa, tetapi implementasi itu mahal karena yang menjalankan akan babak belur”

Dalam paparannya Rachmad Affandi, menjelaskan tentang Tantangan dan Prospek Industri Keamanan Siber di Indonesia dimana berdasar referensi dari “Studi Frost & Sullivan yang diprakarsasi oleh Microsoft mengungkapkan bahwa potensi kerugian ekonomi di Indonesia yang diakibatkan oleh insiden keamanan siber dapat mencapai nilai US$ 34.2 miliar. Angka tersebut setara dengan 3,7 persen jumlah total PDB Indonesia sebesar US$932 miliar” jelas Alumni Magister Teknik Informatika FTI UII tersebut.

Namun “kabar baiknya adalah Artificial Intelligence (AI) adalah masa depan dari pertahanan siber, dimana 84% sudah berpikir untuk menggunakan AI untuk bertahan dari serangan siber” tegasnya

Rachmad Affandi sampaikan saat menjadi narasumber Kuliah Umum Tantangan dan Prospek Industri Keamanan Siber di Indonesia yang dihadiri Mahasiswa Konsentrasi Forensika Digital Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Program Magister Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) di Auditorium Lantai 3 FTI UII, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (29 Desember 2018)

Penandatangan kesepakatan kerjasama antara FTI UII dan CISSReC serta FTI UII dan Digital Forensic Conference (IDDFCon) – Nappa Technologies menjadi rangkaian kegiatan awal sebelum Kuliah Umum yang dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Ir. H. Hari Purnomo, M.T., Dekan FTI UII yang juga dihadiri Izzati Muhimmah., S.T., M.Sc., Ph.D, Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Program Magister FTI UII dan Dr (Cand) Yudi Prayudi., S.Si. M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital FTI UII.

Sementara Dr. Pratama Persadha, Chairman CISSReC, Communication & Information System Security Research Center menjelaskan “Kampus dapat membantu negara dalam penyiapan SDM yang diperlukan dalam penguatan keamanan siber. Pada akhirnya tidak hanya terkait SDM, tapi juga paten, teknologi dan bersama industri bisa mengembangkan produk anak bangsa” jelasnya

Cybersecurity – Keamanan Siber menjadi faktor paling menentukan dalam persaingan di era digital dan menuju industri 4.0, setiap proses kompetisi akan melewati tantangan dan ancaman di ranah siber. Kenapa? Karena semua telah terkoneksi satu sama lain, data menjadi emas baru yang sangat berharga untuk diperebutkan dan diolah.

“Keamanan siber telah menjelma menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga percaturan kehidupan global, tidak hanya di sektor bisnis, bahkan juga keamanan dan pertahanan” jelas Dr. Pratama Persadha.

Pelaku industri 4.0 mengalami ancaman dunia maya yang sama seperti organisasi lain, di mana bisnis dari semua ukuran menjadi sasaran kejahatan siber yang terus meningkat dari tahun ke tahun. “Ponemon Institute dalam studinya di tahun 2018 manyatakan bahwa rata-rata kerugian akibat pelanggaran data secara global pada tahun ini mencapai 3.86 juta dolar atau meningkat 6,4 persen dari tahun 2017” tuturnya

Apa yang dapat dilakukan Kampus lakukan? Dr. Pratama Persadha langsung menjawab pertanyaannya yaitu “Pertama meningkatkan edukasi dan perencanaan kurikulum yang pro pada keamanan siber, artinya tidak hanya satu fakultas, tapi materi keamanan siber harus masuk ke semua fakultas, selanjutnya meningkatkan riset terkait keamanan siber dan kolaborasi dengan dunia usaha sangat penting untuk menjembatani hasil riset agar bisa dibawa ke ranah industri, utamanya melindungi hasil riset agar tidak mudah dilepas ke asing serta kampus berkolaborasi dengan BSSN maupun lembagalainnya untuk meningkatkan keikutsertaan dalam setting agenda pengamanan wilayah siber di tanah air”.

Jerri Irgo

Workshop Trik Keamanan Data

Fietyata Yudha, S.Kom., M.Kom., Peneliti Pusat Studi Forensika (Pusfid) Digital Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) ungkapkan “Salah satu isu yg cukup menarik saat ini adalah serangan malware, yang awalnya di booming kan dengan serangan ransomware wannacry. Disisi akademik merupakan hal yang menarik untuk meneliti aktivitas malware. Nah salah satu organisasi yang mencoba menggeluti bidang malware analysis adalah honeynet project, khususnya Indonesia”.

Dosen Magister Teknik Informatika tersebut menyampaikan dalam releasenya di ruang Audiovisual Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (Selasa, 18 Desember 2018).

Yudha menjelaskan “Untuk menambah kemampuan para mahasiswa dan sebagai tindak lanjut MoU antara UII dan Indonesian Honeynet Project, kita mengundang praktisi dari Indonesian Honeynet Project, yaitu Charles Lim, M.Sc selaku Chapter Lead Indonesian Honeynet Project (IHP) dan Mario Marcello selaku peneliti di Indonesian Honeynet Project”.

Workshop dilakukan selama sehari untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa UII, khususnya Mahasiswa Magister Teknik Informatika konsentrasi Forensika Digital dengan tema tentang honeynet dan malware analysis.

IHP juga menyediakan peta serangan malware secara public dan juga menyediakan data statistik serangan malware di Indonesia. “Honeypot adalah sistem keamanan yang mirip dengan sistem sebenarnya sengaja dirancang untuk mudah diserang, honeynet sendiri adalah server yang dibangun untuk menjalankan honeypot di beberapa negara penyerang malware, diantaranya Chine, Rusia, India” jelasnya

Yudha berharap “kedepan mahasiswa dapat mengambil intisari dari workshop ini, dan dapat menuangkan ilmu yang didapat menjadi ide-ide penelitian di bidang keamanan komputer