Dr. Zaroni

Head of Consulting Division Supply Chain Indonesia / Dosen Prodi Teknik Industri Program Magister FTI UII

 

Pandemik Covid-19 telah memengaruhi semua ekosistem kehidupan dan ekonomi. Tidak hanya kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Pandemik ini berimbas pada kemandekan ekonomi. Kita dipaksa memaknai ulang sesuatu yang telah menjadi kebiasaan atau normal. Kita memasuki era kenormalan baru (new normal)

Seberapa lama Pandemik Covid-19 ini? Tergantung pada efektivitas pengendaliannya. Berbagai skenario pengendalian penyebaran Covid-19 dan perkiraan puncak siklus telah banyak diprediksi. Salah satunya, prediksi Budi Sulistiyo et al yang telah merilis laporan Pemodelan Multiskenario dan Rekomendasi Strategi Pengendalian Penyebaran Covid-19 di Indonesia (2020) menyebutkan bila skenario physical distancing diterapkan cukup moderat, maka perkiraan akhir siklus akan berakhir 13 November 2020 dengan perkiraan akumulasi kasus terkonfimasi positif Covid-19 sebanyak 43.130 kasus.

Sebaliknya, bila skenario physical distancing diterapkan longgar, diperkirakan akhri siklus baru berakhir 18 Maret 2021. Dampaknya, akumulasi kasus yang terkonfirmasi menjadi 1.892.000 kasus, dengan perkiraan puncak siklus terjadi pada 12 Juli 2020 dengan puncak kasus harian mencapai 14.720. Mencermati berbagai skenario dan perkiraan penyebaran Covid-19 ini, isu penting yang perlu menjadi perhatian kita adalah Bagaimana kita merespon dan melakukan pemulihan. Bagi para pengusaha dan pemimpin bisnis, bagaimana melindungi keselamatan pekerja? Bagaimana tetap menjaga operasional dan menyediakan layanan kepada pelanggan? Dan bagaimana tetap menjaga keberlangsungan (going concern) perusahaan? Bagaimana pengaruh Pandemik Covid-19 terhadap sektor usaha? Dampaknya luar biasa.

Pada kondisi sebelum Covid-19 ditemukan, semua sektor usaha berjalan normal. Penjualan meningkat seiring dengan peningkatan pelanggan, baik pelanggan lama maupun penambahan pelanggan baru. Selain itu, umumnya, peningkatan penjualan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pasar. Semua berlangsung normal. Peningkatan penjualan mendorong peningkatan produksi atau pembelian barang. Peningkatan produksi menciptakan kegiatan pekerja untuk mengoperasionalkan sektor usaha, baik industrii, pertanian, perdagangan, keuangan, dan semua sektor yang mendukukung kegiatan usaha

Kegiatan usaha dan ekonomi yang normal mulai terguncang sejak Covid-19 ditemukan, menyebar, dan menjadi Pandemik. Sektor usaha pun menurun tajam seiring semakin ketatnya pengendalian penyebaran Covid-19, baik dalam skala rumah tangga, usaha, daerah, nasional sampai global. Para pengusaha dan pemimpin bisnis menghadapi dan menjalankan protokol survival, bertahan untuk tetap hidup. Masa pandemik dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mendorong banyak pengusaha untuk melakukan pemulihan dan lolos dari survival, meski kondisi belum normal.

Kondisi ketidaknormalan ini akan menjadi normal baru (new normal), dengan perubahan model bisnis baru yang kini telah biasa mereka jalankan selama survival di masa Pandemik Covid-19. Para pengusaha pun mengembangkan berbagai strategi pemulihan dan penyiapan untuk tetap tumbuh pada masa post Covid-19. Masa di mana kondisi “normal pada ketidaknormalan” atau next normal. Pandemik Covid-19 men-disrupsi banyak sektor usaha (BI, Doode dalam Liputan 6, 2020).

Banyak sektor usaha yang tertekan atau sulit bertahan dari disrupsi Covid-19 ini, contohnya sektor usaha penerbangan, restoran, hotel, konstruksi, industri pengolahan, pertambangan, energi khususnya bahan bakar, ekspor komoditi tambang, dan lain-lain. Sektor usaha ini mengalami penurunan permintaan yang sangat tajam. Sektor usaha yang masih bisa bertahan pada masa Pandemik Covid-19 ini, misalnya sektor kehutanan, perikanan, listrik, gas, air bersih, pengangkutan barang, pertanian, perkebunan, dan peternakan. Pada sektor usaha ini umumnya masih bisa bertahan, mengingat permintaan akan jasa dan produk dari sektor ini masih normal.

= =

Sumber dan selengkapnya TruckMagz Ed. Agustus 2020, halaman 42 – No 74 / VI / AUGUST 2020: https://truckmagz.com/login/

Prof. Fathul Wahid, ST., M.Sc., Ph.D

Rektor Universitas Islam Indonesia

– – –

Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadan di tahun ini. Tak terasa, tamu agung tersebut telah meninggalkan kita. Ramadan telah menjadi katalis — meminjam konsep dalam reaksi kimia — bagi semua mukmin untuk meningkatkan amal. Salat semakin tepat waktu ditegakkan, salat sunah semakin banyak ditunaikan, Al-Qur’an semakin tertib didaras, doa semakin sering dilantunkan, sedekah semakin rajin dijalankan, dan amarah semakin kuat dikekang. Singkatnya, Ramadan menghadirkan atmosfer yang kondusif untuk berbuat baik.

Katalis untuk istikamah

Dengan katalis Ramadan, proses reaksi dalam praktik keberagaman kita akan semakin cepat terjadi dan membekas. Ketika kebiasaan dalam Ramadan sudah menjadi bagian dalam keseharian kita, maka energi yang diperlukan untuk aktivasi niat baik menjadi amal bajik, tidak lagi tinggi. Yang dihasilkan adalah sikap baik yang istikamah alias konsisten. Inilah yang membimbing kita ke dalam derajat takwa, tujuan ultima dari puasa Ramadan.

Konsistensi dalam beriman dan beramal bajik inilah yang juga menjadi jaminan hidup yang baik (hayyah thoyyibah) (QS 16:97), yang ditandai tiga indikator: sejahtera (lahum ajruhum inda rabbihim), damai (wa laa khaufun alaihim), dan bahagia (wa laa hum yakhzanuun) (QS 2:62; 46:13).

Apakah bersikap konsisten mudah? Tidak. Karenanya dibutuhkan ikhtiar untuk menjaganya. Berbuat bajik mudah, jika hanya dilakukan kadang kala. Bersikap jujur tidak sulit, jika hanya dijalankan sekali-dua kali. Menolong orang pun tidak berat, jika dibutuhkan ketika hati bahagia dan rezeki longgar. Tetapi, selalu berbuat bajik, senantiasi jujur, dan tak lelah menolong orang, membutuhkan keteguhan. Inilah istikamah.

Ikhtiar lain dalam menjaga istikamah adalah dengan tidak lelah mendekatkan diri dengan pengingat. Carilah lingkungan yang menyediakan sistem peringatan dini yang senantiasa hadir dengan nasihat: saling menasihati untuk menetapi kesabaran, untuk tak lelah menyebar kasih sayang, dan untuk menaati kebenaran (QS 90:17; 103:3). Nasihat akan menjadi pengingat ketika kita lupa (QS 7:179).

Pandemi yang menyucikan hati

Suasana Ramadan dan Idulfitri tahun ini pun kita lalui dengan suasana yang tidak biasa. Pandemi Covid-19 telah memaksa kita mengerjakan banyak hal dari rumah: bekerja, belajar, dan beribadah lain. Berada di rumah untuk menjauhi penyakit juga merupakah ibadah, karena ini adalah perintah Rasulullah (Sahih al-Bukhari 5728).

Jika beragam ikhtiar sudah dijalankan, ternyata masih terpapar penyakit dan mati, Rasulullah menyatakanya sebagai kematian yang syahid (Sahih al-Bukhari 5732). Jadi, di dalam rumah, tidak bepergian meninggalkan atau memasuki wilayah pandemi bukan semata imbauan pemerintah. Ini adalah perintah agama. Luruskan niat.

Selama bekerja dari rumah atau menemani anak belajar dari rumah, banyak hikmah yang kita petik. Kita semakin menghargai pekerjaan yang diamanahkan kepada kita. Kita juga semakin mengapresiasi bagaimana para guru sangat membantu dalam mendidik anak-anak kita. Kita semakin menyadari bahwa hidup berdampingan secara rukun dengan orang lain sangat bermakna.

Refleksi yang tulus atas keadaan yang ada, insya Allah akan sampai pada kesimpulan bahwa pandemi ini dapat juga kita jadikan momentum untuk menyucikan diri. Kita memang diminta menjaga jarak, tetapi jangan lupa untuk menjaga solidaritas sosial. Kiat bisa sisihkan sebagian harta untuk yang membutuhkan, energi untuk mengedukasi publik, atau jaringan untuk membantu memasarkan produk sahabat kita. Jangan pernah abaikan amal bajik, sekecil apapun.

Semoga kondisi seperti ini di tengah Ramadan sebagai katalis dalam beribadah akan membawa kita ke tingkatan baru sebagai manusia, yang lebih terasah semua sudut kemanuasiannya (cf. QS 7:179; 25:43-44). Di tengah pandemi, takbir yang kita kumandangkan ketika Idulfitri pun semakin bermakna, karena mengingatkan kita betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta yang Maha Besar.

Semoga Allah masih berkenan mempertemukan kita dengan Ramadan mendatang, sebagai penyuci jiwa jika masih terkotori (HR Muslim, Riyadl Ash-Shalihin 1149). Semoga Allah selalu menjauhkan kita dari anasir jahat yang menggoda tak henti untuk menjaga kesucian hati.

Inilah hakikat idulfitri: kembali suci.

Refleksi Idulfitri 1441 H

Sumber:  Pojok Rektor UII

Prof. Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia dan Ketua Aptisi Wilayah V DIY

= = =

Hanya 11 persen PTS yang masih bertahan tanpa masalah serius sampai Desember 2020.

Tak seorang pun tahu pasti kapan pandemi Covid-19 berakhir. Beragam prediksi muncul dengan pendekatan aneka rupa. Hasilnya pun bervariasi. Ada yang menyebut Juni, September, Desember,  bahkan selepas pengujung 2020.

Namun, semua tampaknya sepakat kalau pandemi sudah meninggalkan dampak luar biasa di banyak sektor, tak terkecuali di perguruan tinggi swasta (PTS). Tentu, semua PTS berharap yang terbaik, tetapi harus bersiap untuk yang terburuk.

Selama ini, PTS telah membantu negara dengan luar biasa meski kadang dipandang sebelah mata. PTS telah meningkatkan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi (APK). Data termutakhir Badan Pusat Statistik pada 2019 menunjukkan angka 30,28 persen.

Artinya, hanya 30,28 persen warga Indonesia berusia 19-23 tahun yang mengenyam bangku kuliah. Data pada pengujung 2019 merekam, dari 7.339.164 mahasiswa, 60 persennya dilayani PTS. Bayangkan jika semua PTS tutup. APK akan anjlok menjadi 12,08 persen.

Lebih penting dari angka itu, PTS di seluruh penjuru Indonesia, berandil dalam pemerataan akses pendidikan tinggi ketika tangan negara belum mampu hadir. Pendidikan tinggi untuk negara sebesar Indonesia, bukan hanya soal kualitas, melainkan juga pemerataan akses.

Jika negara sepakat, pendidikan tinggi adalah salah satu penghasil aktor peradaban masa depan. Tidak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan PTS.

Banyak orang tak sadar, ketika PTS hidup sehat dampaknya luar biasa bagi publik. Anggaran mahasiswa yang dikelola PTS proporsinya jauh lebih kecil dibandingkan yang beredar di publik untuk menggerakkan roda perekonomian. Mulai dari bisnis indekos sampai kuliner.

Nah, pada saat pandemi seperti ini, PTS termasuk yang sangat terdampak. Berbeda dengan PTN yang masih mendapatkan kucuran dana pemerintah, termasuk untuk menutup belanja pagawai. Harus diakui, porsi terbesar anggaran PTS masih berasal dari mahasiswa.

Ketika sumber penghasilan penanggung biaya pendidikan terdampak, ini memengaruhi pemasukan PTS. Penulis percaya, PTS cukup terbiasa mengelola hal seperti ini, tetapi pandemi kali ini berbeda.

Jika berkepanjangan, dampaknya sangat dahsyat. Survei pekan lalu yang melibatkan 66 PTS di Yogyakarta menegaskan sinyalemen ini. Hanya 11 persen PTS yang masih bertahan tanpa masalah serius sampai Desember 2020.

Survei ini tidak hanya melibatkan PTS yang sedang berkembang, tetapi juga PTS besar dengan lebih dari 20 ribu mahasiswa. Jangan salah mengira, meskipun tengah menghadapi masalah, PTS mempunyai kepedulian tinggi terhadap yang terdampak pandemi.

Hanya 11 persen PTS yang masih bertahan tanpa masalah serius sampai Desember 2020.

Untuk memperpanjang umur, PTS menjalankan beragam jurus, termasuk membatalkan beragam program, realokasi anggaran, menurunkan insentif, memotong besaran gaji, sampai menunda pembayaran gaji. Pilihan yang tak mudah tetapi harus ditunaikan.

Masalah semakin terasa ketika saat ini, musim admisi mahasiswa baru juga sedang berjalan. Kegagalan dalam hal ini berdampak panjang. Tidak hanya untuk setahun, tetapi juga bisa mencapai empat tahun atau bahkan lebih.

Respons negara

Jika negara sepakat, pendidikan tinggi adalah salah satu penghasil aktor peradaban masa depan. Tidak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan PTS, kecuali jika negara mempunyai pandangan lain terhadap PTS.

Semoga tak ada pemangku amanah publik yang mencibir: PTS manja atau PTS kok ingin seperti PTN. Penulis yakin, negara tidak seperti itu. Seandainya negara mengulurkan tangan dengan beragam kebijakan yang tepat, PTS bersukacita jika diminta pendapatnya.

Meski pandemi menjadi momentum, kebijakan negara seharusnya dibuat untuk waktu yang panjang. Banyak yang bisa dilakukan, bahkan jika pilihannya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Negara dapat melonggarkan beragam kebijakan. Seumpama pemangku amanah publik sepakat PTS dibangun di atas premis membantu negara mencerdaskan kehidupan bangsa maka kebijakan perpajakan, misalnya, akan lebih bersahabat.

Sampai hari ini, mimpi PTS mempunyai dana abadi masih menjadi kemewahan karena kebijakan yang tidak berpihak. Alih-alih memberikan lahan subur untuk tumbuhnya PTS, kebijakan ini justru sering memasang mata curiga kepada PTS.

Energi pemimpin PTS tak jarang tersita untuk isu ini. Andaikata Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi menyadari, tak mudah bagi PTS merekrut dosen saat pandemi maka syarat rasio dosen dan mahasiswa untuk perpanjangan akreditasi, tak diberi tenggat singkat.

Meski demikian, jika rasio tidak ideal, yakinlah PTS tidak mempunyai niat jahat dan menjalankan PTS asal-asalan serta abai terhadap kualitas.

Jika saja jeritan  PTS di pelosok Indonesia yang tertatih-tatih dengan pembelajaran daring didengar, penulis yakin, negara akan mengajak diskusi dan hadir dengan beragam alternatif solusi, termasuk memberi bantuan koneksi internet.

Indonesia tidak hanya Pulau Jawa dan kota besar, apalagi sebatas Jakarta. Jangankan koneksi internet andal, jaringan listrik stabil pun masih menjadi kemewahan di banyak daerah. Daftar di atas, hanya merangkum beberapa pesan PTS yang sudah lantang bergaung.

Penulis yakin negara sensitif dan mendengar pesan PTS. Jika ini terjadi, harapan jadi kenyataan. Jika tidak, daftar mimpi PTS akan semakin panjang: seandainya, seumpama, andaikata, dan jika saja. Ah, dunia lebih indah, seandainya PTS tak hanya punya andaikata.

Sumber: Republika

Ismail Fahmi, Ph.D – Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Founder

= =

 

Masalah kebocoran data pengguna Tokopedia tidak berhenti sampai di situ. Pakar media sosial dari Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, melihat dampak dari kebocoran data yang tersebar luas di jagat maya akan memiliki efek yang besar.

Ia mengatakan aspek terpenting dari kasus tersebut bukanlah soal password akun Tokopedia, melainkan data-data pribadi yang bocor, berisi email, nama, alamat, tanggal lahir, dan nomor telepon yang dapat digunakan untuk keperluan lain.

“Tujuan saya, biar kita aware apa dampak dari data yang terbuka bebas ini. Kita hanya sibuk soal login ke Tokopedia, padahal aman. Kita lupa bahaya hal lain yang mungkin lebih besar,” jelas Ismail, kepada kumparan, Senin (4/5).

Ismail menuturkan data-data personal yang diambil dari kasus kebocoran tersebut bisa dipakai untuk profiling, scamming atau phishing. Dari data yang dimiliki bisa saja seseorang berpura-pura menjadi pihak Tokopedia yang menghubungi pengguna untuk mendapatkan lebih banyak informasi dari data pribadi tersebut.

“Misalnya email tersebut digunakan untuk situs atau aplikasi lainnya yang butuh verifikasi. Data tersebut dipakai untuk hal-hal seperti ini, untuk scam. Itu yang bahaya,” jelasnya.

Selain itu, ada banyak pemanfaatan data personal yang bisa digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya mengajukan pinjaman online (pinjol). Dengan data yang dimiliki berupa nama, alamat, email, nomor telepon bisa saja mengajukan pinjol atas nama pengguna Tokopedia yang datanya bocor.

Ismail menekankan pentingnya perlindungan data pribadi dan selalu mewaspadai apa yang dilakukan di dunia maya. Pergantian password secara berkala dan menggunakan two factors authentication disarankan untuk mengamankan akun internet.

“Saya hanya ingin mengajak masyarakat aware akan pentingnya ‘perlindungan data pribadi’. Kalau tidak mengalami atau melihat sendiri betapa mudahnya data-data itu dimanfaatkan, masyarakat akan anggap enteng soal kebocoran data ini. Semoga makin waspada,” pungkasnya.

Sumber: Kumparan

Dr Zaroni., CISCP., CFMP – Finance & Humas Capital Director, PT Pos Logistik Indonesia/Dosen Prodi Teknik Industri Program Magister FTI UII

= = =

 

Berbagai skenario pengendalian penyebaran Covid-19 dan perkiraan puncak siklus

Stay at home, economy:

  • Belanja bahan makanan (groceries)
  • Jasa pesan antar makanan
  • Remote working, layanan streaming, media dan telekomunikasi, dan pembelajaran online.
  • Jasa penyimpanan data, layanan farmasi online,
  • Layanan kebersihan, dan fitness dari rumah.
  • Pilar stay at home adalah Logistik dan E-commerce

Respon

  • Reflex, don’t be a boiled frog
  • Act, survival
  • Imagine, think new normal

Cash flow survival “Understanding cash flow is key”

  • Creating a revised budget
  • Rapid AR collection
  • Cutting unnecessary expenses
  • Prioritizing necessary expenses
  • Deal with creditors and debtors
  • Searching for other sources of revenue.
  • Don’t lose sight of the long-

Jadi, bagaimana kita merespon Covid-19?

  • Bertahan
  • Bersabar
  • Terus bergerak

Detail unduh: Surviving and Preparation The Covid-19: Supply Chain & Logistics Strategy – | versi live youtube  disampaikan saat diskusi online yang diadakan oleh IKATI UII  (03 Mei 2020).

 

Dr. Yudi Prayudi, Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) Universitas Islam Indonesia

= = =

 

Zoom adalah sebuah aplikasi yang tiba-tiba melejit popularitasnya sejalan dengan munculnya kebutuhan video conference untuk mendukung aktivitas Work from Home, termasuk kegiatan belajar mengajar. Review tentang keunggulan Zoom dibandingkan dengan aplikasi video conference lainnya sebenarnya sudah mulai banyak disampaikan sejak 2 tahun lalu. Zoom mendapatkan momen terbaik untuk dikenal luas ketika pandemi corona merebak yang memaksa untuk mengubah aktivitas fisik sehari menjadi aktivitas berbasiskan pada Internet. Naiknya popularitas Zoom tidak lepas dari berbagai kemudahan yang ditawarkan Zoom dalam memfasilitasi video conference baik yang berbasis komputer maupun handphone.

Namun demikian, meningkatnya popularitas Zoom juga menjadi perhatian dari pelaku dan pengamat keamanan komputer. Sejak awal Maret 2020 ketika mulai banyak negara menerapkan Work from Home maka sejak itu pula pengguna aplikasi video conference Zoom meningkat dengan tajam. Sejak itu pula, berbagai issue keamanan Zoom mulai ramai dibahas dan dijadikan topik utama berbagai media terkemuka. Salah satu issue yang sangat menghebohkan adalah laporan dari perusahaan keamanan online Cyble yang menyatakan bahwa terdapat 530.000 akun Zoom yang diperjual belikan di pasar dark web. Laporan tersebut tentunya sangat mengagetkan banyak pihak. Bagi masyarakat awam yang selama ini sebagai pengguna Zoom tentunya laporan tersebut akan menambah kekhawatiran akan kelangsungan aktivitas berikutnya dalam menjalankan Work from Home. Namun benarkah demikian rentannya aplikasi Zoom sehingga hacker mampu meretas sekian banyak akun pengguna Zoom?

Sayangnya, media tidak mengungkap sisi lain dari laporan dari perusahaan keamanan online Cyble tersebut. Laporan tersebut sebenarnya memberikan ulasan juga tentang bagaimana teknik yang memungkinkan hacker bisa mendapatkan 530.000 akun tersebut. Ternyatanya tekniknya adalah menggunakan Password Stuffing atau dikenal juga dengan Credential Stuffing. Dalam hal ini, Credential Stuffing adalah metode yang digunakan oleh hacker untuk melakukan pembobolan akun dengan mengandalkan informasi atau data sensitif yang sebelumnya sudah tersedia di ranah publik. Teknik ini sebenarnya adalah teknik sederhana, yaitu memanfaatkan akun-akun yang sudah pernah jebol sebelumnya dari berbagai situs untuk kemudian digunakan kembali untuk menjebol aplikasi Zoom. Pengertian lainnya dari Password Stuffing adalah Recycling Passwords, yaitu penggunaan password yang sama untuk berbagai layanan yang berbeda.

Merujuk pada situs https://haveibeenpwned.com/ yang dikelola oleh seorang pakar keamanan web dari Australia bernama Troy Hunt, saat ini tercatat sekitar 9,5 milyar akun yang berhasil diretas yang berasal dari 495 website. Akun yang diretas umumnya adalah alamat email dan passwordnya. Jumlah akun yang berhasil diretas oleh hacker diyakini lebih besar dari yang dipublikasikan oleh Troy Hunt melalui situs tersebut. Data yang dipublikasikan tersebut hanya bersumber dari informasi publik atau yang didapat melalui forum-forum underground. Sementara beberapa basis data lainnya memang tidak dipublikasikan luas dan hanya beredar secara terbatas dalam kelompok kelompok kecil hacker. Sehingga jumlah akun dan websitenya akan lebih banyak dibandingkan dengan publikasi pada website tersebut.

Tidak sedikit diantara kita yang tidak menyadari bahwa akun e-mail dan password yang kita miliki adalah termasuk salah satu dari data yang berhasil diretas tersebut. Pada sisi lain, salah satu kelemahan yang sangat disadari oleh sebagian besar user sistem adalah menggunakan pasangan e-mail dan password yang sama untuk berbagai aplikasi lainnya. Alasan kemudahan dan kepraktisan menjadi alasan utama mengapa umumnya user menggunakan pasangan e-mail dan password yang sama untuk berbagai aplikasi yang berbeda. Hal ini sesuai dengan fakta dari sebuah survey pada tahun 2018 yang dirilis oleh Security Boulevard, disebutkan bahwa 59% responden selalu menggunakan username dan password yang sama untuk semua aplikasi yang digunakannya. Sementara alasannya mengapa menerapkan username dan password yang sama pada semua aplikasi, 61% jawabannya adalah karena takut lupa password bila setiap aplikasi harus menggunakan password yang berbeda.

Hal itulah yang sebenarnya terjadi dengan kasus diretasnya 530.000 akun Zoom. Hacker memanfaatkan data basis akun yang telah terpublikasi sebelumnya untuk kemudian menggunakannya kembali untuk meretas aplikasi Zoom. Dengan kata lain sebenarnya hal ini bisa terjadi pada aplikasi apa saja, tidak hanya terbatas pada aplikasi Zoom. Hanya karena Zoom sedang menjadi pusat perhatian dari seluruh komunitas siber, maka aktivitas Password Stuffing dilakukan pada Zoom. Bila memang diretasnya sekian banyak akun Zoom tersebut adalah menggunakan aktivitas Password Stuffing, maka kelemahan sebenarnya terletak pada user-nya itu sendiri, bukan pada aplikasi Zoomnya. Untuk itu, pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakan username dan password yang aman harus menjadi dasar bagi setiap user agar bisa lebih tenang dan nyaman dalam menggunakan aplikasi apapun, termasuk aplikasi Zoom.

Dalam dunia keamanan komputer, Password Stuffing hampir sama dengan teknik Brute Force Attack, alias teknik coba-coba untuk menjebol sebuah sistem. Hanya saja Brute Force Attack sifat serangannya adalah tanpa konteks dengan string acak dan mendasarkan pada pola umum yang digunakan atau kamus frasa umum dalam membuat password. Sementara Password Stuffing mendasarkan teknik coba-cobanya pada database user dan password yang pernah digunakan sebelumnya. Peneliti keamanan menyebutkan bahwa tingkat keberhasilan Password Stuffing lebih tinggi dibandingkan dengan teknik Brute Force Attack. Bahkan dengan teknik keamanan web modern, Brute Force Attack semakin kecil kemungkinannya untuk berhasil. Namun tidak demikian dengan Password Stuffing, pasangan akun dan password seseorang dapat dengan mudah digunakan pada aplikasi target bila memang akun tersebut terdaftar sebagai pengguna aplikasi tersebut.

Solusi terhadap Password Stuffing adalah mengganti password yang lama dengan password baru yang berbeda sama sekali. Kemudian terapkan secara konsisten kombinasi password yang kuat yang memuat huruf besar, huruf kecil, angka dan karakter. Sementara untuk memudahkan penerapan password yang berbeda-beda untuk setiap aplikasi yang kita gunakan, maka gunakan aplikasi sejenis password manager untuk menyimpan dan mengelola username dan password kita pada aplikasi yang berbeda-beda. Dengan demikian, apabila kita pengguna aktif aplikasi video conference Zoom, maka untuk meyakinkan diri kita bawa akun kita tidak termasuk kedalam data 530 ribu akun yang retas oleh hacker, maka segera ganti password. Username dan password adalah kunci terhadap segala aktivitas pada dunia siber, maka berikan perhatian pada kedua hal tersebut agar kita tidak menjadi korban dari upaya-upaya peretasan akun yang akan mengganggu ketenangan, kenyamanan dan keamanan dalam beraktivitas di dunia siber.

Yogyakarta, 19 April 2020

 

 

Prof Fathul Wahid, ST, M,Sc., Ph.D,  Rektor Universitas Islam Indonesia

= =

 

Ujang, Ketua OSIS SMA Tunas Muda sedang galau. Masa pengabdiannya sudah hampir pungkas. Setahun mengabdi memimpin kawan-kawannya terasa sangat singkat. Waktu luang di sela menunaikan kewajiban sebagai siswa SMA digunakannya untuk mengasah diri: menjadi pemimpin muda.

Ujang mengasah kemampuan komunikasi. Saat ini, dia cukup lihai menjadi pembicara publik. Kemampuan menulisnya pun semakin tajam. Dia terbiasa menghadapi kawan-kawannya yang beragam. Dia lebih terbiasa menjadi pendengar. Dia sadar, sebagai pemimpin tidak cukup dengan kemampuan berbicara, tetapi perlu dilengkapi dengan menjadi pendengar yang baik.

Ketika banyak kawannya kesulitan membagi waktu di antara bejibun tugas sekolah, Ujang seakan santai, karena terbiasa mengelola waktu dengan efektif. Dia sadar, menjadi pemimpin harus berpikir beberapa langkah di di depan. Dia harus lebih sensitif dengan perkembangan yang ada.

Intinya, di penghujung masa pengabdiannya, Ujang merasa menjadi manusia baru. Manusia yang lebih siap bertumbuh dan adaptif di beragam lingkungan.

Tetapi mengapa dari sekian banyak keuntungan menjadi aktivis, Ujang kesulitan mendapatkan kader yang akan menggantikannya? Banyak adik kelasnya yang masih galau dan bertanya: “Ngapain repot-repot menjadi aktivis? Toh tidak ada yang menghargai. Waktu untuk main tersita.”

Ujang teringat dengan Greta Thunberg, aktivis lingkungan muda asal Swedia yang sangat berani itu. Majalah TIME menobatkannya menjadi Person of the Year 2019. Terlintas juga Malala Yousafzai asal Pakistan yang memperjuangkan hak pendidikan kaum hawa. Malala, pada 2013, dinobatkan majalah TIME sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di muka bumi.

Mata Ujang menerawang kosong, sampai dia mendapatkan informasi admisi mahasiswa baru sebuah universitas di lereng Merapi. “Aha, eureka!”, teriak Ujang. “Sekarang saya punya tambahan amunisi mengajak adik kelas untuk menjadi aktivis”, gumamnya.

Pertanyaan: universitas manakah yang menghargai para aktivis SMA tersebut?

Petunjuk: pmb.uii.ac.id/ppm

Catatan: Cerita di atas fiktif belaka. Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan, kecuali  lokasi sebuah universitas di lereng Merapi yang memang disengaja.

Sumber : Facebook Fathul Wahid

Mukhammad Andri Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D. Kepala Badan Sistem  Informasi (BSI) Unversitas Islam Indonesia (UII)

= = =

 

Ini bukan posting berbayar, dan bukan karena UII juga pakai Zoom. Tapi untuk sekedar meluaskan pandangan, agar juga tidak menelan mentah-mentah semua yang ada di internet. Always take everything with a grain of salt, termasuk tulisan saya ini tentu saja.

  1. Zoombombing. Ini sudah menjadi word kayaknya hehe. Yakni menampilkan “ilicit” video di tengah meeting berlangsung. Ada orang-orang tidak dikenal masuk ke kanal meeting Zoom, terus menampilkan video-video yang tidak “baik”. Hal ini terjadi karena banyak orang yang menyebarkan link Zoom di publik, kemudian ada orang-orang yang join di meeting tersebut. Fitur share link bukan hanya dimiliki oleh Zoom, tapi hampir semua conferencing media memiliki hal yang sama. Potensi “zoombombing” pun bisa terjadi di seluruh platform conferencing yang lain. Isu utamanya bukan Zoom yang “bolong”, tapi karena orang ceroboh membuka link conferencing ke tempat publik. Platform lain? Ya tetap punya kerawanan yang sama, asal public link dibagi. Setidaknya sekarang di Zoom waiting room di-encourage, ada lock meeting, dlsb untuk mencegah zoombombing. Mengapa kok di platform lain nggak kedengaran isu ini? Karena mereka penggunanya sedikit hehe. Kalau mereka banyak, mungkin isu sama pun akan terjadi.
  2. Password Zoom bocor sebanyak 500.000. Jika merujuk ke beragam sumber yang ada, sebenarnya yang terjadi karena orang-orang menggunakan password yang sama di akun-akun mereka. Ya email, ya sosial media, ya Zoom. Akibatnya para “hacker” bisa masuk ke akun-akun Zoom tersebut. Same old lazy people who have been using the same password again. Kalau mereka pakai akun itu di Google, Microsoft, Cisco, dlsb gimana? Ya sama aja 🙂
  3. Zoom tidak end-to-end encryption. Betul. Tapi begitu juga mayoritas video conferencing yang lain. Hanya sebagian kecil, dan itu pun tidak aktif by default. Salah satu yg ada fitur end-to-end adalah Cisco Webex. So far, Google Meet? Nope. Microsoft Teams? Nope. Jitsi? AFAIK, Nope.
  4. Privacy Issue, attendance tracker. Ini tidak disukai banyak orang karena bisa tahu kalau ada peserta meeting yang Idle. Dosen suka fitur ini, karena tahu kalau mahasiswanya ngeZoom tapi malah ditinggal pergi (entah ke mana gitu) hehehe. Conference lain? Ada juga, Cisco WebEx sampai beberapa waktu lalu pun ada. Tapi fitur ini ditentang oleh banyak pegiat privasi, sehingga akhirnya fitur ini dibuang (dan dosen jadi sedih kembali hihihi)

Itu beberapa isu yang sering dimunculkan. Tentu Zoom tidak berarti tidak ada masalah, faktanya dia di-ban oleh Tesla dan Google (aneh aja sih kalau Google pake Zoom wkwk, orang dia punya platform sendiri) – meski untuk kepentingan individual, employee masih boleh pake Zoom.

Tapi setidaknya mereka mulai terbuka dengan beragam masukan. Wajar aja, tiga bulan lalu mereka cuma 10 juta pengguna, dan hari ini 200 juta pengguna. Anak kecil tiba-tiba jadi bongsor, tentu banyak pihak jadi shock, termasuk zoom sendiri.

Btw, sampai hari ini, kalau saya meeting sama partner-partner UII dari LN, semua juga masih pakai Zoom 😀 termasuk pagi ini, saya diskusi sama team Coursera, mereka juga masih pakai Zoom.

sumber : Facebook Andri Setiawan

Prof Fathul Wahid, ST, M,Sc., Ph.D,  Rektor Universitas Islam Indonesia

= =

 

Tenaga kesehatan (nakes), tenaga medis dan paramedis, memainkan peran yang sangat penting dalam penanganan pandemi Covid-19. Kita sudah selayaknya angkat topi untuk mereka sebagai tanda takzim.

Benteng terakhir

Mari tempatkan nakes sebagai benteng pertahanan terakhir di kala pandemi ini. Mereka bukan pasukan yang berada di garda terdepan, seperti narasi publik yang beredar saat ini. Tidak ada yang salah dengan narasi ini, tapi ini bisa memunculkan kesadaran yang keliru.

Alam bawah sadar sebagian kita akan mengatakan: “Kita punya nakes yang berada di garda terdepan. Kita aman. Mari, kita tetap menikmati hidup: rekreasi dan bercengkerama di tengah kerumunan. Beragam berita pembubaran keramaian dan kerumuman warga oleh aparat, menjadi bukti empiris.

Bayangkan kalau kita tidak menambah kerepotan para nakes di Puskesmas dan rumah sakit. Tanpa pasien terpapar Covid-19 pun, mereka sudah mempunyai banyak pasien yang membutuhkan bantuan. Pasien Covid-19 akan menambah beban mereka, meski penulis sangat yakin mereka, para nakes, akan melakukannya dengan sepenuh hati. Nakes berhati mulia di kala seperti ini, jika tidak dapat terlibat aktif, akan terasa teriris hatinya dan lunglai nuraninya.

Benteng pertahanan terakhir itu kadang jebol karena pasien atau keluarga pasien tidak jujur. Pasien ini ibarat Kuda Troya yang digagas Odysseus untuk menjebol dan menaklukkan Kota Troya, dalam mitologi Yunani, yang langsung menyerang ke jantung pertahanan. Beberapa yang terpapar dan meninggal merupakan nakes yang tidak berada di ruang isolasi dengan protokol ketat dan bahkan direktur rumah sakit.

Garda terdepan

Lantas, siapa yang berada di garda terdepan? Kita. Ya, kita. Kita adalah bak para bidak yang menahan serangan terhadap raja dan ratu dalam permainan catur. Ketika garda terdepan terkoyak, karena bidak tidak hati-hati dalam melangkah, raja dan ratu akan berada dalam ancaman. Tenaga medis adalah para raja dan ratu yang harus kita lindungi.

Caranya? Inilah saatnya, semua orang bisa mengambil peran untuk menyelamatkan umat manusia, termasuk dengan berdiam diri di rumah, menikmati waktu bersama keluarga. Jika terpaksa atau panggilan tugas mengharuskan keluar rumah, pastikan untuk menyiapkan: imunitas yang tinggi, istikamah dalam menjaga jarak fisik, menjaga kebersihan tangan, tidak latah mengusap hidup, mulut, dan mata, serta mengenakan alat pelindung diri yang mencukupi (seperti masker).

Sebagian dari kita mungkin merasa hebat, mempunyai imunitas yang baik. Tetapi jangan lupa, di rumah, ada orang tua dan anak kecil, orang-orang terkasih, yang rentan terpapar virus. Jangan egois. Setiap risiko paparan, harus diperhitungkan, karena frasa “memutar ulang waktu” hanya ada di kamusnya Doraemon. Pertimbangan matang selalu muncul di depan. Kalau di belakang, namanya penyesalan.

Dekatkan jarak sosial

Satu hal lagi, terakhir tetapi bukan afkir. Yang diperlukan saat ini adalah menjaga jarak fisik, bukan menjaga jarak sosial. Frasa dalam imbauan WHO sudah direvisi. Secara sosial justru kita harus saling mendukung dan menguatkan. Yang kuat, bantu yang lemah. Yang berpunya, sisihkan sebagian hartanya untuk yang papa. Sisihkan juga sebagian untuk penyediaan alat pelindung diri dan perangkat pendukung kesehatan lain, untuk nakes dan warga yang membutuhkan.

Tidak kalah penting, mari sebarkan semangat optimisme yang terukur, bukan optimisme yang meninabobokan, dan sebaliknya, bukan pula pesimisme yang menggerus energi positif. Hentikan juga mengirim informasi yang menyesatkan atau meningkatkan kegalauan di media sosial. Gantilah dengan pesan positif: kitalah yang berada di garda terdepan, untuk melindungi orang-orang terkasih yang rentan, dan para nakes yang menjaga benteng pertahanan terakhir.

Selain menunaikan beragam ikhtiar, mari jangan lelah mengetuk pintu langit, dengan iringan doa, semoga wabah ini lekas sirna dari muka bumi. Setelahnya, kita akan sambut wajah yang sumringah, hati yang tawaduk, dan rasa kesetiakawanan sosial yang mengental. Kengerian akan terurai, rasa jumawa bakal sirna, dan egoisme segera tergerus. Insyaallah.

Sumber : Republika

Analis Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menggagas gerakan memakai masker di akun media sosial Twitter. Gerakan itu lahir dengan tagar 100 juta masker challenge.

Ismail menceritakan, gerakan ini muncul karena kekhawatiran penyebaran Covid-19 melalui droplet, seperti percikan dari batuk, bersin, maupun air liur pada orang yang berbicara.

Selain itu, Ismail mendapati mahalnya harga masker bedah dan N95, serta stoknya yang terbatas. Ia pernah membeli kedua jenis masker tersebut dengan harga puluhan juta untuk disumbangkan ke rumah sakit.

“Saya dapat 5 boks N95 dan 20 boks masker bedah, harganya bisa beli motor, Rp 21 juta,” kata Ismail kepada Tempo, Senin, 6 April 2020.

Ismail mengatakan, masker jenis tersebut menjadi langka karena banyak dibeli dan dipakai oleh masyarakat umum. Padahal penggunaannya diprioritaskan bagi petugas kesehatan. Kemudian tercetus ide agar masyarakat bisa menggunakan masker tetapi dari bahan yang bisa dibuat dari rumah, yaitu masker berbahan kain.

Pada 21 Maret 2020, Ismail pun mencuit sebuah utas cara mengatasi kelangkaan masker. “Di semua negara, masker langka. Thread ini buat para ibu rumah tangga yang suka njahit, dan para tukang jahit. Tukang Jahit Bergerak,” cuitnya.

Ismail pun memaparkan kajian dari Cambridge University mengenai jenis-jenis masker. Untuk partikel virus berukuran besar, yaitu 1 mikron, masker bedah memiliki tingkat filtrasi hingga 97 persen

Masih dari penelitian Cambridge University, Ismail memaparkan bahwa masker berbahan kain bisa menyaring 50 persen partikel virus berukuran 0,02 mikron. Misalnya, bahan kain pada lap piring memiliki filtrasi 73 persen, kain bantal 57 persen, dan bahan katun 51 persen.

Lihat: Video Uji berbagai Bahan Masker

Namun, bahan kain yang nyaman untuk bernafas adalah kaus berbahan katun dan kain bantal. “Jadi, dari testing di atas, antara efektivitas dan kenyamanan, para peneliti di Cambridge merekomendasikan kain yang biasa dipakai untuk cover bantal dan t-shirt katun 100 persen sebagai bahan untuk bikin masker,” kata Ismail.

Menurut Ismail, jika masker berbahan katun digandakan, maka efektivitasnya naik menjadi 71 persen. Angka tersebut bisa lebih tinggi jika diberi filtrasi tambahan berupa tisu.

Ia kemudian memberikan foto mengenai langkah-langkah membuat masker berbahan kain. Juga memberikan informasi tentang masyarakat di luar negeri yang bergotong royong membuat masker dan mengirimkannya ke rumah sakit.

Gerakannya itu pun berhasil menggerakkan masyarakat umum. Terlihat dari sejumlah cuitan masyarakat yang diunggah kembali oleh akun Ismail. Seperti @TarjoSawud_Jady yang menunjukkan foto masker hasil jahitan yang hendak dijual. Keterangan foto itu tertulis, “Secara tidak langsung gerakan bang @ismailfahmi #100JutaMaskerChallenge telah menghidupkan UMKM yang bingung di saat Corona melanda. Alhamdulillah kini sudah bisa tersenyum kembali. Semoga #Covid_19 segera reda.”

Beberapa waktu lalu, kata Ismail, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga membuat petunjuk membuat masker persis seperti yang ia tulis. “Beliau pertama kali meminta warganya bikin sendiri. Itu lima hari yang lalu sebelum BNPB,” ujarnya.

Sumber: TEMPO.CO