Kaliurang. “Orang tua atau wali dapat memahami model dan visi misi pendidikan di kampus, khususnya FTI UII, sehingga mereka dapat berperan aktif mendorong putra putrinya memperoleh keberhasilan dan lulus tepat waktu dengan hasil sesuai yang diharapkan, hal tersebut menjadi salah satu alasan diadakannya temu wali” ujar Kholid Haryono S.T., M.Kom sesaat ditemui di Auditorium KH. Abd. Kahar Muzakir Kampus Terpadu UII (4 Jumadil Awwal 1437 H / 13 Februari 2016).

 

“Karena tanggungjawab pendidikan tidak hanya oleh kampus, melainkan sinergi antara orang tua dan kampus sehingga penyamaan persepsi dan sikap terhadap pendidikan mahasiswa harus diselenggarakan bersama” imbuh Dosen Program Studi Teknik Informatika FTI UII ini.

 

Kholid Haryono, selaku Ketua Pelaksana Kegiatan menambahkan “Sosialisasi kegiatan dan aktifitas kemahasiswaan baik ditingkat Universitas dan Fakultas untuk pemahaman awal bagi orang tua wali mengenai aktifitas dan kegiatan-kegiatan putra-putrinya selama kuliah di FTI UII”.

 

“Selanjutnya juga mengenalkan lebih dekat orang tua/wali dengan program studi putra-putrinya sekaligus dialog terkait pelaksanaan belajar mengajar pada program strudi tersebut. Disamping itu juga melakukan sosialisasi unisys khusus modul/fitur orang tua/wali sebagai sistem yang dapat mendukung pengawasan dan kontrol orang tua terhadap putra-putrinya secara online” ujarnya.

 

Sesi perkenalan orang tua wali dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) mahasiswa, merupakan sesi akhir. Pada sesi perkenalan ini, khususnya bagi angkatan 2015 selaku wali mahasiswa yang ada di kampus untuk memperlancar komunikasi antara orang tua dan kampus guna mendukung keberhasilan pendidikan putra-putrinya.

 

“Dengan adanya kegiatan ini, berharap orang tua dapat mengoperasikan unisys sebagai media pengawasan orang tua ke anak. Selain itu juga Orang tua dapat mendorong dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk putra putri meraih keberhasilan” ujar Kholid Haryono.

 

“Selanjutnya Orang tua mengenal Dosen Pembimbing Akademik (DPA) sebagai wakil orang tua dikampus. Dan Orang tua dapat berkomunikasi secara aktif dengan DPA mengenai kegiatan dan masa depan putra putrinya selama mengenyam pendidikan di kampus” imbuhnya lagi.

 

Hadir berdasarkan konfirmasi sebanyak 305 orang tua mahasiswa, karena masing-masing orang tua datang tidak sendiri sehingga total yang hadir mencapai 510 orang tua.

 

Jerri Irgo

Jakarta, (UII News). “Kemajuan teknologi informasi ternyata berdampak pula pada munculnya aktivitas illegal yang mengarah pada perbuatan cybercime. Hal tersebut juga terjadi pada aktivitas usaha yang berdampak pada adanya persaingan usaha yang tidak sehat yang dilakukan oleh para pelaku usaha. Hal inilah yang mendorong Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk juga mendalami aspek hukum dari aktivitas cybercrime serta teknik pengungkapan dan pembuktiannya melalui forensik digital”.

 

Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) menyampaikan hal tersebut  di Kantor KPPU, di l. Ir. H. Juanda No. 36 Jakarta Pusat. (25 Rabiul Awwal 1437 H / 6 Januari 2016).

 

“Kedua hal tersebut akan menjadi bekal dan kemampuan yang dimiliki oleh para investigator KPPU untuk mengungkapkan sejumlah pengaduan masyarakat yang terindikasi adanya persaingan tidak sehat pada bidang usaha tertentu” imbuhnya.

 

Yudi Prayudi, M.Kom juga menyampaikan “Untuk mengetahui lebih lanjut tentang problem dan lingkup aktivitas digital investigator di lingkungan KPPU, maka dilakukan kunjungan silaturahmi ini”.

 

Selanjutnya, Yudi Prayudi, M.Kom mempresentasikan tentang aktivitas Pusfid termasuk juga memperkenalkan konsentrasi Forensika Digital, Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII. Kedua hal tersebut diharapkan menjadi media bagi penguatan pengetahuan dan ketrampilan staff KPPU dalam menjalankan aktivitasnya sebagai digital investigator.

 

Kunjungan Yudi Prayudi, M.Kom didampingi Fietyata Yudha, M.Kom, Pusat Studi Forensika Digital UII ini, diterima Hilman Pujana, Bagian Kerjasama KPPU serta sejumlah staff dari divisi Hukum dan Investigasi.

 

Hilman Pujana menjelaskan “Peran investigator digital sangat diperlukan terutama untuk membantu proses pembuktian yang mulai melibatkan penggunaan system teknologi informasi, misalnya dalam kasus lelang online. Hampir 80% kasus di KPPU yang melibatkan investigator digital adalah untuk kasus-kasus pengaduan pada aktivitas lelang online”.

 

“Selain itu, keahlian digital forensic juga diperlukan untuk keperluan saksi ahli dalam persidangan KPPU” ujar Himan.

 

Hilman Pujana mewakili KPPU sangat mengapresiasi keberadaan Pusfid serta program akademik forensika digital tersebut dan berjanji akan mencoba menyampaikan pada pimpinan KPPU untuk implementasi kerjasama kedepannya.

 

“Tantangan KPPU sendiri dalam menjalankan fungsi dan wewenangnya terkait dengan penyidikan dan pemeriksaan atas dugaan monolopi dan persaingan usaha yang tidak sehat akan semakin berat kedepannya. Karena itu, KPPU juga sangat terbuka atas berbagai bentuk kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi dalam upaya untuk mendukung dan menguatkan KPPU dalam menjalankan fungsi dan wewenangnya” ujar Hilman diakhir kunjungan tersebut.

 

Jerri Irgo

Kaliurang, (UII News). Assoc Prof. Dr. Mohd Khanafi Abd Ghani,  Universiti Teknikal Malaysia Melaka menjadi Dosen tamu pada kegiatan Kuliah Umum “The future of Health Informatics” yang diselenggarakan Pusat Studi Informatika Medis (PSIMed) FTI UII  (1 Rabiul Tsani 1437 H  /12 Januari 2016)

 

Kegiatan yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Ir. Chairul Saleh, M.Sc, Guru Besar FTI UII ini diikuti oleh Dosen di lingkungan FTI serta Mahasiswa S2 Program Magister Teknik Informatika konsentrasi Informatika Medis, bertempat di Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta.

 

Kuliah umum yang disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Dr. Khanapi menjelaskan tentang “Sepuluh Besar Kasus Kematian di Malaysia, yaitu: (i) sistem sirkulasi, (ii) sistem pernafasan, (iii) penyakit parasit dan infeksi, (iv) neoplasm, (v) sistem pencernaan, (vi) injury, poisoning, (vii) sistem genitourinary, (viii) kondisi berasal dari masa perinatal, (ix) penyakit endocrine, nutrional, dan (x) sistem syaraf”.

 

“Dari daftar tersebut nampak ada kesamaan dalam hal kasus kesehatan di antara Indonesia dengan Malaysia, meskipun prioritas kegawatannya berbeda” ujarnya.

 

Kondisi Eksisting, terdapat berbagai permasalahan dan tantangan kesehatan tersebut diupayakan diatasi melalui sumbangan teknologi dalam hal (i) menangani rekam medis secara ubiquitous, (ii) pencegahan kesalahan peresepan obat, dan (iii) mengurangi kejadian tuntutan hukum akibat kesalahan diagnosis.

 

“Selain aspek teknis, arahan bagi peneliti untuk riset juga hendaknya melakukan observasi atas perubahan gaya hidup dan memahami perubahan tuntutan dari pasien” pungkasnya.

 

Jerri Irgo

Teknik Industri sebagai suatu sistem integrator pada masa mendatang akan lebih besar lagi peranannya dengan semakin dikembangkannya konsep Computer-Integrated Manufakturing (CIM), tuntutan seorang Profesional Teknik Industri pada masa yang akan datang akan memainkan dua peranan, yaitu sebagai sistem integrator dan sebagai agen perubahan,

 

“Tuntutan tersebut,  telah disiapkan oleh Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia  (MTI PPs FTI UII), dengan keunggulannya, yaitu Program Double Designation yang menginterasikan gelar akademik dengan sertifikasi” ujar Dr. Imam Djati Widodo, Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, menyampaikan hal tersebut saat melakukan silaturahmi dan kunjungan kerja ke Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Nahdatul Utama Al Ghazali (UNUGHA) di Cilacap Jawa Tengah (26 Rabiul Tsani 1437 H / 6 Februari 2016)

 

“Selain akan mendapat gelar akademik Magister Teknik (MT), juga akan mendapatkan sertifikasi Certified International of Project Manager (CIPM) serta American Suply Chain Analyst (ASCA)” imbuhnya

 

“Kiat-kiat meraih sukses di dalam merintis karier seorang profesional selain meningkatkan kompetensi dengan melanjutkan Studi (S2/S3), juga karena menguasi secara keilmuan Teknik Industri. Peluang pengembangan ilmu dan profesi keteknik industrian masih sangat besar” ujar Dr. Imam Djati Widodo yang juga sebagai Dosen Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia ini.

 

Dalam kunjungan tersebut, bertempat di Kampus UNIGHA, Jl. Kemerdekaan Barat No 15 Kesugihan Kidul, Cilacap – Jawa Tengah Indonesia, delegasi Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana (PPs) FTI UII disambut Soiman, SH., MH, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Bidang Kemahasiswaan, Mengelola Kebijakan Kemahasiswaan dan hubungan Kerjasama Eksternal Universitas didampingi Amin Sykron, ST., MT, Dekan FTI UNUGHA serta Ketua Program Studi Teknik Kimia FTI UNIGHA.

 

Adapun delegasi MTI PPs FTI UII, tampak hadir Agus Mansur, ST., MEngSc., Sekretaris PPs FTI UII dan Koord. Magister Teknik Industri, M. Ragil Suryoputro, ST., MSc.

 

Jerri Irgo

Siapa dosen idolamu?

 

Bagi Teuku Didik Sudyana, Dosen STMIK-Amik Riau yang sedang menempuh S2 di Magister Teknik Informatika PPs FTI UII ini mempunyai penilaian tersendiri, untuk menjawabnya dan baginya Fathul Wahid, Ph.D dan Yudi Prayudi, S.Si., M.Kom merupakan dosen idola yang selalu memberikan inspirasi.

 

“Kalau Fathul Wahid, Ph.D jadi idola waktu semester 1, ketika beliau ngajar metode penelitian, cara penyampaian materinya santai, bersahaja namun membuat terkagum-kagum ketika beliau berbicara. Terus selesai kuliah mulai “kepoin” beliau, mencari segala informasi tentang dirinya, ternyata beliau orang yang sangat hebat, mulai dari cerita kecilnya yang susah, cerita dapat kerja di UII, bahkan sampai S3 ke Agder” jelasnya melalui pesan singkat (23 Rabiul Tsani 1437 H / 3 Februari 2016 M).

 

“Membaca tulisan Fathul Wahid, Ph.D, membuat semangat menulis timbul, apalagi ketika membaca tulisan di blognya, sampai sekarang pun belajar bagaimana caranya dapat menulis seperti beliau. Apalagi ketika melihat publikasi internasionalnya yang woooww banyaknya, jadi terinspirasi nanti kalau tamat s2 dapat punya banyak penelitian seperti beliau” ujarnya.

 

Didik menambahkan “Nah kalau Yudi Prayudi, S.Si., M.Kom, mulai menjadi idola ketika semester 2, juga suka dengan cara penyampaian materinya, cara beliau berbicara dengan gaya bersahajanya, namaun beliau dikenal dimana-mana sebagai pakar digital forensik, setiap melihatnya jadi pembicara dalam acara-acara seperti peresmian kick off Asosiasi Forensik Digital Indonesia, selalu berkesan”.

 

“Yudi Prayudi, S.Si., M.Kom yang juga berjasa membuat mahasiswa digital forensik terlatih untuk selalu menulis dengan tugas-tugas yang diberikan. Walaupun beberapa mahasiswa mengeluh karena banyaknya, namun tetap menyambutnya dengan positif. Sekarang sudah menjadi terbiasa menulis. Fathul Wahid, Ph.D yang membuat semangat, Yudi Prayudi, S.Si., M.Kom yang melatih dan membiasakan menulis” ujar Didik diakhir pesan singkatnya.

 

Jerri Irgo

Jakarta. Education dan Training Expo 2016 merupakan pameran pendidikan yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknolologi dan Pendidikan Tinggi RI, diperuntukan bagi pelajar dan mahasiswa yang bertujuan memberikan gambaran serta informasi mengenai perkembangan pendidikan tinggi, baik dari perguruan tinggi yang ada di Indonesia, maupun mancanegara, pameran pendidikan yang digelar setiap tahun dan diperuntukkan bagi pelajar dan mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

 

“Pameran ini memiliki nilai strategis khususnya untuk generasi muda sebagai aset bangsa, Kegiatan ini merupakan Even yang baik dalam rangka menyongsong Generasi Emas Indonesia tahun 2045” ujar Ir. Nada Darmiyanti S.,M.Phil, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi mewakili Menteri Riset, Teknolologi dan Pendidikan Tinggi menyampaikan saat sambutan pembukaan. Rabu (16 RABIUL TSANI 1437 H / 27 Januari 2016)

 

“Pelaksanaan Education dan Training Expo 2016, mulai 27 hingga 30 Januari 2016 ini, merupakan kegiatan tahunan, saat ini sudah ke 25 kalinya, di Mulai dari tahun 1992. Pada tahun 2016, pameran ini diikuti oleh 125 Perguruan Tinggi” ujarnya

 

Booth Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) yang tergabung dalam Stand UII pada Pameran Education dan Training Expo 2016, di Exhibition Hall B Jakarta Convention Center Senayan Jakarta, selain memberikan informasi tentang program studi yang ada yaitu Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro dan Teknik Informatika, juga memberikan keunggulan mengapa harus kuliah di Yogyakarta.

 

Jerri Irgo

Kaliurang, (UII News). Pusat Studi Informatika Medis (PSIMed) Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII bekerjasama dengan Rumah Sakit Umum Islam Sakit Harapan Anda Tegal, mengadakan Seminar Nasional, yang melibatkan para ahli baik dalam bidang Kedokteran, Farmasi, dan Teknologi Informasi, dengan keynote speech dari pakar di bidang keilmuan Kedokteran untuk mengulas mengenai “Strategi Akreditasi dan Tantangan Sistem Informasi Rumah Sakit di Indonesia”.

 

Bertempat di Gedung Dr Mohammad Hatta Kampus Terpadu UII, hadir sebagai narasumber  Dr. Sri Kusumadewi SSi MT, Program Pascasarjana FTI UII, dr. Hj Silvia, Wakil Direktur RSU Islam Harapan Anda Tegal,  dr. M Lutfan Lazuardi, Ph.D, Fakultas Kedokteran UGM dan Susetyo Bagas Bhaskoro, Indihealth Bandung. (22 Safar 1437 H / 5 Desember 2015).

 

“Kondisi Eksisting, terdapat berbagai permasalahan Sistem Informasi Rumah Sakit di Indonesia, diantaranya antrian pelayanan kesehatan, pasien masih menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat guna. Selain itu permasalahan komunikasi antar jejaring pelayanan kesehatan komunikasi antar internal dan eksternal unit pelayanan kesehatan tidak terjadi dengan baik terkait ketersediaan fasilitas, Sumberdaya Manusia, Farmasi dan Pelayanan lainnya seperti Rujukan atau Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu” jelas Susetyo Bagas Bhaskoro.

Pada sesi selanjutnya Dr. Sri Kusumadewi menjelaskan “Permasalahan dalam implementasi rekam medik elektronik, keengganan dokter untuk menggunakan sistem dan kurang cakapnya dokter dalam menggunakan komputer serta biaya pengadaan dan implementasi yang tidak murah, merupakan beberapa point dimana Sistem Pendukung Keputusan Klinis (SPKK) kurang diterima Rumah Sakit di negara berkembang”

 

Dr. Sri Kusumadewi mengungkapkan “terjadinya kegagalan dalam penerapan SPKK terutama disebabkan oleh kesulitan dalam penggunaan sistem karena ketidaksesuaian antarmuka sistem dengan kebutuhan dokter. Ketidaksesuaian tersebut mengakibatkan timbulnya beberapa masalah baru seperti; waktu yang lebih lama untuk mempelajari sistem baru, produktivitas sistem yang rendah, dan meningkatnya human‐error pada sistem”.

 

Namun dengan adanya perubahan paradigma sebagaimana disampaikan dr. M Lutfan Lazuardi, Ph.D “saat ini telah adanya perubahan paradigma sistem informasi rumah sakit di Indonesia. dimana mulai dari tahun 1970an – billing dan administrasi, berubah pada tahun 1980an – sistem informasi klinis, selanjutnya pada tahun 1990an – medical imaging dan pada tahun 2000an – Patient Safety, membuat Smart Hospital adalah untuk menjawab beberapa tantangan tersebut”.

 

Rumah Sakit Umum Islam Harapan Anda Tegal adalah salah satu yang melakukan perubahan paradigma tersebut, dengan Akreditasi Paripurna (tertinggi) dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dr. Silvia berbagi pengalaman telah menerapkan Akreditasi versi 2012.

 

 

“Dengan meningkatnya tingkat perekonomian maka tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan juga meningkat serta memberi banyak pilihan kesehatan, karena itu Sistem Infomasi Rumah Sakit sangat diperlukan selain sebagai peningkatan mutu dan lebih fokus ke penerapan kepada pasien” tutur dr. Silvia.

 

Diberitakan di UII News edisi Januari 2016

 

Jerri Irgo

Solo, (UII News).  “Seorang Profesional Teknik Industri seringkali membanggakan kemampuan dirinya dalam hal merancang dan mengembangkan konsep-konsep yang berwawasan sistem dengan pendekatan yang bersifat komperhensif-integral. Posisi seorang Profesional Teknik Industri yang umum adalah Project Manager, Product Engineer, Process Engineer, Logistic And Inventory Control, Quality Control, Quality Assesement dan Team Designer”.

 

Hal tersebut disampaikan Dr. Imam Djati Widodo, Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) selaku Narasumber pada kegiatan RoadShow Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana (PPs) FTI UII berkerjasama dengan Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammdiyah Surakarta (Prodi TI FTUMS) yang dikemas dalam kegiatan “Diskusi dan Dialog Tantangan Profesional Teknik Industri di MEA” (18 Safar 1437 H / 1 Desember 2015).

Bertempat di Gedung Fakultas Teknik (FT) UMS Surakarta, tampak dihadir dari FT UMS,  Hafidh Munawir, ST,Meng, Ketua Jurusan Teknik Industri, Indah Pratiwi, ST,M.T Dosen Senior, Mahasiswa serta Alumni FT UMS. Sedangkan dari PPs FTI UII, tampak Dr. R Teduh Dirgahayu,ST, M.Sc, Direktur PPs FTI UII dan Jerri Irgo, SE, MM, Liaison Officer dan Marketing PPs FTI UII.

 

“Kiat-kiat meraih sukses di dalam merintis karier seorang profesional karena ilmu-ilmu Teknik Industri yang dikuasai. Peluang pengembangan ilmu dan profesi keteknik industrian masih sangat besar. Upaya pengembangan keilmuan dan profesi ini sangat bagus terutama untuk negara-negara padat karya seperti Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya” ujar Dr. Imam Djati Widodo yang juga sebagai Dosen Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia ini.

 

Selain itu, ke depan teknik industri juga akan dihadapkan dengan permasalahan yang timbul akibat tantangan globalisasi yang akhir-akhir ini telah menjadi pembahasan utama dalam dunia industri global diantaranta termasuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). MEA dapat diartikan dengan semakin kompleksnya permasalahan dan meningkatnya persaingan yang kemudian harus diikuti dengan perubahan-perubahan baik dalam organisasi maupun manajemen serta sikap-mental sumber daya manusia yang mendukungnya.

 

MEA jelas membawa banyak tantangan, ancaman maupun peluang yang harus dihadapi oleh  dunia industri dan secara serta-merta akan langsung menjadi tanggung jawab profesi Teknik  Industri. Tantangan global tidak dapat tidak menghadapkan dunia pendidikan tinggi teknologi industri agar mampu mengikuti dan menangkap arah perkembangan sains-teknologi yang melaju cepat seiring dengan tuntutan masyarakat (termasuk industri) pemakai jasa pendidikan tinggi.

 

Berdasarkan kriteria kompetensi Teknik Industri yang meliputi, kemampuan untuk bekerja dalam kelompok (organisasi), pemahaman tentang tanggung jawab sosial dan etika profesi,kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, kesadaran lingkungan (alam maupun sosial), kepekaan tinggi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi menyangkut berbagai macam isu kontemporer, aktual maupun situasional, kemampuan berorganisasi, manajemen dan leadership, dan sebagainya, dengan adanya berbagai tantangan yang ada.

 

“Seorang profesional Teknik Industri tidak saja diharapkan akan memiliki kemampuan akademis dan kompetensi profesi keinsinyuran (engineering) yang baik saja, tetapi juga memiliki wawasan dan kepekaan terhadap segala permasalahan yang ada di industri maupun masyarakat” pungkasnya.

 

Diberitakan di UII News edisi Januari 2016

 

Jerri Irgo

Yogyakarta. Dr. Taufik Immawan, Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (MTI PPs FTI UII), menyatakan “Seorang Profesional Teknik Industri itu adalah SDM dengan kompetensi ketekindustrian yang memahami dan dapat mengembangkan ilmunya”. Hal tersebut disampaikan di ruang kerjanya di Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Jl Kaliurang Km 14,5 Sleman Yogyakarta (18/01/2016).

 

“Keseriusan PPs FTI UII mencetak Profesional Teknik Industri secara umum UII tampak pada Pengumuman klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi klaster pertama untuk tahun 2015 ini telah di keluarkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) beberapa waktu yang lalu” ujarnya.

 

Kemenristek Dikti melakukannya penilaian dan memposisikan perguruan tinggi 10 Kampus Terbaik di Indonesia, berdasarkan empat kriteria, yaitu kualitas sumber daya manusia, kualitas manajemen dan organisasi, kualitas kegiatan kemahasiswaan, serta kualitas penelitian dan publikasi ilmiah.  Keempat kriteria tersebut memaparkan posisi setiap perguruan tinggi masing-masing, sehingga setiap kampus berada di urutan yang berbeda, berdasarkan empat kriteria itu.

 

UII adalah termasuk sepuluh perguruan tinggi terbaik di Indonesia, dimana terdapat tiga perguruan tinggi swasta (PTS) yang berhasil menembus nominasi perguruan tinggi negeri (PTN) dalam pengumuman klaster pertama tahun ini selain Universitas Gunadarma dan Universitas Petra Surabaya.

 

Dengan hal tersebut Dr. Taufik Immawan berharap, para lulusan Magister Teknik Industri PPs FTI UII harus mampu bersaing di jagat teknologi kekinian. “Lulusan Magister Teknik Industri, adalah profesional yang mampu mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang teknologi Industri yang mampu bersaing di kancah dunia,” papar Dr. Taufik Immawan.

 

 

Jerri Irgo

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika mendukung pembentukan Asosisasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) yang digagas sejumlah praktisi Digital Forensik. “Kami mendukung diluncurkan suatu wadah baru namanya AFDI, tempat berkumpulnya para ahli yang mempunyai kapasitas di bidang forensic digital,” ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, Selasa, 17 November 2015.

 

Dukungan tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan Kick Off Pembentukan Asosiasi Forensik Digital Indonesia di Ruang Serbaguna Kementerian Komunikasi. AFDI ini kelak bisa membantu aparat penegak hukum untuk melacak jejak digital yang terkait dengan kriminal.

 

Rudiantara membuka langsung acara Kick Off Pembentukan Asosiasi Forensik Digital Indonesia yang dihadiri sekitar 100 Analis Forensik Digital Indonesia. Menurut Rudiantara, dalam ranah cybercrimes, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008. UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) itu mengatur perbuatan-perbuatan yang dilarang beserta ancaman pidananya.

 

Selain itu, UU ITE mengatur mengenai bukti digital. Bukti digital dianggap sah dan dapat diajukan ke persidangan dengan syarat bahwa informasi yang tercantum di dalamnya secara teknis dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan. “Agar bukti digital dianggap sah dan dapat diajukan ke persidangan maka diperlukan tindakan forensik digital yang terdiri dari pengumpulan, akuisisi, pemulihan, penyimpanan, dan pemeriksaan bukti digital berdasarkan cara dan dengan alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk kepentingan pembuktian,” ujar Rudiantara.

 

Rudiantara menyampaikan bahwa dalam kegiatan forensik digital, terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu prosedur pemeriksaan forensik digital dan ahli yang melakukan pemeriksaan. Berkenaan dengan prosedur forensik digital saat ini, Kementerian Komunikasi sedang merumuskan rancangan peraturan menteri terkait standar panduan teknis dalam melakukan identifikasi, pengumpulan, akuisisi, dan pemeliharaan bukti digital berdasarkan ISO/SNI 27037.

“Dibutuhkan ahli forensik digital untuk menangani tindak pidana siber,” ujar Rudiantara.

 

“Pembentukan Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) bertujuan untuk menghimpun dan mengkoordinasi para analis dan peminat forensik digital dalam suatu wadah asosiasi,” ujar Kasubbid Komputer Forensik Puslabfor Mabes Polri Ajun Komisaris Besar M. Nuh Al Azhar, Selasa, 17 November 2015. Nuh menambahkan, hal tersebut bermanfaat baik untuk kemajuan anggota asosiasi sendiri maupun bagi bangsa dan negara, serta memberikan edukasi dan sosialisasi tentang forensik digital kepada masyarakat Indonesia.

 

Selain itu, AFDI diharapkan menjadi referensi bagi antaranggota asosiasi untuk memahami dan menambah pengetahuan tentang seluk-beluk forensik digital, serta menjadi sarana komunikasi, sarana tukar informasi, dan interaksi anggota asosiasi sehingga mampu mengakselerasi perkembangan dan penerapan forensik digital Indonesia.

 

“AFDI akan menjalin hubungan profesional dengan stakeholder lain, termasuk menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah,” ujar Nuh. Selain itu, Nuh menambahkan kalau AFDI akan menyusun dan mengembangkan standar kompetensi analisis forensik digital, juga kode etik profesi analis forensik digital Indonesia.

 

Selain Rudiantara, sejumlah pemapar yang berbicara dalam Kick Off Asosisasi Forensik Digital Indonesia antara lain Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Anang Iskandar, Dirjen Aplikasi Informatika Bambang Heru Tjahjono, serta Ruby Alamsyah (Profesional), Kasubbid Computer Forensik Puslabfor Mabes POLRI selaku Ketua Tim Formatur Pembentukan Asosiasi AKBP M. Nuh Al-Azhar, dan Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Yudi Prayudi.

 

Diberitakan Tempo Online