Kaliurang (FTI UII). Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, gandeng Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri UII melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melalui pelatihan meningkatkan pemasaran produk melalui internet, agar dapat membidik pasar dengan tepat sehingga produk mereka diminati konsumen.

 

Kegiatan yang berlangsung dua hari, yaitu Senin dan Selasa (11-12 Rajab 1437/ 18-19 April 2016) bertempat di Laboratorium Enterprise Resource Planning (ERP)  Prodi Teknik Industri FTI UII, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,4 Sleman Yogyakarta.

 

“Konsep kegiatan ini adalah memberikan pelatihan praktis kepada 30 pelaku UMKM di Sleman untuk memasarkan produk lewat internet. Pemateri 4 dari teknik industri dan 4 dari IBIC (Indonesia Bisnis Coach). Program ini adalah program kerja dari Disperindagkop Kabupaten Sleman” ujar Dian Janari, ST, MT, Dosen Prodi Teknik Industri.

 

“Selama ini pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) lebih banyak fokus ke masalah produksinya, namun kadang untuk pemasarannya kurang diperhitungkan, selain itu karena strategi pemasarannya belum baik maka akhirnya mereka juga kesulitan dalam memasarkan produknya,” katanya.

 

Dian Janari, yang juga sebagai Ketua Pelaksana Program Kerjasama, menambahkan “Harapan dengan diadakan program ini, diantaranya dapat meningkatkan nilai jual produk sehingga baik konsumen dan atau UMKM lebih mudah dalam penjualan dan pembelian”.

 

Jerri Irgo

“Implementasi Metode Pembelajaran Aktif (Active Learning Method) pada Mata Kuliah Operasi Teknik Kimia II”. Demikian judul Hibah Pengajaran BPA untuk Semester Genap TA 2015/2016 dengan salah satu programnya berupa kunjungan industri dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa terhadap ilmu yang mereka terima di bangku kuliah dan aplikasinya di industri.

 

Rombongan dari Prodi Teknik Kimia FTI UII yang berjumlah sekitar 90 orang mahasiswa dari dua kelas Operasi Teknik Kimia (OTK) II, Kelas D dan E, dengan didampingi oleh lima orang dosen telah melakukan kunjungan industri ke Pertamina Refinery Unit IV Cilacap pada tanggal 5 April 2016. Sebagai kilang dengan kapasitas terbesar di Indonesia (370.000 barrel per hari), rasanya tidak salah jika Pertamina RU IV dipilih sebagai lokasi kunjungan industri dan yang terpenting adalah ilmu-ilmu teknik kimia banyak ditemukan aplikasinya di sini. Transfer massa yang dipelajari secara mendalam pada mata kuliah OTK II dapat ditemukan aplikasinya pada beberapa peralatan di kilang ini, misalnya menara distilasi, absorber, stripper dan lain-lain.

 

Dinginnya udara pagi dini hari tak mengendurkan semangat mahasiswa untuk melakukan kunjungan industri ke Cilacap. Pukul 03.30 WIB, rombongan pun bertolak dari Boulevard Kampus Terpadu UII menuju Cilacap. Sesampainya di lokasi, rombongan diterima oleh Area Manager Pertamina, Suyanto, di Gedung Pertemuan Persatuan Wanita Patra di Jl. Ir. H. Juanda Kompleks Pertamina Gunung Simping, Cilacap.

 

Sholeh Ma’mun selaku ketua delegasi Prodi Teknik Kimia FTI UII sedang memberikan sambutan didampingi Suyanto (dua dari kanan), process engineer dan staf HR Pertamina RU IV.

 

Hasil dari kunjungan industri ke Pertamina RU IV Cilacap ini akan digunakan sebagai bahan untuk Proyek Mandiri oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah OTK II. Untuk mengerjakan project ini, mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok di bawah bimbingan dosen pengampu. Setiap kelompok diwajibkan untuk memilih topik Proyek Mandiri yang sepenuhnya diserahkan pada tiap-tiap kelompok setelah mereka melakukan kunjungan industri ke Pertamina RU IV Cilacap. Salah satu tugas yang harus diselesaikan adalah membuat simulasi terhadap unit proses yang ditinjau menggunakan MATLABatau SCILAB. Hasil dari Proyek Mandiri ini berupa laporan, poster dan maket unit proses yang ditinjau. Selanjutnya poster dan maket unit proses tersebut akan dipamerkan dan dilombakan.

 

Sekitar 95 delegasi Prodi Teknik Kimia FTI UII sedang mendengarkan penjelasan dari Pertamina RU IV Cilacap. Duduk di jajaran depan (kedua dari kiri ke kanan): Ir. Sukirman, M.M., Ir. Bachrun Sutrisno, M.Sc., Tintin Mutiara, S.T., M.Eng. dan Lilis Kistriyani, S.T., M.Eng.

 

Rombongan berpose bersama di depan tugu Pertamina di sekitar Kantor Pusat Pertamina RU IV Cilacap setelah melakukan kunjungan ke area pabrik.

 

 

Contributor: Sholeh Ma’mun

Jakarta (FTI UII).  Mobil Listrik Unisi – Universitas Islam Indonesia adalah Mobil Listrik Android pertama di Indonesia, ikut tampil di Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2016 yang secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kamis 28 Jumadil Tsani 1437 H / 07 April 2016.

 

Tak mau hanya dipandang sebagai pameran otomotif biasa, Indonesia International Motor Show 2016 (IIMS 2016), memadukan berbagai aspek budaya dan industri otomotif dalam pamerannya. Hal ini diungkapkan Lilik Oetama, CEO Kompas Gramedia dan Dyandra dalam sambutannya di pembukaan IIMS 2016, di bertempat di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta.

 

Lilik Oetama mengatakan “Dalam pameran otomotif ini mobil listrik karya anak bangsa turut dipamerkan. Kami hadirkan mobil listrik karya pelajar dari berbagai universitas di Indonesia. Ini bentuk dukungan kami untuk target menurunkan emisi gas rumah kaca.”

 

“Ada sejumlah program edukasi yang bermanfaat. Mobil mahasiswa ada delapan kategori. Mobil listrik karya mahasiswa yang ramah lingkungan,” lanjut dia.

 

Mobil listrik yang ada di IIMS 2016 antara lain berasal dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Insitut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Pasundan Bogor, Politeknik Bandung Bandung, dan Politeknik Negeri Jakarta, Jakarta.

 

 

Jerri Irgo

Jakarta (ANTARA News) – Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2016, Kamis, 7 April 2016, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.

 

“Dengan adanya pameran otomotif ini ada suatu optimisme agar industri kita berjalan dengan baik. Penjualan mobil merupakan indikator penting dari tinggi rendahnya pergerakan ekonomi suatu negara,” kata Wapres Jusuf Kall, saat acara pembukaan IIMS 2016.

 

Wapres mengatakan bahwa transportasi merupakan sebuah kebutuhan dasar sehingga mobil menjadi kebutuhan mutlak bagi suatu negara maju. Ia berharap dalam pameran ini ada inovasi yang dihadirkan.

 

“Dalam pameran ini harapannya menimbulkan banyak inovasi yang baik agar industri berkembang dengan baik. Teknologi tidak mungkin kita hindari. Dan di sini lah customer mempunyai pilihan dari sisi harga, teknologi, layanan, dan gaya,” tuturnya.

 

Ia juga berharap agar pameran IIMS 2016 juga mendorong masyarakat mencintai produk dalam negeri.

 

“Karena dengan mencintai produk sendiri akan mendorong ekonomi negara,” kata Wapres.

 

Sementara itu, Chief Executive Officer Kompas Gramedia Lilik Oetama mengatakan dalam pameran otomotif ini mobil listrik karya anak bangsa turut dipamerkan.

 

“Kami hadirkan mobil listrik karya pelajar dari berbagai universitas di Indonesia. Ini bentuk dukungan kami untuk target menurunkan emisi gas rumah kaca,” kata Lilik yang menambahkan ada sejumlah program edukasi yang bermanfaat.

 

Pameran otomotif IIMS yang pertama kalinya digelar di awal tahun itu diikuti 36 merek mobil dan motor. Sejumlah merek yang hadir antara lain Chevrolet, Daihatsu, Datsun, Honda, Hyundai, Mitsubishi, Nissan, Toyota, Audi, BMW, Garasindo (Chrysler, Dodge, Jeep, dan Fiat), Mercedes-Benz, MINI, dan Volkswagen.

 

Untuk sepeda motor, Garasindo hadir dengan brand Ducati, Peugeot Scooters, Italjet dan Zero Motorcycle, kemudian terdapat juga BMW Motorrad, Honda, Yamaha, serta pendatang baru Royal Einfield.

 

IIMS 2016 mulai dibuka untuk masyarakat umum pada Kamis 7 April 2016 pukul 17.00 WIB dengan harga tiket khusus Rp150.000. Selanjutnya, tiket masuk IIMS untuk Senin-Kamis seharga Rp40.000 dan Jumat-Minggu Rp60.000 hingga tanggal 17 April 2016.

 

Diberitakan : Antara

Prodi Teknik Kimia telah melakukan kunjungan kerja ke Thailand dari 21-22 Maret 2016 yang lalu. Rombongan yang dipimpin oleh Ir. Drs. Faisal RM, MSIE., Ph.D. (Kaprodi) yang disertai oleh Ir. Pratikno Hidayat, M.Sc. (Sekprodi) dan Sholeh Ma’mun, Ph.D. (staf akademik) telah melakukan kunjungan ke Chulalangkorn University (CU) di Bangkok dan Rajamangala Universitiy of Technology Thanyaburi (RMUTT) di Thanyaburi, Thailand. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk memperluas kerjasama internasional yang sudah terjalin antara Prodi Teknik Kimia dengan beberapa unversitas di luar negeri, misalnya Saxion University of Applied Sciences (Belanda), The Hague University (Belanda), Universiti Teknologi Petronas (Malaysia) dan lain-lain.

 

Keterangan: Diskusi di ChE Dept. CU. Foto dari kiri ke kanan: Prof. Paisan Kittisupakorn (Dept. Chairman), Assoc. Prof. Soorathep Kheawhom, Dr. Sholeh Ma’mun, Dr. Faisal RM dan Pratikno Hidayat MSc.

 

Prodi Teknik Kimia FTI-UII telah bekerja sama dengan The Petroleum and Petrochemical College (PCC), sebuah graduate school di CU, dengan bentuk kerja sama yang sudah terealisasi berupa student exchange program yang saat ini sudah memasuki angkatan ketiga. Selain berkunjung ke PCC, rombongan juga melakukan kunjungan ke Chemical Engineering Department (ChE Dept.) di universitas yang sama pada 21 Maret 2016. Tujuan kunjungan ke ChE Dept. CU adalah untuk inisiasi kerja sama antara kedua prodi. Beberapa bentuk kerja sama yang telah direncanakan antara lain staff and student exchange, joint research and publication, pembimbingan bersama untuk mahasiswa master dan PhD dari UII yang melakukan studi lanjut di CU, dan sebagainya. Untuk realisasi kerjasama ini, FTI UII dan Engineering Faculty CU telah sepakat untuk menindaklanjuti dalam bentuk MoU.

 

Keterangan: Rombongan Prodi Teknik Kimia berpose bersama PCC vice Dean dan Mahasiswa exchange dari Prodi Teknik Kimia di PCC CU.

 

Sehari sesudahnya, rombongan bertolak ke Thanyaburi untuk melakukan kunjungan ke Engineering Faculty RMUTT. Kerjasama yang telah terjalin antara Prodi Teknik Kimia dan Textile Engineering Department RMUTT berupa student exchange and visit programs. Selain dengan Textile Engineering Department, kerja sama juga akan diperluas dengan Chemical Engineering Department (ChE Dept.) RMUTT. Saat ini ada dua mahasiswa Prodi Teknik Kimia yang sedang melakukan tugas prarancangan pabrik kimia di ChE Dept. RMUTT.

 

Keterangan: Rombongan Prodi Teknik Kimia berpose bersama Engineering Faculty vice Dean beserta ketua Jurusan dan staff RMUTT.

 

Sumber: Sholeh Ma’mun

Kaliurang (FTI UII). Alumni Program Studi Teknik Industri angkatan 1988, balik ke kampus, mengadakan diskusi terbuka dan berbagi pengalaman bersama adik-adik Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), pada hari Sabtu, 16 Jumadil Tsani 1437 H / 26 Maret 2016.

 

Dedi Kusnadi, bersama Supriadi dan Apung Akhwan, kembali ke kampus sebagai motor penggerak pada kegiatan “Kiprah Alumni: Open Your Mind to be Entreprenur”, bertempat di Auditorium Gedung KH Mas Mansur. Kampus Terpadu UII Yogyakarta

 

“Kami hadir bukan sebagai utusan perorangan, namun atas nama angkatan 1988. Kami  mengadakan kegiatan, tanpa membebani kampus, semua biaya untuk snack, makan siang, door price dan narasumber, sudah kami siapkan” ujar Dedi Kusnadi.

 

Kegiatan dengan moderator Sigit Muhaini ini, menghadirkan tiga narasumber, yang pertama Supriadi, pengusaha hasil bumi sekaligus dosen di Stikes di Lampung. Selanjutnya Apung Akhwan, pengusaha dibidang peping untuk industri semen, batubara dan lainya. Narasumber ketiga adalah Dedi kusnadi, pengusaha manufactur sheet metal plate untuk racking supermarket dan office furniture.

 

Dedi Kusnadi, menambahkan “Berbagi pengalaman bagaimana menjadi entrepreneur, mulai usaha, menjalankan usaha, hingga mendevelop usaha. Selain itu juga bagaimana membuka pola pikir mahasiswa bahwa membuka lapangan pekerjaan sangat dimungkinkan”.

 

“Selain itu kegiatan ini mempunyai tujuan lain yaitu bersilaturahmi dan melakukan sedikit sumbangan untuk perpustakaan dan semoga dapat menjadi inspirasi buat temen-teman alumni lainnya, dan berharap agar melakukan hal yang sama secara iklas tanpa pamrih” pungkas Dedi Kusnadi.

 

Jerri Irgo

Media Indonesia, Rabu, 2 Maret 2016 lalu, ketika sebagian dari kita mulai beristirahat melepas penat di rumah, tiba-tiba beredar berita melalui media sosial mengabarkan peringatan dini kemungkinan terjadinya tsunami di Mentawai. Semua yang menerima kabar tersebut segera meneruskannya kepada orang lain. Esok harinya (3/3) media memberitakan sempat terjadi kepanikan warga, dan mereka berbondong-bondong menjauh dari pantai. Menariknya, berita peringatan tsunami beredar hanya dalam waktu 3 menit setelah waktu terjadinya gempa 8,3 SR yang bisa menjadi pemicu tsunami. Kalau saja saat itu benar terjadi tsunami, masyarakat masih punya cukup waktu untuk menyelamatkan diri karena jeda antara gempa dan tsunami umumnya 20 menit sampai 2 jam.

 

Bandingkan dengan bencana tsunami Aceh pada 2004 yang banyak menelan korban jiwa. Saat itu, warga tidak mengerti ancaman bahaya yang akan terjadi. Alih-alih menyelamatkan diri, beberapa orang malah mendekat ke pantai karena mereka melihat fenomena yang sangat unik, yaitu air laut yang surut dengan cepat. Terlepas bahwa itu ialah ketetapan Tuhan Yang Mahakuasa, kita bisa berusaha untuk memperkecil dampak negatif dan mengurangi jumlah korban akibat bencana.

 

Dari gambaran dua kejadian tersebut, kita bisa melihat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat bisa dimanfaatkan untuk mendamaikan manusia dengan bencana, baik bencana tsunami maupun bencana alam yang lainnya, seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain. Indonesia termasuk negara yang paling rawan dengan bencana alam. Salah satu faktor penyebabnya karena posisi Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Filipina. Jumlah gunung berapi mencapai 129 buah dengan 79 di antaranya bertipe A (sangat aktif), sehingga meningkatkan peluang terjadinya bencana alam. Bahkan, data UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Reduction) menyebutkan risiko bencana yang dihadapi Indonesia sangatlah tinggi. Potensi bencana tsunami di Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia, dan risiko ancaman tsunami di Indonesia bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Jepang. Dalam hitungan UNISDR, ada 5.402.239 orang yang berpotensi terkena dampaknya. Integrasi berbagai teknologi sangat dibutuhkan untuk membantu kita berdamai dengan bencana, dalam arti mengurangi dampak dan korban sebanyak mungkin.

 

Prof Sarwidi dari BNPB mengatakan teknologi pendeteksian dini bisa meningkatkan efektivitas proses mitigasi bencana dengan tujuan dapat mereduksi kerugian material dan nonmaterial. Pada 2007, Kemenristek juga sudah menyatakan salah satu asas penanggulangan bencana di Indonesia ialah ilmu pengetahuan, artinya penanggulangan bencana harus memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal. Dengan demikian, proses penanggulangan bencana, baik pada tahap prabencana, pada saat terjadi bencana, maupun pada tahap pascabencana dapat dipermudah dan dipercepat. Saat ini di banyak daerah sudah dipasang teknologi deteksi dini, dengan teknologi ini kita bisa sejak awal mengetahui potensi terjadinya bencana, bisa tsunami, banjir, tanah longsor, gunung meletus, dan lain-lain. Terlepas bahwa teknologi tersebut masih butuh banyak perbaikan dan pengembangan, pertanyaan selanjutnya ialah jika sudah ada peringatan dini, apa yang sebaiknya harus dilakukan? Masalah ini terjadi pada banyak peristiwa bencana, misalnya kejadian di Mentawai itu, setelah mendapat peringatan dini kemungkinan bencana tsunami, masyarakat banyak yang bingung harus bagaimana? Akibatnya, terjadi arus mobilisasi masyarakat yang tidak teratur sehingga justru menimbulkan potensi korban kecelakaan dalam arus penyelamatan diri tersebut.

 

Firdaus, Dosen Teknik Elektro FTI UII  – See more at: Media Indonesia

 

Jerri Irgo

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Layanan transportasi berbasis aplikasi dalam jaringan menguntungkan konsumen karena menambah pilihan layanan, kata dosen Program Magister Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Fathul Wahid.

 

“Penggunaan aplikasi dalam bisnis transportasi tersebut telah memunculkan model ekonomi kolaboratif antara penyedia aplikasi dan para pemilik atau pengemudi sepeda motor atau mobil,” katanya di Yogyakarta, Rabu (23/3).

 

Menurut dia, konsep “ride-sharing” adalah bentuk khusus ekonomi kolaboratif. Aplikasi dalam jaringan telah menjadi perantara baru antara perusahaan transportasi dengan konsumen.

 

“Oleh karena itu, saat ini banyak pelaku bisnis transportasi yang telah mengenalkan penggunaan kanal aplikasi sebagai perantara baru antara perusahaan dengan konsumen,” kata Fathul.

 

Namun demikian, kata dia, hal itu menjadi ancaman para pemain lama dengan pola pikir konvensional. Mereka yang terlalu menikmati zona nyamannya tanpa berinovasi, pasti akan terlibas, cepat atau lambat.

 

Ia mengatakan implementasi teknologi informasi pasti menempati sebuah konteks, bukan di ruang hampa sehingga ada aktor, praktik, dan norma yang mempengaruhi, yang seringkali tidak steril dari kepentingan.

 

Dari kaca mata teknologi informasi, kata dia, transportasi berbasis aplikasi dalam jaringan itu merupakan perkembangan yang tidak terelakkan, sebuah keniscayaan yang tidak bisa dibendung.

 

“Dengan demikian, serta merta melarangnya adalah pilihan ‘konyol’, namun membiarkan perkembangannya tanpa ‘kesepakatan sosial baru’ juga tidak bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang mengatur hal itu,” kata Fathul.

 

Sumber : Republika OnLine

 

Jerri Irgo

VIVA.co.id – Dalam kasus Uber dan Grab yang menggantikan taksi konvensional, munculnya teknologi informasi dalam dunia bisnis memang tak bisa lagi dibendung. Secara tidak langsung, IT dalam bisnis akan menghilangkan perantara (disintermediation) dan memunculka perantara baru (intermediary).

 

Dosen Program Magister Teknik Informatika, Universitas Islam Indonesia, Fathul Wahid PhD, mengatakan bahwa munculnya intermediary sudah dapat dirasakan mulai dari peran teller bank yang digantikan mesin ATM, atau petugas call center digantikan dengan mesin penjawab, surat pos digantikan email, bahkan belajar tidak lagi ‘harus’ dengan guru tetapi dengan konten di Internet.

 

Selain itu, lanjutnya, TI telah memungkinkan terbukanya model ekonomi baru, ekonomi kolaboratif (wikinomics), seperti wikipedia yang merupakan hasil ‘keroyokan’, kolaborasi massal. Istilah wikinomics dimunculkan pertama kali pada 2006 oleh Don Tapscott dan Anthony D. William dalam buku dengan judul sama. Istilah serupa, crowdsourcing, diperkenalkan pada tahun yang sama oleh Jeff Howe pada Majalah Wired.

 

Seperti adanya aksi demo penolakan transportasi berbasis online di Jakarta. Aksi itu digelar oleh pengemudi taksi konvensional yang merasa terancam dengan hadirnya layanan transportasi berbasis TI, seperti  Go-jek dan UberTaxi.

 

Menurut dia, penolakan atas hadirnya model bisnis baru ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain, dengan alasan dan solusi yang beragam. Beberapa negara pemrotes di antaranya Prancis yang menuntut UberTaxi ditutup dan bahkan dikenai denda. Namun, di Inggris, kehadiran UberTaxi dianggap tidak melanggar hukum.

“Di Indonesia masih belum ada keputusan apapun,” ujarnya, Rabu 23 Maret 2016.

 

Dikatakannya, penggunaan aplikasi dalam bisnis transportasi tersebut telah memunculkan model ekonomi kolaboratif antara penyedia aplikasi dan para pemilik atau pengemudi kendaraan.

 

“Konsep ride-sharing adalah bentuk khusus ekonomi kolaboratif. Aplikasi telah menjadi perantara baru,” jelasnya.

 

Munculnya layanan transportasi berbasis aplikasi adalah sebuah inovasi yang menguntungkan konsumen karena menambah pilihan layanan. Hal ini, juga sekaligus menjadi ancaman para pemain lama dengan pola pikir konvensional.

 

“Karenanya, saat ini, banyak pelaku bisnis taksi konvensional yang telah memperkenalkan penggunaan kanal aplikasi sebagai perantara baru antara perusahaan dan konsumen. Mereka yang terlalu menikmati zona nyamannya tanpa berinovasi, pasti akan terlibas, cepat atau lambat,” ujarnya lagi.

 

Namun, mengapa menjadi masalah? Fathul menjabarkan implementasi TI pastilah menempati sebuah konteks, bukan di ruang hampa. Dari kacamata TI, paparnya, hal ini adalah perkembangan yang tidak terelakkan, sebuah keniscayaan yang tidak bisa dibendung

 

“Serta merta melarangnya adalah pilihan konyol namun membiarkan perkembangannya tanpa kesepakatan sosial baru juga tidak bijak,”tuturnya.

 

Sumber : VIVA.news

 

Jerri Irgo

Magelang (FTI UII). Team Promo FTI UII mengadakan kegiatan yang dilakukan di alam terbuka (outdoor) dengan melakukan beberapa simulasi permainan (outbound games) baik secara individu maupun perkelompok dengan tujuan meningkatkan kebersamaan dan kekompakan team (Team Building).

 

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, dimulai Sabtu, 9 Jumadil Tsani 1437 H / 19 Maret 2016 bertempat di Auditorium Gedung KH Mas Mansur, berupa orientasi kelas dengan materi pembahasan program kerja dan materi publuc speaking serta presentasi.

 

Adapun pembicara adalah Dian Janari ST, MT, Dosen Program Studi Teknik Industri, Ir. Agus Taufiq, M.Sc, Dosen Program Studi Teknik Kimia dan Nasrullah Setiawan, ST, MT. Dosen Program Studi Teknik Industri.

 

Ketua Team Promo FTI UII, Dian Janari menyampaikan hal tersebut pada hari kedua disela-sela outbond dan rafting, Minggu, 10 Jumadil Tsani 1437 H / 20 Maret 2016 di tepi Sungai Elo, Kawasan Wisata Candi Borobudur, Magelang.

 

“Kegiatan ini, diikuti 50 orang Mahasiswa dan Dosen yang tergabung di Team Promo FTI UII yang baru, mempunyai tujuan memupuk dan meningkatkan kerja sama dan kebersamaan sebagai team. Selain itu harapannya dengan kegiatan ini dapat memacu semangat dan kerja keras untuk pengembangan dan mempromosikan khususnya FTI UII dan secara umum UII” ujarnya.

 

Jerri Irgo