Halal Supply Chain Management Forum 2026: Dari Sertifikasi Produk Menuju Ekosistem Halal Terintegrasi
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh,
Yogyakarta, 8 Juni 2026 – Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Halal Supply Chain Management Forum 2026 di Auditorium Lantai 3 FTI UII. Kegiatan ini menghadirkan pakar internasional di bidang halal supply chain, Prof. Marco Tiemann, CEO LBB International sekaligus Chairman HSC Alliance, untuk membahas tantangan dan peluang pengembangan rantai pasok halal di era global.
Dalam sambutannya, Ardi Nugroho, S.Farm., M.Sc. menegaskan bahwa implementasi halal di Indonesia terus berkembang dan kini mencakup hampir seluruh produk yang beredar di masyarakat. Tidak hanya makanan dan minuman, tetapi juga obat-obatan, kosmetik, produk elektronik, hingga pakaian yang digunakan sehari-hari wajib memenuhi standar kehalalan.
Menurut Ardi, perkembangan tersebut menuntut adanya sistem jaminan halal yang semakin kuat, transparan, dan dapat ditelusuri. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi seperti blockchain dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung keterlacakan (traceability) serta menjaga integritas halal secara berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Ir. Bertha Maya Sopha menyoroti pentingnya aspek kepercayaan dalam industri halal. Ia menjelaskan bahwa pelanggaran atau dugaan kontaminasi bahan nonhalal dapat berdampak besar terhadap reputasi perusahaan. Sebuah kasus yang pernah terjadi pada jaringan restoran besar di Indonesia menunjukkan bahwa hilangnya kepercayaan konsumen dapat menyebabkan penurunan pendapatan secara signifikan dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan reputasi perusahaan.
Menurut Prof. Bertha, halal saat ini tidak lagi sekadar persoalan produk, melainkan juga menyangkut kemampuan perusahaan menjaga integritas produknya melalui rantai pasok yang transparan, andal, dan berkelanjutan. Kepercayaan konsumen menjadi aset yang sangat berharga dan harus dijaga secara konsisten oleh seluruh pelaku industri.

Dalam kuliah utamanya, Prof. Marco Tiemann menjelaskan bahwa konsep halal telah mengalami evolusi yang signifikan. Jika sebelumnya halal lebih banyak dipahami sebagai karakteristik produk, kini halal berkembang menjadi konsep Halal Supply Chain bahkan Halal Value Chain yang mencakup seluruh aktivitas bisnis.
Menurutnya, sertifikasi halal pada produk saja tidak lagi cukup. Risiko kontaminasi dapat terjadi selama proses penyimpanan, transportasi, distribusi, maupun penanganan produk sebelum sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu, tujuan utama Halal Supply Chain Management (HSCM) adalah menjaga integritas halal sejak sumber bahan baku hingga produk diterima oleh konsumen.
Prof. Marco menekankan bahwa pengelolaan rantai pasok halal tidak dapat dilakukan secara parsial. Kompleksitas rantai pasok global menuntut adanya sinergi dan kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemasok bahan baku, produsen, penyedia jasa logistik, distributor, regulator, hingga lembaga sertifikasi halal. Kolaborasi vertikal dan horizontal menjadi kunci untuk memastikan standar halal diterapkan secara konsisten pada setiap tahapan rantai pasok.
Ia juga memperkenalkan konsep Halal Value Chain, yaitu pendekatan yang menempatkan halal sebagai bagian integral dari strategi bisnis perusahaan. Dalam konsep ini, prinsip halal tidak hanya diterapkan pada proses produksi, tetapi juga mencakup pengadaan bahan baku, operasional, pemasaran, layanan pelanggan, manajemen risiko, penelitian dan pengembangan, hingga aspek keberlanjutan lingkungan.
Menurut Prof. Marco, perusahaan perlu menerapkan pendekatan Halal by design, yakni membangun sistem jaminan halal sejak tahap perancangan proses bisnis dan rantai pasok. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan teknologi digital, termasuk blockchain, untuk meningkatkan transparansi, keterlacakan, serta kepercayaan konsumen terhadap produk halal.
Lebih lanjut, Prof. Marco menjelaskan bahwa masa depan industri halal bergantung pada kemampuan membangun jaringan dan ekosistem halal yang terintegrasi. Melalui HSC Alliance, berbagai pemangku kepentingan didorong untuk menyelaraskan protokol rantai pasok halal, memperkuat kolaborasi internasional, serta membangun standar keunggulan halal yang dapat diterapkan secara global.
Dalam konteks tersebut, ia memperkenalkan konsep Halal Park 2.0, yaitu kawasan industri halal yang mengintegrasikan industri, logistik halal, teknologi, pembiayaan syariah, keberlanjutan, serta inovasi dalam satu ekosistem. Model ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok, memperkuat daya saing industri halal, mendukung ketahanan pangan, sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah.
Prof. Marco menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat ekosistem halal dunia. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, dukungan regulasi yang semakin kuat, serta potensi industri yang besar, Indonesia berpeluang menjadi model pengembangan kawasan industri halal dan rantai pasok halal terintegrasi yang dapat direplikasi di negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Melalui forum ini, para peserta memperoleh pemahaman bahwa masa depan industri halal tidak hanya bergantung pada sertifikasi produk, tetapi juga pada kemampuan membangun rantai pasok yang terpercaya, kolaboratif, dan berkelanjutan. Sebagaimana ditekankan oleh Prof. Marco Tiemann, halal pada akhirnya adalah tentang menjaga kepercayaan. Ketika integritas, transparansi, inovasi, dan kolaborasi mampu diwujudkan dari hulu hingga hilir, maka industri halal tidak hanya akan tumbuh secara ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya ekosistem bisnis yang terpercaya, tangguh, dan berdaya saing global.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.











