Sleman, www.jogjatv.tv – Sumber dan jejak perang siber antara Indonesia dan Australia, ternyata bisa dilacak dengan teknik forensik digital. Namun hal tersebut tidak mudah, karena karakteristik TKP kejahatan dunia maya, tidak sesederhana TKP dalam kejahatan dunia nyata.

 

Kepala Divisi Digital Forensic Indonesia Cyber Law Community (ICLC), Ahmad Zam Zami, Sabtu (23/11) siang, mengungkapkan, seiring dengan meningkatnya resiko serangan siber, diperlukan peningkatan pengetahuan mengenai investigasi serangan siber melalui forensik digital. Kemampuan ini harus didasari oleh pengetahuan tentang ethical hacking, atau ‘peretasan etis’, yang bisa membantu seseorang untuk mengidentifikasi serangan. Perang siber Indonesia versus Australia, yang akhir-akhir ini marak terkait isu penyadapan ponsel Presiden SBY, bisa saja diselidiki dengan teknik forensik digital, namun hal tersebut tidak mudah.

 

Hal senada disampaikan oleh E-Commerce Consultant Country Manager Tin Tin. Menurutnya, pengetahuan mengenai investigasi serangan siber menjadi hal yang mutlak dimiliki oleh para praktisi keamanan jaringan maupun pekerja di bagian teknologi informasi. Namun, penguasaan seputar keamanan jaringan sangat dinamis mengingat perkembangan dunia teknologi informasi yang sangat cepat dewasa ini.

 

Diberitakan di jogjatv

 

Jerri Irgo

YOGYAKARTA, (PRLM).- Batik asli yang dikemas dengan tangan atau batik tulis terancam perilaku tidak sportif di internal para pengusaha. Mereka cenderung pragmatis dengan manipulasi batik tulis. Manipulasi batik tulis dilakukan dengan kombinasi teknik printing/sablon degan teknik batik. Produk demikian tidak bisa dikategorikan sebagai batik tulis.

 

“Problematika tentang pengkombinasian teknik sablon degan teknik batik. Kemudian produk yang mirip batik tetapi secara keseluruhan bukan batik atau full printing. Pedagang sering mengklaim prodk semacam itu tetap sebagai batik asli,” kata pakar batik Balai Besar Krajinan dan Batik Masiswo, Minggu (24/11/2013).

 

Dalam dialog tentang batik dalam perspektif industri dan proses di Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), batik asli, batik tulis maupun bukan, juga teranca oleh tekstil-tekstil impor yang bercorak menyerupai, terutama impor tekstil dari Cina. Semakin mendominasi pasar, “batik palsu” Cina ini menganggu eksistensi dan masa depan batik Indonesia.

 

Ancaman lainnya kain motif batik direkayasa menjadi “batik” dengan cara kain motif batik tersebut disiram ‘esense malam’. Jalan pintas ini sebagai manipulasi yang lebih parah dalam industri batik nasional.

 

“Kain motif batik yang disiram ‘esense malam’ menjadikan ‘batik palsu’ yang seolah-olah batik asli tidak diketahui oleh orang awam. Seorang pejabat pergi ke luar negeri denga menenteng souvenir ‘batik palsu’ itu, dibeli di sini dengan harga mahal, tetapi mereka tidak tahu yang dibeli dan dijadikan buah tangan di luar negeri sebenarnya batik palsu. Ini problem yang justru mengancam eksistensi batik,” kata dosen FTI UII Agus Taufik.

 

Menurut dia masalah sikap pragmatis yang menyulap batik bukan asli menjadi seolah-olah batik asli bisa mempengaruhi status batik sebagai warisan budaya “tak benda” yang ditetapkan oleh Unesco pada 2 Oktober 2003. Apabila tim pemantau Unesco menilai para pelaku industri dan pengrajin batik tidak bisa memelihara warisan budaya tersebut, itu bisa menjadi masalah pada status batik sebagai warisan budaya.

 

Kepala Pusat Studi Desain Busana dan Batik Ir. Gumbolo Hadi Susanto, MSc menyatakan tujuan Unesco mengukuhkan batik sebagai warisan budaya untuk memotivasi semua masyarakat, meningkatkan kesadaran nilai batik di tingkat lokal dan nasional serta antarbangsa. Agar status warisan budaya tetap aman, batik harus terus direvitalisasi.

 

“Merevitalisasi batik dengan cara menghidupkan kembali seni batik, tidak hanya mengenal dan memakai batik, juga melalui pendidikan karakter batik,” ujar dia.

 

Dekan FTI UII tersebut menyatakan pendidikan karakter batik untuk menjaga motif-motif batik dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Jika strategi demikian intensif dilaksanakan, maka sikap pragmatis dalam produks batik bisa dicegah. Tugas ini bisa dilaksanakan oleh akademisi seni batik dan peran pengelola museum batik. (A-84/A-147)***

 

Diberitkan di Pikiran Rakyat OnLine

 

Jerri Irgo

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Saat ini banyak bermunculan pengusaha batik yang memalsukan batik tulis. Mereka menggunakan tekstil bermotif batik yang kemudian diberi ‘esense malam’, sehingga menghasilkan kain yang mirip batik tulis.

 

Pernyataan itu diungkakan Agus Taufik, dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII kepada wartawan di sela-sela Dialog Nasional Batik 2013 di Kampus UII Yogyakarta, Sabtu (23/11). Dialog ini di antaranya, menghadirkan Gumbolo Hadi Susanto (Dekan FTI UII), Masiswo (Balai Besar Kerajinan dan Batik), Tulus Warsito (dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Lia Mustafa (Ketua APPMI Yogyakarta) dan Larasati Suliantoro Sulaiman (Ketua Paguyuban Pencinta Batik Sekar Jagad).

 

Agus berkata, pengusaha yang menggunakan cara tersebut bisa menghasilkan batik yang mirip batik tulis. “Kalau orang awam tentu tidak mengetahui jika batik tersebut adalah batik palsu,” katanya.

 

Cara seperti itu, kata Agus, harus segera dihentikan karena akan merugikan bangsa Indonesia. Bahkan, dikhawatirkan UNESCO akan mencabut batik sebagai warisan dunia yang dihasilkan bangsa Indonesia.

 

Untuk melindungi agar batik tetap menjadi karya seni bangsa Indonesia perlu dilakukan revitalisasi dan pembelajaran bagi masyarakat luas untuk mengenal batik tulis asli. Menurut Gumbolo, revitalisasi batik dilakukan dengan menghidupkan kembali seni batik, tidak hanya sekedar mengenal dan memakai batik, tetapi juga melalui pendidikan karakter.

 

“Banyak hal yang dapat diajarkan dari proses membatik seperti mengajarkan tentang kecermatan, ketelitian, kesabaran, dan ketekunan. Bahkan tidak hanya melihat batik sebagai sebuah mahakarya tetapi juga memaknai filosofinya yang terkandung di dalamnya,” kata Gumbolo.

 

Museum batik, lanjut Gumbolo, memiliki peran penting dalam menyampaikan perjalanan sejarah batik di Indonesia termasuk perkembangan motif dan filosofinya. Karena itu, Gumbolo memandang penting ada kerjasama antara pengelola museum dan lembaga pendidikan.

 

diberitakan di Republika OnLine

 

Jerri Irgo

 

Ir Agus Taufiq, M.Sc, Ketua Team Pelaksana Lomba Membatik dan Dialog Nasional Prospek & Probematika Batik, menyatakan bahwa “Pusat Studi Disain Busana dan Batik Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) dengan berpedoman pada konvensi UNESCO tentang Intangible Cultural Heritage akan  menyelenggarakan even Lomba Membatik dan dan Dialog Nasional Prospek & Probematika Batik”. Hal tersebut disampaikan seusai koordinasi persiapan teknis di ruang Jurusan Teknik Kimia FTI UII, (18/11/2013)

 

Pelaksanaan even tersebut, akan diselenggarakan pada hari Jum’at dan Sabtu (22-23/11/2013) bertempat di Gedung Mas Mansur FTI UII, Kampus Terpadu UII, Jl Kaliurang Km 14,4 Sleman Yogyakarta.

 

“Adapun peserta dalam lomba membatik terbuka bagi perorangan dan berstatus siswa/siswi SMP/MTs, SMK, SMA dan Madsrasah Aliyah (MA) se Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya disain batik adalah disain yang dapat diaplikasikan untuk batik tulis maupun cap dan harus menggunakan malam/lilin” ujarnya

 

Ir Agus Taufiq, M.Sc juga menambahkan “hasil karya seni harus orisinil, bukan tiruan atau replikasi dari disain batik yang sudah pernah diproduksi dan sedang tidak dikukuhkan dalam lomba batik lainnya”

 

“haiyoo, kita ambil peran dalam even ini, sebagai kontribusiikut menjaga warisan budaya bangsa Inonesia” pungkasnya

 

Info lebih rinci terkait hal ini, sebagai berikut:

fti_uii-brosur_lomba_batik

Poster Lomba Membatik

Poster Dialog Nasional Prospek & Probematika Batik

 

Jerri Irgo

fti_uii-agus-ridwan_di_thailandRombongan Mahasiswa Fakultas Teknologi  Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) bersama tiga dosen pendamping dari FTI UII telah diterima oleh Rajamangala University of Technology Thanyaburi (RMUTT) Thailand. Enam orang mahasiswa dari FTI UII akan berada di Thailand untuk implementasi Program Joint Degree antara FTI UII dan RMUTT Thailand.  Kali ini, 3 mahasiswa dari jurusan Teknik Industri (Reguler) yaitu Rizka Pricilia, Dissa Ayu Maharani, Arwani Luthfia dan 3 mahasiswa Program Internasional Teknik Industri yaitu Arman Hifni Ramadhan, Achmad Maulidin dan Irfan Hanafi memenuhi syarat dan berkesempatan untuk mengikuti program tersebut. Rombongan bertolak ke Thailand pada hari Rabu (6/11/13).

 

Keenam mahasiswa didampingi oleh 3 orang dosen FTI UII yaitu Agus Mansur, ST., M.Eng.Sc., Muhammad Ridwan Andi Purnomo, ST., M.Sc., Ph.D dan Dr. Risdiyono. Setelah melalui rangkaian perjalanan yang cukup melelahkan pada Kamis (7/11/13), rombongan FTI-UII bersilaturahmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia dan diterima oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Thailand, Dr. Yunardi. Keesokan harinya Jum’at (8/11/13) rombongan berkesempatan untuk melakukan diskusi dan koordinasi akademik penyelenggaran program serta pembahasan mengenai study path, sekaligus penyambutan mahasiswa FTI-UII yang akan menyelesaikan kegiatan akademiknya di RMUTT, Thailand.

 

Kegiatan dilanjutkan dengan Orientation Day pada Sabtu (9/11) ditujukan untuk seluruh mahasiswa  Internasional di RMUTT. Di kesempatan tersebut dijelaskan tentang jadwal dan kegiatan akademik, pengetahuan imigrasi di Thailand serta akomodasi mahasiswa Setelah  berakhirnya acara Orientation Day, dosen pendamping kembali ke Indonesia pada Minggu (10/11/13). “Dengan program joint degree ini, diharapkan agar terjalin kerjasama akademik yang baik sehingga mampu meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosennya. Selain itu, FTI juga sudah harus siap untuk menerima mahasiswa internasional yang akan berkuliah di UII jelas Agus Mansur, ST., M.Eng.Sc selaku Sekretaris Jurusan Teknik Industri FTI UII

>> Diana <<

 

Berita Terkait:

Kedubes RI di Thailand Terima Mahasiswa FTI UII

FTI UII, Kembali Kirim Mahasiswa Studi Ke Thailand

fti_uii-mahasiswa_di_kedubes_ri_thailandSetelah memulai rangkaian perjalanan yang panjang, pada Kamis (7/11/13), rombongan FTI-UII bersilaturahmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia dan diterima oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Thailand, Dr. Yunardi. Keesokan harinya Jum’at (8/11/13) rombongan berkesempatan untuk melakukan diskusi dan koordinasi akademik penyelenggaran program serta pembahasan mengenai study path, sekaligus penyambutan mahasiswa FTI-UII yang akan menyelesaikan kegiatan akademiknya di RMUTT, Thailand.

 

Kegiatan dilanjutkan dengan Orientation Day pada Sabtu (9/11) ditujukan untuk seluruh mahasiswa  Internasional di RMUTT, termasuk pula di dalamnya adalah mahasiswa asal FTI UII. Dalam kesempatan tersebut dijelaskan tentang jadwal dan kegiatan akademik, pengetahuan imigrasi di Thailand serta akomodasi mahasiswa.

 

Setelah  berakhirnya acara Orientation Day, dosen pendamping yang juga sekretaris Prodi Teknik Industri FTI UII, Agus Mansur, ST., M.Eng.Sc kembali ke Indonesia pada Minggu (10/11/13). “Dengan program joint degree ini, diharapkan agar terjalin kerjasama akademik yang baik sehingga mampu meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosennya. Selain itu, FTI UII juga sudah harus siap untuk menerima mahasiswa internasional yang akan berkuliah di FTI UII”, Agus Mansur menjelaskan.

 

>> Diana <<

 

Berita Terkait:

FTI UII, Kembali Kirim Mahasiswa Studi Ke Thailand

RMUTT Thailand Gembira Mahasiswa FTI UII

mhs_ke_thailandKembali Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) melepas sejumlah mahasiswa ke Thailand untuk mengikuti program double degree dengan Perguruan Tinggi (PT) yang sudah menjalin kerjasama dengan FTI UII di Thailand. Dekan FTI UII, Ir. Gumbolo Hadi Susanto, M.Sc dengan berat hati namun juga bangga melepas kelima mahasiswa pada hari Senin (4/11/2013) di ruang sidang 1 FTI UII.

 

Di hadapan mahasiswa yang hendak diberangkatkan ke Thailand, Dekan Internasional Program UII, Drs. Asma’i Ishak, M.Bus, Ph.D menyampaikan pesan. “Pertama, jangan lupa bahwa Anda adalah mahasiswa-mahasiswi dari UII, bukan dari perguruan tinggi lainnya. Ini sangat penting untuk diperhatikan, karena Anda membawa nama UII disana”. “Kedua, yakinlah Anda semua pasti bisa. Pertahankan keislaman dan keimanan untuk terus belajar. Tugas dan kerja Anda disana adalah kuliah dan belajar”. “Kalau refreshing ya bolehlah, agar Anda tidak terlalu suntuk sambil mempelajari budaya mereka. Ya alokasikan saja waktu kira-kira 5 sampai 10% untuk itu, jangan terlalu banyak”, imbuhnya sambil kelakar.  Masih menurut Asma’i, dengan semangat tahun baru hijriah, setelah para mahasiswa yang dikirim ke Thailand lulus, jangan lagi berfikir untuk bagaimana bisa kembali ke Jogja. “Anda semua harus jadi orang yang bisa kerja di perusahaan multinasional”. “Disana nanti, jadikan sebagai tempat untuk belajar hidup, untuk itu Anda tidak hanya dituntut kreatif saja tetapi juga harus proaktif”.

 

Dosen tetap FTI UII yang memiliki pengalaman panjang di Thailand dan yang menorehkan awal sejarah kerjasama UII dengan PT di Thailand, Dr. Eng. Risdiyono menyampaikan hal penting yang sifatnya teknis untuk dipersiapkan. Menurutnya, di sana nanti mahasiswa wajib berseragam dalam aktifitasnya di kampus, bagi perempuan jangan kawatir soal jilbab. “Di sana jilbab juga boleh dikenakan. Soal makanan, Saudara nanti bisa memilih makanan yang halal. Pilihannya juga banyak”, jelasnya.  Untuk nilai mata uang, sebaiknya disiapkan dari sekarang, bahkan Risdi menawarkan, “Saya ada sejumlah uang Thailand, kalau Saudara kesulitan tukar bisa menggunakan uang saya dulu”.

 

Selain menjelaskan berbagai jadwal awal yang harus dilalui di sana, Risdi mengingatkan kepada mahasiswa jangan lupa membawa batik sebagai bagian dari pakaian budaya Indonesia. Salah satu agenda yang akan dilalui di sana nanti, mahasiswa akan ditemukan di kantor atase pendidikan Republik Indonesia di Thailand dan wajib mengenakan batik.  Penting juga untuk dilakukan setelah di Thailand nanti, mahasiswa diminta segera mendaftarkan diri sebagai anggota mahasiswa Indonesia di Thailand. “Segala sesuatu yang kurang jelas segera konsultasikan dengan kakak angkatan yang sudah ada disana, misalnya dengan Yoski”, Risdi menutup pesan.

 

Sementara Sekretaris/Koordinator Prodi IP FTI UII, M. Ridwan Andi Purnomo, Ph.D menekankan apa yang sudah dipesankan Dekan FTI UII, Ir. Gumbolo Hadi Susanto, M.Sc. bahwa, untuk bisa berangkat ke Thailand kali ini tidak bisa begitu saja terjadi, untuk itu berbagai bantuan yang diberikan dalam bentuk apapun diucapkan terima kasih. “Terlebih kepada saudara kita Arman. Saudara yang akan berangkat ini sangat dibantu oleh kehadirannya. Semoga Allah SWT mengganti segala apa yang sudah diupayakan dengan kebaikan yang berlipat ganda”, tutup Andi.

 

Berita Terkait:

 

Kedubes RI di Thailand Terima Mahasiswa FTI UII

RMUTT Thailand Gembira Mahasiswa FTI UII

fti_uii-teknoin-gumboloTopik yang diangkat dalam pelaksanaan seminar nasional Teknoin 2013 yang diselenggarakan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), pada hari Sabtu (16/11/2013) ‘Menuju Kemandirian Teknologi Pertahanan Nasional’ memiliki makna yang sangat luas untuk kestabilan Negara. Hal ini disampaikan Dekan FTI UII, Ir. Gumbolo Hadi Susanto, M.Sc saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara seminar bertempat di Gedung KH Mas Mansur FTI UII.

 

Dengan menggaris bawahi apa yang telah disampaikan ketua panitia, Dr. Eng. Hendra Setiawan, Dekan FTI UII menyampaikan pula betapa pentingnya ketahanan Negara Kesatuan Republik Indonsia (NKRI). “Kebutuhan akan sistem pertahanan nasional yang memadahi dan handal sangatlah mendesak untuk diupayakan”, jelasnya.  Selanjutnya masih menurut Gumbolo, sangat diperlukan kemandirian nasional yang tidak mungkin terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak untuk mengembangkannya. Dengan kemandirian di bidang pertahanan nasional ini, akan semakin memperkuat posisi Indonesia di tingkat Internasional.

 

Sebagaimana disampaikan ketua panitia, dalam kesempatan itu Dekan juga sampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber dan para pemakalah. “Terima kasih kami sampikan pula kepada ibu Connie”. “Maaf tidak berani saya menyebutkan yang lengkap, takut salah. Soalnya panjang banget”, kelakar dekan.  “Juga kepada bapak Hery Mochtady dari PT. Pindad yang berkenan meluangkan waktu menjadi narasumber”.  “Semoga kesediaan ibu dan bapak menjadi narasumber seminar ini menjadi inspirasi untuk kami berupaya dengan berbagai keterbatasan yang ada untuk dapat mempertahankan NKRI”.

 

Sekilas dekan sampaikan keberadaan Gedung FTI UII yang ada di lokasi paling pojok. “Dari depan tadi saya mengikuti, ada beberapa tamu sempat tanya sana tanya sini karena sulitnya mencari lokasi FTI UII barangkali”. “Sekali lagi kami mohon maaf kalau petunjuk arah yang kami siapkan belum memadahi sehingga membuat para peserta kesulitan mencari bahkan nampaknya ada yang tersesat”,  pinta Gumbolo.

 

Berita Terkait:

Teknoin: Panitia Terima 98 Makalah Full Paper

fti_uii-teknoin-hendra Agenda tahunan yang diselenggarakan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) berupa seminar Nasional Teknoin, sejak pertama kali diselenggarakan 2004 tidak pernah lowong. Saat ini pada penyelenggaraan yang ke 10 tahun 2013 tepatnya pada hari Sabtu (16/11/2013) mengangkat tema “Menuju Kemandirian Teknologi Pertahanan Nasional” bertempat di Gedung KH Mas Mansur FTI UII komplek kampus terpadu UII Jl. Kaliurang KM 14,5 Sleman Yogyakarta.

 

Dalam menyampaikan sambutan mengawali acara, Ketua Panitia Seminar Teknoin tahun 2013, Dr. Eng. Hendra Setiawan menyampakan bahwa pelaksanaan Teknoin ini adalah merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan misi UII yang memiliki komitmen pada kesempurnaan dan risalah Islamiyah di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat dan dakwah Islamiyah.  Lebih dari itu Hendra berharap dengan seminar Teknoin tahun 2013, akan terjadi saling memberikan informasi setidaknya dari 5 disiplin ilmu terknik yang ada “sekaligus menjadi forum diseminasi untuk lima disiplin ilmu, yaitu: Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Informatika, Teknik Elektro, dan Teknik Mesin”, jelasnya.

 

Masih menurut Hendra, pada seminar nasional Teknoin tahun 2013 ini panitia menerima 98 makalah full paper yang berasar dari berbagai propinsi di Indonesia. Setelah dilakkan review, ditetapkan 72 makalah yang memenuhi syarat untuk dipresentasikan dalam seminar Teknoin kali ini.  Adapun distribusi makalah berdasarkan bidang ilmunya masing-masing. “Bidang Teknik Kimia ada 12 makalah, bidang Teknik Industri 12 makalah, bidang Teknik Informatika 7 makalah, bidang Teknik Elektro 20 makalah dan 12 makalah dari bidang Teknik Mesin”, papar Hendra.

 

Ucapan terimakasih yang tak terhingga disampaikan kepada seluruh jajaran pimpinan Universitas, Fakultas yang terdiri dari Dekanat, Pascasarjana, Para Pimpinan Prodi juga seluruh panitia yang terlibat dalam kegiatan seminar Teknoin 2013 ini.  Lebih dari itu Hendra sampaikan juga terimakasih dan maaf kepada narasumber dan para pemakalah. “Terima kasih kami sampikan pula kepada ibu Connie Rahakundini Bakrie dan Universitas Indonesia dan apak Hery Mochtady dari PT. Pindad yang berkenan meluangkan waktu menjadi narasumber”. “Juga kepada seluruh pemakalah serta semua pihak yang telah berpartisipasi dalam acara ini, kami juga mohon maaf apabila selama ini ada sesuatu yang kurang berkenan”, pungkasnya.

 

 

Berita Terkait:

Dekan FTI UII: Kemandirian Pertahanan Nasional Harus Diupayakan

Dr.rer.nat Maruli Pandjaitan, Swiss German University, Serpong – Indonesia, menyatakan “Dengan mempertimbangkan kemampuan Industri Nasional, daya saing dan volume pasar, maka kita dapat  mengelompokan jenis Alat Kesehatan yang perlu dikembangkan di Indonesia, sebagai berikut yaitu yang pertama Hospital Furniture diantaranya Beds, Operating Table. Selanjutnya Disposable Products, misal Catheter, Oxygen Masks, PVC Tubes, Blood Lines for HD, Blood Bags dan Electro Medical  Equipment, diantaranya Doppler, EKG, USG, Nebulizer, Oxygen Concentrator”.

 

Pernyataan tersebut disampaikan Dr Maruli dalam presentasinya dengan judul Perkembangan Produksi Alat Kesehatan Indonesia di Seminar Nasional Informatika Medis (SNIMed) IV 2013 dengan tema “Adopsi Teknologi Informatika Medis sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan Masyarakat, Sabtu (09/11/2013) bertempat di Auditorium Gedung Mas Mansur FTI UII Kampus Terpadu UII, Jl Kaliurang Km 14,4 Sleman Yogyakarta.

 

“Saat ini, Ada lebih dari 7.000 macam alat kesehatan yang beredar di dalam negeri dan sebagian besar masih diimpor sehingga hal ini merupakan suatu pemborosan devisa. Pada faktanya kebanyakan tender Pemerintah lebih memilih untuk membeli produk impor walaupun produk tersebut sudah diproduksi di dalam negeri” ujarnya

 

Dengan Konsep Tripartite, yaitu kerjasama dan sinergi baik dari Teknokrat yang diantarnya Universitas, Ristek, LIPI, selanjutnya Industri yang meliputi diantaranya Aspaki, Gakeslab dan User / Konsumen, meliputi Depkes, Askes, Rumah Sakit, dokter dan swasta, maka permasalahan tersebut dapat diatasi, setidaknya menghemat devisa negara.

 

“Dengan memperhatikan potensi pengguna alat kesehatan di Indonesia cukup banyak maka apabila dapat diwujudkan kerjasama dengan para pihak untuk merealisasikan rencana ini, maka  akan banyak Alat Kesehatan yang dapat dikembangkan sampai ketahapan Industri” tutup Dr.rer.nat Maruli Pandjaitan

 

Jerri Irgo