VIVAnews – Indonesia dinilai belum memiliki kerangka kerja atau framework standar di jajaran penegah hukum dalam proses investigasi forensik digital. Saat ini, kepolisian Indonesia masih menggunakan panduan dalam bentuk prosedur operasi standar (standard operating procedure/SOP),

 

“Mengacu pada ACPO (Association of Chief Police Officers) dari Inggris,” kata Pakar Forensik Digital Polda DIY, AKP Suharno, Rabu, 10 Desember 2014.

 

“Mengacu pada ACPO (Association of Chief Police Officers) dari Inggris,” kata Pakar Forensik Digital Polda DIY, AKP Suharno, Rabu, 10 Desember 2014.

 

Menurutnya, kejahatan dengan memanfaatkan komputer maupun perangkat bergerak semakin meningkat dan semakin canggih. Bahkan tren kejahatan cyber terus meningkat sehingga menuntut penanganan lebih serius oleh jajaran Polri, BNN, KPK dan institusi lainnya.

 

Dengan adanya investigator yang memiliki latar belakang institusi yang berbeda, ujar Suharno, Indonesia memerlukan kerangka kerja yang berlaku secara nasional.

 

“Terdapat perbedaan cara pandang yang berbeda-beda dalam menginvestigasi kasus kejahatan cyber yang disebabkan masing-masing instansi menggunakan framework investigasi yang berbeda,” ujar Suharno.

 

Suharno menjalaskan, ia sudah menguji sebuah kerangka kerja hasil penelitian mahasiswa S2 Magister Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia

 

Rahayu telah mengajukan kerangka kerja yang dinamakan Integrated Digital Forensic Investigation Framework (IDFIF). Ia menyebutkan, hasil penelitian terhadap IDFIF menunjukkan hasil yang lebih bagus dibanding menggunakan ACPO.

 

“Framework IDFIF dapat mengakomodasi proses investigasi karena tingkat efisiensi, efektivitas dan reabilitas yang bersifat komprehensif dan terintegrasi,” ucap dia.

 

Oleh karena itu, ia berharap agar IDFIF bisa menjadi kerangka kerja standar di jajaran penegak hukum Indonesia. Tujuannya, untuk menghindari perselisihan di pengadilan karena penerapan metode investigasi forensik digital yang berbeda. (ms)

 

diberitakan di Yahoo.News

 

Jerri Irgo

“Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf yaitu lead – mencoba  menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan” ujar Muhammad Nafi.

 

Kepala Redaksi Tempo Kantor Perwakilan biro Yogyakarta-Jawa Tengah menyampaikan hal tersebut saat Workshop Penulisan Artikel Ilmiah yang di selenggrakan Humas Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII)  beberapa waktu lalu (24/11/2014) di Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Jl Kaliurang Km 14,4 Sleman Yogyakarta.

 

Muhammad Nafi.menambahkan “ada beberapa lead yaitu Lead ringkasan – summary lead; Lead bercerita – narrative lead, Lead deskriptif – descriptive lead; Lead kutipan – quotation lead ; Lead bertanya – question lead ; Lead menuding langsung – direct address lead ; Lead menggoda – teaser lead dan Lead kombinasi – combination lead”

 

“Selanjutnya mentrasformaikan bahasa akademis menjadi bahasa masyarakat dengan metode yang sedikit berbeda namun tanpa menghilangkan esensi ilmiahnya” ujarnya

 

Mudah kan …

 

Jerri Irgo

“Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) dapat juga memantau persebaran sebuah target” demikian disampaikan Hanson Prihantoro Putro, ST, MT, Koordinator Keilmuan Magister Teknik Informatika PPs FTI UII dalam diskusi terbatas di Ruang PPs 1 Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII (02/12/2014)

 

Hal tersebut berarti Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) ini sangat aplikatif  juga untuk dapat dikembangkan pada sektor perikanan dan kelautan di Indonesia sebagamana program 100 hari kerja Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019 yaitu diantaranya untuk program jangka pendek, menyelesaikan masalah nelayan pesisir secara menyeluruh, terutama membuka akses permodalan dan wilayah tangkap bagi nelayan pesisir di dalam negeri.

 

Wilayah tangkap bagi nelayan pesisir di dalam negeri ini, menarik MI PPs FTI UII untuk melakukan penelitian terkini yang merujuk dari beberapa penelitian sebelumnya diantaranya mengkombinasikan kemampuan Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) dan penginderaan jauh (inderaja) kelautan berharap dapat memantau persebaran distribusi, migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan dengan cakupan area yang luas.

 

“Selain itu juga untuk mengetahui ikan di laut berada dan kapan bisa ditangkap jumlah yang berlimpah merupakan pertanyaan yang sangat biasa didengar. Meminimalisir usaha penangkapan dengan mencari daerah habitat ikan, disisi biaya BBM yang besar, waktu dan tenaga nelayan mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar” tutup Hanson

 

Artikel Terkait : Dukungan Akademis dan Poros Maritim Dunia

 

Jerri Irgo

“Indonesia akan menjadi poros maritim dunia, kekuatan yang mengarungi dua samudra, sebagai bangsa bahari yang sejahtera dan berwibawa” demikian kutipan Jokowi dalam naskah pidato KTT ASEAN di Nya Pyi Taw, Myanmar beberapa waktu yang lalu.

 

Terkait dengan hal tersebut Magister teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (MI PPs FTI UII) Yogyakarta mengambil peran mendukung program tersebut melalui penelitian, diskusi maupun kajian ilmiah dalam kerangka akademis.

 

Sebagaimana dalam diskusi terbatas di Ruang PPs 1 Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII (02/12/2014). Disampaikan Beni Suranto, S.T., M.SoftEng, Dosen pengampu konsentrasi Sistem Informasi Enterprise MI PPs FTI UII “Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dunia. Secara fisik, dia punya panjang garis pantai mencapai 81.000 kilometer dengan jumlah pulau mencapai lebih dari 17.500 pulau. Luas daratan 1,9 juta kilometer persegi, sementara luas perairan 3,1 juta kilometer persegi”

 

“Sektor perikanan merupakan potensi dan sebagai sumber pendapatan bagi daerah, Negara dan masyarakat khususnya nelayan. Melihat besarnya potensi yang ada perlu dikelola dengan baik sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat nelayan agar kesejahteraannya meningkat” ujar Beni yang juga menjabat Direktur Direktorat Pembinaan Bakat, Minat, dan Kesejahteraan Mahasiswa UII.

 

Dukungan akademis diantaranya akan mengembangkan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) yang datanya akan dapat digunakan untuk pembaharuan data terkini juga dapat digunakan sebagai pengambil keputusan serta menjadi informasi penelitian secara berkelanjutan.

 

Artikel Terkait – Kembangkan Aplikasi GIS, dukung Sektor Perikanan dan Kelautan Indonesia

 

Jerri irgo

“Beberapa hasil karya inovasi yang akan dipamerkan di antaranya adalah Mobil Listrik. Inovasi ini memiliki kelebihan dibandingan dengan mobil listrik lain yaitu kendali utamanya menggunakan sistem operasi Android yang saat ini banyak digunakan untuk smartphone dan Aplikasi Celengan Limbah (CELI) yang menjuarai OSN Pertamina yang keduanya adalah karya mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII dan berbagai hasil karya inovasi lainnya”.

 

Hal tesebut disampaikan, Sigit Pamungkas, Kepala Divisi Pemasaran dan Admisi Universitas Islam Indonesia (UII) yang juga menjadi Ketua Panitia UII ODIEX 2014 dalam jumpa pers yang digelar di Gedung Prof. Ace Partadiredja, Kampus FE UII, Selasa (2/12).

 

“Semua hasil inovasi yang dipamerkan merupakan karya penelitian yang dimiliki oleh seluruh fakultas dan program studi. Untuk mendukung pameran tersebut juga akan digelar stan expo kewirausahaan mahasiswa, mitra industri dan desa binaan UII” pungkas Sigit.

 

Penyelenggaran UII Open Day & Innovation Expo (ODIEX) akan dilaksanakan pada tanggal 8 hingga 11 Desember 2014 di Gedung Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir  Kampus Terpadu UII Jl Kaliurang Km 14.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

 

Jerri Irgo

“Indonesia akan menjadi poros maritim dunia, kekuatan yang mengarungi dua samudra, sebagai bangsa bahari yang sejahtera dan berwibawa” demikian kutipan Jokowi dalam naskah pidato KTT ASEAN di Nya Pyi Taw, Myanmar beberapa waktu yang lalu.

 

Terkait dengan hal tersebut Magister teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (MI PPs FTI UII) Yogyakarta mengambil peran mendukung program tersebut melalui penelitian, diskusi maupun kajian ilmiah dalam kerangka akademis.

 

Sebagaimana dalam diskusi terbatas di Ruang PPs 1 Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII (02/12/2014).  Disampaikan Beni Suranto, S.T., M.SoftEng, Dosen pengampu konsentrasi Sistem Informasi Enterprise MI PPs FTI UII “Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dunia. Secara fisik, dia punya panjang garis pantai mencapai 81.000 kilometer dengan jumlah pulau mencapai lebih dari 17.500 pulau. Luas daratan 1,9 juta kilometer persegi, sementara luas perairan 3,1 juta kilometer persegi”

 

“Sektor perikanan merupakan potensi dan sebagai sumber pendapatan bagi daerah, Negara dan masyarakat khususnya nelayan. Melihat besarnya potensi yang ada perlu dikelola dengan baik sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat nelayan agar kesejahteraannya meningkat” ujar Beni yang juga menjabat Direktur Direktorat Pembinaan Bakat, Minat, dan Kesejahteraan Mahasiswa UII.

 

Dukungan akademis dari MI PPs FTI UII diantaranya akan mengembangkan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) yang datanya akan dapat digunakan untuk pembaharuan data terkini juga dapat digunakan sebagai pengambil keputusan serta menjadi informasi penelitian secara berkelanjutan.

 

Jerri irgo

Berita Egatama — Rasanya melegakan, mendengar sekian banyak hasil karya anak bangsa yang up to date. Setelah beberapa aplikasi andorid bermuatan lokal, kini ada lagi aplikasi android buatan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Aplikasi itu, unik. Namanya, Celi. Kependekan dari celengan limbah. Untuk apa aplikasi itu?

 

Bagi para pengguna smartphone dan ponsel canggih berbasis android atau ios, tentu sudah tidak asing dengan aplikasi yang dirilis oleh sebuah Bank. Aplikasi Bank dibuat untuk memudahkan nasabah melakukan transaksi perbankan melalui smartphone. Mulai dari transfer sejumlah uang, pembayaran tagihan dan sebagainya. Nah, dari aplikasi Bank itulah kemudian terbetik gagasan di benak para mahasiswa UII Yogyakarta untuk membuat aplikasi serupa yang dikhususkan untuk mengelola sampah.

 

Seperti diketahui, sekarang ini sudah banyak sekelompok masyarakat yang mahir mengelola sampah dan secara kreatif membuat bank sampah di kampungnya masing-masing. Dengan adanya Bank Sampah, selain sampah tidak dibuang di sembarang tempat, warga juga mendapat penghasilan tambahan dari limbah sampah yang sudah disetorkan ke Bank Sampah. Praktik pengelolaan sampah seperti itu sudah lama dijalankan. Pola kerja bank sampah juga mirip dengan aktivitas perbankan. Dan, setiap bank membuat aplikasi android untuk memudahkan nasabahnya bertransaksi via ponsel. Itulah yang mendasari pemikiran dari tiga mahasiwa UII Yogyakarta. Yaitu, membuat aplikasi android untuk Bank Sampah.

 

Tiga mahasiswa UII Yogyakarta itu, Dantik Puspitasari, Malichah Muctaromah dan Alan Dwi Prasetyo, mencipatkan aplikasi layanan bank sampah yang dioperasikan melalui ponsel pintar. Aplikasi itu diberi nama, ‘CELI’ akronim dari celengan limbah. Aplikasi tersebut akan menghubungkan pengelola Bank Sampah dengan para nasabahnya. Dantik menjelaskan, melalui aplikasi CELI, para nasabah Bank Sampah bisa mengirim pesan agar sampahnya segera diambil oleh Bank Sampah, atau sebaliknya. Melalui aplikasi tersebut, nasabah juga bisa mengetahui jumlah poin dari sampah yang sudah disetorkan atau dari sampah yang sudah dijualnya.

 

““Aplikasi ini sudah diterapkan di sejumlah Bank Sampah di Yogyakarta. Bahkan, aplikasi ini berhasil meraih juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional Pertamina 2014 kategori proyek sains aplikasi perangkat lunak”, ujar Dantik. (kt)

 

Diberitakan di BeritaHarianEgatawa

 

Jerri Irgo

Jogja (Antara Jogja) Tim Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta mengembangkan proyek sains yang menghasilkan perangkat lunak atau aplikasi celengan limbah pada “smartphone”

 

“Aplikasi ini memfasilitasi pengelolaan bank sampah yang sudah berjalan di beberapa saerah di Indonesia” kata koordinator tim mahasiswa UII, Dantik Puspita Sari di Yogyakarta Sabtu

 

Menurut dia, bank sampah merupakan suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah oleh warganya. Setiap warga memiliki tabungan yang berisi poin kontribusi pada proses pengumpulan limbah rumah tangga

 

selengkapnya diberitakan di AntaraNews Yogya

 

Jerri Irgo

TRIBUNNEWS.COM,SLEMAN – Berawal dari keprihatinan sulitnya menemukan bak sampah, Dantik Puspita Sari mahasiswi jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta angkatan 2012, bersama dua kawannya Alan Dwi Prasetyo dari jurusan yang sama dan Malichah Muchtarimah dari teknik kimia ciptakan aplikasi Celengan Limbah (Celi) untuk pengguna smartphone.

 

Dari aplikasinya tersebut, mereka telah menyabet pengghargaan juara pertama pada ajang tahunan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina 2014 untuk kategori proyek sains aplikasi perangkat lunak.

 

Dentik yang berasal dari Balikpapan menceritakan awal mula dia menciptakan aplikasi tersebut lantaran ketika hidup di Yogyakarta, dia merasa kesulitan ketika membuang sampah.

 

“Saya sulit mendapat bak sampah, bingung harus dibuang kemana, ketika di kos pun saya taunya sampah tersebut dibuang oleh pemilik kos, setelah saya telusuri ternyata sampah tersebut dibuang ke sungai,” ungkapnya.

 

Dari rasa keprihatinan tersebut, lantas dia menggandeng dua temannnya untuk dan bekerjasama dengan bank sampah Mekarasri di wilayah Brontokusuman, Yogyakarta dan menciptakan aplikas Celi (Celengan Limbah).

 

Dijelaskannya, Celi (Celengan Limbah) merupakan alat untuk mengirimkan pesan kepada server untuk memberitahukan bahwa si pengirim hendak mendistribusikan sampah yang ia miliki.

 

Sampah-sampah tersebut sendiri sebelumnya harus sudah dipilah dan dibedakan menurut jenisnya, yaitu sampah organik, ataupun sampah non-organik.

 

“Sehingga pihak pengelola bank sampah akan mendatangi rumah si pemilik limbah, dan dari setiap pengiriman limbah, nantinya akan mendapatkan poin yang tertera di dalam account pemilik limbah,” ungkapnya.

 

Diberitakan di Tribun Jogja

 

Jerri Irgo

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA–Aplikasi Celengan Limbah (Celi) karya mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta raih juara pertama pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina 2014 dalam kategori Proyek Sains Aplikasi Perangkat Lunak.

 

“Aplikasi ini dapat dikembangkan lebih besar khususnya bagi bank sampah yang tersebar di berbagai kota. Sebab sampah semakin banyak dihasilkan masyarakat, sehingga perlu pengelolaan yang lebih baik agar tidak menjadi bencana,” kata Rektor UII Yogyakarta Harsoyo, Sabtu (29/11).

 

Rektor sangat mengapresiasi prestasi yang diraih mahasiswa UII dan akan memberikan penghargaan bagi mahasiswa yang telah meraih juara di OSN Pertamina 2014. Ia juga berharap prestasi ini dapat mendorong mahasiswa UII lain untuk menjadi juara pada bidang ilmu yang digelutinya.

 

Aplikasi Celi ini menggunakan smartphone yang telah banyak dimiliki anggota rumah tangga. Penerapannya telah dilakukan di Bank Sampah Mekar Sari Karanganyar, Jawa Tengah. Langkah pertama, mahasiswa ini memberikan penyuluhan kepada bank sampah dan masyarakat tentang aplikasi ini.

 

Bank Sampah yang menjadi host akan menerima banyak pesan dari warga yang telah memiliki sampah dan meminta segera diambil. Setelah menerima pesan, petugas pengambil sampah dari bank sampah akan mendatangi dan mengambil sampah dari warga yang telah mengirim informasi.

 

“Setelah sampah diambil, pemiliki akun limbah akan mendapat poin dari sampah yang dihasilkan. Pemilik poin dapat menukarkan barang-barang yang tersedia di bank sampah seperti sembako, hasil kerajinan, dan lain-lain,” kata salah satu tim perancang aplikasi, Dantik Puspita Sari yang didampingi teman satu timnya, Alan Dwi Prasetyo dan Malichah Muhtaromah.

 

Aplikasi ini, kata Dantik, dapat memudahkan masyarakat membuang sampah. Apalagi mereka yang sibuk sehingga tidak perlu membutuhkan waktu untuk membuang sampah.

 

diberitakan di Republika OnLine

 

Jerri Irgo