“Beberapa hasil karya inovasi yang akan dipamerkan di antaranya adalah Mobil Listrik. Inovasi ini memiliki kelebihan dibandingan dengan mobil listrik lain yaitu kendali utamanya menggunakan sistem operasi Android yang saat ini banyak digunakan untuk smartphone dan Aplikasi Celengan Limbah (CELI) yang menjuarai OSN Pertamina yang keduanya adalah karya mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII dan berbagai hasil karya inovasi lainnya”.

 

Hal tesebut disampaikan, Sigit Pamungkas, Kepala Divisi Pemasaran dan Admisi Universitas Islam Indonesia (UII) yang juga menjadi Ketua Panitia UII ODIEX 2014 dalam jumpa pers yang digelar di Gedung Prof. Ace Partadiredja, Kampus FE UII, Selasa (2/12).

 

“Semua hasil inovasi yang dipamerkan merupakan karya penelitian yang dimiliki oleh seluruh fakultas dan program studi. Untuk mendukung pameran tersebut juga akan digelar stan expo kewirausahaan mahasiswa, mitra industri dan desa binaan UII” pungkas Sigit.

 

Penyelenggaran UII Open Day & Innovation Expo (ODIEX) akan dilaksanakan pada tanggal 8 hingga 11 Desember 2014 di Gedung Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir  Kampus Terpadu UII Jl Kaliurang Km 14.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

 

Jerri Irgo

“Indonesia akan menjadi poros maritim dunia, kekuatan yang mengarungi dua samudra, sebagai bangsa bahari yang sejahtera dan berwibawa” demikian kutipan Jokowi dalam naskah pidato KTT ASEAN di Nya Pyi Taw, Myanmar beberapa waktu yang lalu.

 

Terkait dengan hal tersebut Magister teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (MI PPs FTI UII) Yogyakarta mengambil peran mendukung program tersebut melalui penelitian, diskusi maupun kajian ilmiah dalam kerangka akademis.

 

Sebagaimana dalam diskusi terbatas di Ruang PPs 1 Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII (02/12/2014).  Disampaikan Beni Suranto, S.T., M.SoftEng, Dosen pengampu konsentrasi Sistem Informasi Enterprise MI PPs FTI UII “Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dunia. Secara fisik, dia punya panjang garis pantai mencapai 81.000 kilometer dengan jumlah pulau mencapai lebih dari 17.500 pulau. Luas daratan 1,9 juta kilometer persegi, sementara luas perairan 3,1 juta kilometer persegi”

 

“Sektor perikanan merupakan potensi dan sebagai sumber pendapatan bagi daerah, Negara dan masyarakat khususnya nelayan. Melihat besarnya potensi yang ada perlu dikelola dengan baik sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat nelayan agar kesejahteraannya meningkat” ujar Beni yang juga menjabat Direktur Direktorat Pembinaan Bakat, Minat, dan Kesejahteraan Mahasiswa UII.

 

Dukungan akademis dari MI PPs FTI UII diantaranya akan mengembangkan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) yang datanya akan dapat digunakan untuk pembaharuan data terkini juga dapat digunakan sebagai pengambil keputusan serta menjadi informasi penelitian secara berkelanjutan.

 

Jerri irgo

Berita Egatama — Rasanya melegakan, mendengar sekian banyak hasil karya anak bangsa yang up to date. Setelah beberapa aplikasi andorid bermuatan lokal, kini ada lagi aplikasi android buatan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Aplikasi itu, unik. Namanya, Celi. Kependekan dari celengan limbah. Untuk apa aplikasi itu?

 

Bagi para pengguna smartphone dan ponsel canggih berbasis android atau ios, tentu sudah tidak asing dengan aplikasi yang dirilis oleh sebuah Bank. Aplikasi Bank dibuat untuk memudahkan nasabah melakukan transaksi perbankan melalui smartphone. Mulai dari transfer sejumlah uang, pembayaran tagihan dan sebagainya. Nah, dari aplikasi Bank itulah kemudian terbetik gagasan di benak para mahasiswa UII Yogyakarta untuk membuat aplikasi serupa yang dikhususkan untuk mengelola sampah.

 

Seperti diketahui, sekarang ini sudah banyak sekelompok masyarakat yang mahir mengelola sampah dan secara kreatif membuat bank sampah di kampungnya masing-masing. Dengan adanya Bank Sampah, selain sampah tidak dibuang di sembarang tempat, warga juga mendapat penghasilan tambahan dari limbah sampah yang sudah disetorkan ke Bank Sampah. Praktik pengelolaan sampah seperti itu sudah lama dijalankan. Pola kerja bank sampah juga mirip dengan aktivitas perbankan. Dan, setiap bank membuat aplikasi android untuk memudahkan nasabahnya bertransaksi via ponsel. Itulah yang mendasari pemikiran dari tiga mahasiwa UII Yogyakarta. Yaitu, membuat aplikasi android untuk Bank Sampah.

 

Tiga mahasiswa UII Yogyakarta itu, Dantik Puspitasari, Malichah Muctaromah dan Alan Dwi Prasetyo, mencipatkan aplikasi layanan bank sampah yang dioperasikan melalui ponsel pintar. Aplikasi itu diberi nama, ‘CELI’ akronim dari celengan limbah. Aplikasi tersebut akan menghubungkan pengelola Bank Sampah dengan para nasabahnya. Dantik menjelaskan, melalui aplikasi CELI, para nasabah Bank Sampah bisa mengirim pesan agar sampahnya segera diambil oleh Bank Sampah, atau sebaliknya. Melalui aplikasi tersebut, nasabah juga bisa mengetahui jumlah poin dari sampah yang sudah disetorkan atau dari sampah yang sudah dijualnya.

 

““Aplikasi ini sudah diterapkan di sejumlah Bank Sampah di Yogyakarta. Bahkan, aplikasi ini berhasil meraih juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional Pertamina 2014 kategori proyek sains aplikasi perangkat lunak”, ujar Dantik. (kt)

 

Diberitakan di BeritaHarianEgatawa

 

Jerri Irgo

Jogja (Antara Jogja) Tim Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta mengembangkan proyek sains yang menghasilkan perangkat lunak atau aplikasi celengan limbah pada “smartphone”

 

“Aplikasi ini memfasilitasi pengelolaan bank sampah yang sudah berjalan di beberapa saerah di Indonesia” kata koordinator tim mahasiswa UII, Dantik Puspita Sari di Yogyakarta Sabtu

 

Menurut dia, bank sampah merupakan suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah oleh warganya. Setiap warga memiliki tabungan yang berisi poin kontribusi pada proses pengumpulan limbah rumah tangga

 

selengkapnya diberitakan di AntaraNews Yogya

 

Jerri Irgo

TRIBUNNEWS.COM,SLEMAN – Berawal dari keprihatinan sulitnya menemukan bak sampah, Dantik Puspita Sari mahasiswi jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta angkatan 2012, bersama dua kawannya Alan Dwi Prasetyo dari jurusan yang sama dan Malichah Muchtarimah dari teknik kimia ciptakan aplikasi Celengan Limbah (Celi) untuk pengguna smartphone.

 

Dari aplikasinya tersebut, mereka telah menyabet pengghargaan juara pertama pada ajang tahunan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina 2014 untuk kategori proyek sains aplikasi perangkat lunak.

 

Dentik yang berasal dari Balikpapan menceritakan awal mula dia menciptakan aplikasi tersebut lantaran ketika hidup di Yogyakarta, dia merasa kesulitan ketika membuang sampah.

 

“Saya sulit mendapat bak sampah, bingung harus dibuang kemana, ketika di kos pun saya taunya sampah tersebut dibuang oleh pemilik kos, setelah saya telusuri ternyata sampah tersebut dibuang ke sungai,” ungkapnya.

 

Dari rasa keprihatinan tersebut, lantas dia menggandeng dua temannnya untuk dan bekerjasama dengan bank sampah Mekarasri di wilayah Brontokusuman, Yogyakarta dan menciptakan aplikas Celi (Celengan Limbah).

 

Dijelaskannya, Celi (Celengan Limbah) merupakan alat untuk mengirimkan pesan kepada server untuk memberitahukan bahwa si pengirim hendak mendistribusikan sampah yang ia miliki.

 

Sampah-sampah tersebut sendiri sebelumnya harus sudah dipilah dan dibedakan menurut jenisnya, yaitu sampah organik, ataupun sampah non-organik.

 

“Sehingga pihak pengelola bank sampah akan mendatangi rumah si pemilik limbah, dan dari setiap pengiriman limbah, nantinya akan mendapatkan poin yang tertera di dalam account pemilik limbah,” ungkapnya.

 

Diberitakan di Tribun Jogja

 

Jerri Irgo

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA–Aplikasi Celengan Limbah (Celi) karya mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta raih juara pertama pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina 2014 dalam kategori Proyek Sains Aplikasi Perangkat Lunak.

 

“Aplikasi ini dapat dikembangkan lebih besar khususnya bagi bank sampah yang tersebar di berbagai kota. Sebab sampah semakin banyak dihasilkan masyarakat, sehingga perlu pengelolaan yang lebih baik agar tidak menjadi bencana,” kata Rektor UII Yogyakarta Harsoyo, Sabtu (29/11).

 

Rektor sangat mengapresiasi prestasi yang diraih mahasiswa UII dan akan memberikan penghargaan bagi mahasiswa yang telah meraih juara di OSN Pertamina 2014. Ia juga berharap prestasi ini dapat mendorong mahasiswa UII lain untuk menjadi juara pada bidang ilmu yang digelutinya.

 

Aplikasi Celi ini menggunakan smartphone yang telah banyak dimiliki anggota rumah tangga. Penerapannya telah dilakukan di Bank Sampah Mekar Sari Karanganyar, Jawa Tengah. Langkah pertama, mahasiswa ini memberikan penyuluhan kepada bank sampah dan masyarakat tentang aplikasi ini.

 

Bank Sampah yang menjadi host akan menerima banyak pesan dari warga yang telah memiliki sampah dan meminta segera diambil. Setelah menerima pesan, petugas pengambil sampah dari bank sampah akan mendatangi dan mengambil sampah dari warga yang telah mengirim informasi.

 

“Setelah sampah diambil, pemiliki akun limbah akan mendapat poin dari sampah yang dihasilkan. Pemilik poin dapat menukarkan barang-barang yang tersedia di bank sampah seperti sembako, hasil kerajinan, dan lain-lain,” kata salah satu tim perancang aplikasi, Dantik Puspita Sari yang didampingi teman satu timnya, Alan Dwi Prasetyo dan Malichah Muhtaromah.

 

Aplikasi ini, kata Dantik, dapat memudahkan masyarakat membuang sampah. Apalagi mereka yang sibuk sehingga tidak perlu membutuhkan waktu untuk membuang sampah.

 

diberitakan di Republika OnLine

 

Jerri Irgo

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — President Direktur PT ILTHABI Rekatama (IR), Ilham Akbar Habibie mengatakan pemerintah harus meningkatkan anggaran untuk riset dan penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sebab dengan Iptek bangsa Indonesia bisa meningkatkan produtivitas industri.

 

Ilham mengemukakan hal itu pada Seminar Nasional Teknoin 2014 dengan tema Peningkatan Daya Saing Industri Nasional Berbasis Riset di Fakultas Teknologi Informatika (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu (22/11).

 

Peningkatan anggaran riset Iptek ini, jelas Ilham Habibie, dimaksudkan untuk mengubah perekonomian Indonesia dari komparatif kepada perekonomian kompetitif.

 

“Ekonomi komparatif adalah ekonomi yang hanya mengandalkan hasil bumi dan ini tidak berkelanjutan. Sedang ekonomi kompetitif harus didukung riset dan teknologi, serta pengetahuan inovatif,” kata Ilham yang juga putra mantan Presiden BJ Habibie.

 

Selama ini anggaran untuk riset di Indonesia masih berada di bawah angka satu persen dari Gross Domestik Product (GDP). Padahal idealnya anggaran riset sebesar satu persen dari GDP.

 

Lebih lanjut Ilham Habibie mengatakan merupakan hal yang urgen untuk meningkatkan kemampuan industri dalam negeri Indonesia.

 

Sebab Indonesia memiliki penduduk yang besar keempat di dunia merupakan aset, dan jangan sampai potensi ini jutru dinikmati negara lain.

 

“Sebagai contoh, produsen minyak terbesar dunia dalam satu tahun terakhir diduduki Amerika Serikat, menggeser Arab Saudi. Amerika menggunakan teknologi baru dalam pencarian minyak,” katanya.

 

Selain teknologi, untuk membangun industri besar, perlu ada kerjasama Akademisi, Bisnis, Community dan Governance (ABCG) untuk membentuk Cluster.

 

Apalagi satu bulan ke depan Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sehingga jalinan empat komponen bangsa (ABCG) harus dipererat.

 

Diberitakan di Republika OnLIne

 

Jerri Irgo

SLEMAN – Untuk Ciptakan Negara Maju yang Sejahtera. Kemiskinan menjadi faktor yang harus dituntas-kan oleh pemerintah demi men-ciptakan negara maju yang se-jahtera. Pernyataan ini dilontar-kan Ilham Akbar Habibie, pu-tera mantan Presiden BJ Habibie, dalam Seminar Nasional Teknoin 2014 di Fakutas Teknologi Indu-stri, Universitas Islam Indonesia (UII), kemarin (22/11). Selain meminimalisasi kemisk-inan, ada tiga hal penting lain yang harus jadi perhatian ne-gara. Yakni investasi human capital, investasi ilmu dan tek-nologi, serta pembinaan dan pengembangan inovasi dan en-trepreneurship sumber daya manusia.

 

Empat hal itu harus dijalankan. Namun, sebelumnya harus dila-kukan penggeseran pola pikir ekonomi yang selama ini meni-tikberatkan pada aset, diubah menjadi ilmu pengetahuan. “Itu saya ambil dari pernyataan pre-siden Chili pada acara APEC,” ujar peraih doktor-ingenieur di Technical University of Munich, Jerman, ini.

 

Dari pernyataan tersebut, Ilham lantas mengurai kenapa salah satu faktor penting berupa human capital, bukan human resource. Maksudnya, negara harus bisa menciptakan kesinambungan antara tempat belajar dengan lapangan kerja yang memadai, sehingga sumber daya manusia (SDM)  yang memiliki kompe-tensi sesuai bidang ilmu masing-masing bisa berkontribusi bagi negara. “Tidak bisa suatu negara hanya menciptakan SDM ber-kualitas tinggi, tapi tak diimbangi lapangan kerja,” ujarnya.

 

Sementara tentang ilmu dan teknologi (iptek), disebut in-vestasi. Sebab, iptek mahal har-ganya. Tanpa mengubah pola pikir bahwa iptek adalah in-vestasi, maka suau negara akan sulit maju. “Jadi jangan dilihat dari biayanya,” sambung Ilham yang kini menjabat CEO atau chairman di beberapa perusa-haan terkemuka.

 

Sementara soal kemiskinan adalah satu hal yang tak bisa di-pungkiri setiap negara. “Jerman dan Amerika Serikat juga punya warga miskin,” tutur Ilham. Per-masalahannya adalah apa yang harus dilakukan pemerintah un-tuk meminimalisasi kemiskinan.”Menurut Ilham, negara harus bisa menekan kesenjangan an-tara si miskin dan si kaya. Sema-kin maju suatu negara, tingkat kemiskinan harus makin kecil. Jika kesenjangan semakin lebar, justru bisa membahayakan ne-gara. (yog/laz/ong)

 

Diberitakan di Radar Jogja

 

Jerri Irgo

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Putra Presiden Ketiga RI BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie, mengimbau masyarakat Indonesia mengembangkan produk berbasis keunggulan kompetitif, bukan hanya keunggulan komparatif. Menurut dia, produk berbasis keunggulan kompetitif merupakan produk masyarakat negara maju.

 

“Contohnya Amerika Serikat. Melalui keunggulan teknologinya, yang merupakan keunggulan kompetitif, kini menjadi penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Bukan lagi Arab Saudi,” kata dia Ilham pada Seminar Nasional Teknoin di Kampus Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, Sabtu (22/11/2014).

 

Ia mengemukakan, teknologi sering dianggap masyarakat dan pemerintah Indonesia sebagai beban. Padahal, kata dia, pemanfaatan dan penggunaan teknologi tinggi harusnya dianggap sebagai investasi. “Investasi iptek bukan beban berbiaya mahal,” ujar lulusan Technical University of Munich, Jerman, itu.

 

Pada kesempatan itu, Ilham juga mengajak kalangan akademisi dan pengembang industri lainnya tidak lagi memandang sumber daya manusia sebagai human resources, tetapi sebagai human capital. “Beda antara human resources dengan human capital,” ucap dia.

 

Menurut anak pertama BJ Habibie dan Ainun itu, jika sumber daya manusia dipandang sebagai human capital, akademisi dan pengusaha wajib menjaga dan mengembangkannya agar tidak terdepresiasi. Ilham menyebutkan, manusia dengan pendidikan tinggi yang tidak mampu berkarya dan berprestasi pada bidangnya termasuk kategori terdepresiasi.

 

Untuk bisa memiliki keunggulan di masa depan, masyarakat harus mengembangkan inovasi sehingga memunculkan diferensiasi produk. Yang tidak kalah penting, kata dia, menumbuhkan efisiensi dan sikap toleran. Tanpa sikap toleran di antara masyarakat, pengembangan akan sulit dilakukan.

 

Dia juga meminta peneliti Indonesia banyak membuat jurnal ilmiah internasional agar gagasannya bisa dibaca sehingga diakui masyarakat dunia. Ilham memandang selama ini Indonesia kurang diakui lantaran kurang publikasi jurnal ilmiah. “Karena tidak banyak yang tahu, publikasi di jurnal internasional sangat sedikit. Dengan Malaysia pun kalah,” kata Presiden Direktur PT Ilthabi Bara Utama itu.

 

Diberitakan di MetroTV

 

Jerri Irgo

YOGYAKARTA,(PRLM).-Produk pesawat dalam negeri, the Regioprope atau R-80, yang diandalkan untuk penerbangan antarkota dan pulau, pemasarannya cukup dari dalam negeri sudah bisa menutup biaya produksi atau break event point (BEP).

 

Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Akbar Habibie, selaku produsen pesawat R-80, menyatakan pesawat yang dirancang mantan Presiden BJ Habibie dan dirinya didedikasikan untuk penerbangan jarak pendek.

 

Karakter pesawat ini dapat dikendalikan secara elektronik (fly by wire), perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di body pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada engine di belakang pesawat lebih tinggi (by pass ratio).

 

Dibandingkan Airbus dan Boeing, bypass ratio 12, sementara R-80 bypass ratio mencapai 40, makanya semakin tinggi terbang semakin cepat dan makin efisien bahan bakar. Adapun kapasitas penumpang sekitar 80 orang.

 

Karakter pesawat baling-baling tersebut, menurut Ilham, sangat cocok dengan kawasan maritime atau kepulauan di Indonesia dan cocok juga untuk penerbangan jarak pendek seperti penerbangan Yogyakarta-Semarang, Surabaya-Banyuwangi. Kemudian, pesawat demikian hanya memerluklan landasan pendek.

 

Menurut dia respon para pengusaha industri penerbangan dalam negeri sangat respek dengan produk R-80. Mereka sangat paham dengan kebutuhan pesawat untuk penerbangan jarak pendek dan biaya operasional yang murah, serta bahan bakar efisien, sesuai dengan karakter tarif rendah penumpang jarak dekat,

 

“Dengan demikian, Saya bisa menjamin untuk mendapat BEP pesawat R-80, cukup dengan menjual pesawat di dalam negeri,” kata dia, Minggu (23/11/2014).

 

Dia berada di Yogyakart menjadi pembicara kunci dalam seminar Teknoin 2014 di Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII).

 

Putra mantan presiden BJ Habibie tersebut menyampaikan sejumlah perusahaan penerbangan telah menekan kesepakatan atau letter of inten (LOI) untuk pemesanan R-80, antara lain NAM Air (anak perusahaan penerbangan Sriwijaya Air), Trigana Air, Kalstar,dan sejumlah perusahaan penerbangan lainnya. “Mereka telah memesan 160 pesawat,” kata dia.

 

R-80 diproduksi di PT Dirgantara Indonesia Bandung, diperkirakan terbang perdana 2018 dan proses sertifikasi kelaikan udara 2019. Adapun perawatan, menurut Ilham, ditempatkan di Batam. (A-84/A-89)***

 

Diberitakan di Pikiran Rakyat

 

Jerri Irgo