Posts

Selama masa pandemi di penghujung tahun 2020, Universitas Islam Indonesia (UII) tidak berhenti dan terus melakukan kegiatan produktif,  bahkan pada hari Selasa, 22 Desember 2020, menyambut 12 Doktor Baru dimana 5 diantaranya berasal dari Fakultas Teknologi Industri (FTI).

Kelima Doktor Baru tersebut yaitu Firdaus, S.T., M.T., Ph.D.,  Mohammad Faizun., S.T., M.Eng., Ph.D., Bambang Suratno,  S.T., M.T., Ph,D., Dr. Yudi Prayudi., S.Si., M.Kom dan Irving Vitra Paputungan., S.T., M.Sc., Ph.D.

Rektor UII, Prof Fathul Wahid., S.T., M.Sc., Ph.D dalam sambutannya yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube UII, mengingatkan sebagai warga elit ada tanggung jawab besar yang menyertai. Walau tidak tertulis, bahkan tidak dapat dipaksa siapapun, tanggung jawab besar bagi orang-orang yang memiliki kuasa besar harus disadari masing-masing individu.

Baca Juga: Doktor Baru Mengemban Amanah Keilmuan dan Sosial

Prof Fathul membingkai posisi itu dalam dua konsep. Pertama, ulul albab atau orang yang akalnya berlapis dan memiliki misi berzikir dan berpikir. Secara luas berzikir itu tidak hanya vertikal transendental kepada Allah SWT, tapi horizontal ke sosial.

Bagi Prof Fathul, peduli kondisi bangsa masuk dalam zikir sosial yang artinya mengingat dan dari mengingat itu menghasilkan peduli. Sebab, ia menekankan, orang yang tidak peduli tidak akan ingat dengan realitas yang ada, bahkan yang ada di sekitarnya.

Konsep kedua al rasikhuna fi al ilmi atau orang yang mendalam ilmunya. Dia memahami kedalaman ilmu seharusnya membimbing kepada Sang Pemilik Ilmu, apalagi kedalaman ini hanya perspektif manusia karena jelas dalam pandangan Allah begitu kecilnya.

Dalam pandangan-Nya manusia tidak diberi ilmu kecuali sedikit dibanding ilmu Allah SWT yang tidak habis ditulis jika air laut jadi tinta dan pepohonan jadi penanya. Metafora ini menggambarkan keluasan ilmu Allah SWT dan kekerdilan pengetahuan kita.

Untuk itu, dia menekankan, kehadiran Doktor Baru ini memang mutlak harus menjadi rasa syukur kita kepada Allah SWT yang memberikan ilmu. Fathul mengingatkan, masih sangat banyak rahasia Allah SWT tersembunyi yang masih belum kita singkap.

“Saya berharap, kedua konsep ini bisa direfleksikan masing-masing, apa yang bisa kita lakukan sebagai dosen, khususnya doktor, sebagai ulul albab atau berzikir dan berpikir, serta al rasikhuna fi al ilmi atau yang mendalam ilmunya,” pungkas Prof Fathul.

Jerri

Prof Fathul Wahid, ST, M,Sc., Ph.D,  Rektor Universitas Islam Indonesia

= =

 

Ujang, Ketua OSIS SMA Tunas Muda sedang galau. Masa pengabdiannya sudah hampir pungkas. Setahun mengabdi memimpin kawan-kawannya terasa sangat singkat. Waktu luang di sela menunaikan kewajiban sebagai siswa SMA digunakannya untuk mengasah diri: menjadi pemimpin muda.

Ujang mengasah kemampuan komunikasi. Saat ini, dia cukup lihai menjadi pembicara publik. Kemampuan menulisnya pun semakin tajam. Dia terbiasa menghadapi kawan-kawannya yang beragam. Dia lebih terbiasa menjadi pendengar. Dia sadar, sebagai pemimpin tidak cukup dengan kemampuan berbicara, tetapi perlu dilengkapi dengan menjadi pendengar yang baik.

Ketika banyak kawannya kesulitan membagi waktu di antara bejibun tugas sekolah, Ujang seakan santai, karena terbiasa mengelola waktu dengan efektif. Dia sadar, menjadi pemimpin harus berpikir beberapa langkah di di depan. Dia harus lebih sensitif dengan perkembangan yang ada.

Intinya, di penghujung masa pengabdiannya, Ujang merasa menjadi manusia baru. Manusia yang lebih siap bertumbuh dan adaptif di beragam lingkungan.

Tetapi mengapa dari sekian banyak keuntungan menjadi aktivis, Ujang kesulitan mendapatkan kader yang akan menggantikannya? Banyak adik kelasnya yang masih galau dan bertanya: “Ngapain repot-repot menjadi aktivis? Toh tidak ada yang menghargai. Waktu untuk main tersita.”

Ujang teringat dengan Greta Thunberg, aktivis lingkungan muda asal Swedia yang sangat berani itu. Majalah TIME menobatkannya menjadi Person of the Year 2019. Terlintas juga Malala Yousafzai asal Pakistan yang memperjuangkan hak pendidikan kaum hawa. Malala, pada 2013, dinobatkan majalah TIME sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di muka bumi.

Mata Ujang menerawang kosong, sampai dia mendapatkan informasi admisi mahasiswa baru sebuah universitas di lereng Merapi. “Aha, eureka!”, teriak Ujang. “Sekarang saya punya tambahan amunisi mengajak adik kelas untuk menjadi aktivis”, gumamnya.

Pertanyaan: universitas manakah yang menghargai para aktivis SMA tersebut?

Petunjuk: pmb.uii.ac.id/ppm

Catatan: Cerita di atas fiktif belaka. Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan, kecuali  lokasi sebuah universitas di lereng Merapi yang memang disengaja.

Sumber : Facebook Fathul Wahid

Prof Fathul Wahid, ST, M,Sc., Ph.D,  Rektor Universitas Islam Indonesia

= =

 

Tenaga kesehatan (nakes), tenaga medis dan paramedis, memainkan peran yang sangat penting dalam penanganan pandemi Covid-19. Kita sudah selayaknya angkat topi untuk mereka sebagai tanda takzim.

Benteng terakhir

Mari tempatkan nakes sebagai benteng pertahanan terakhir di kala pandemi ini. Mereka bukan pasukan yang berada di garda terdepan, seperti narasi publik yang beredar saat ini. Tidak ada yang salah dengan narasi ini, tapi ini bisa memunculkan kesadaran yang keliru.

Alam bawah sadar sebagian kita akan mengatakan: “Kita punya nakes yang berada di garda terdepan. Kita aman. Mari, kita tetap menikmati hidup: rekreasi dan bercengkerama di tengah kerumunan. Beragam berita pembubaran keramaian dan kerumuman warga oleh aparat, menjadi bukti empiris.

Bayangkan kalau kita tidak menambah kerepotan para nakes di Puskesmas dan rumah sakit. Tanpa pasien terpapar Covid-19 pun, mereka sudah mempunyai banyak pasien yang membutuhkan bantuan. Pasien Covid-19 akan menambah beban mereka, meski penulis sangat yakin mereka, para nakes, akan melakukannya dengan sepenuh hati. Nakes berhati mulia di kala seperti ini, jika tidak dapat terlibat aktif, akan terasa teriris hatinya dan lunglai nuraninya.

Benteng pertahanan terakhir itu kadang jebol karena pasien atau keluarga pasien tidak jujur. Pasien ini ibarat Kuda Troya yang digagas Odysseus untuk menjebol dan menaklukkan Kota Troya, dalam mitologi Yunani, yang langsung menyerang ke jantung pertahanan. Beberapa yang terpapar dan meninggal merupakan nakes yang tidak berada di ruang isolasi dengan protokol ketat dan bahkan direktur rumah sakit.

Garda terdepan

Lantas, siapa yang berada di garda terdepan? Kita. Ya, kita. Kita adalah bak para bidak yang menahan serangan terhadap raja dan ratu dalam permainan catur. Ketika garda terdepan terkoyak, karena bidak tidak hati-hati dalam melangkah, raja dan ratu akan berada dalam ancaman. Tenaga medis adalah para raja dan ratu yang harus kita lindungi.

Caranya? Inilah saatnya, semua orang bisa mengambil peran untuk menyelamatkan umat manusia, termasuk dengan berdiam diri di rumah, menikmati waktu bersama keluarga. Jika terpaksa atau panggilan tugas mengharuskan keluar rumah, pastikan untuk menyiapkan: imunitas yang tinggi, istikamah dalam menjaga jarak fisik, menjaga kebersihan tangan, tidak latah mengusap hidup, mulut, dan mata, serta mengenakan alat pelindung diri yang mencukupi (seperti masker).

Sebagian dari kita mungkin merasa hebat, mempunyai imunitas yang baik. Tetapi jangan lupa, di rumah, ada orang tua dan anak kecil, orang-orang terkasih, yang rentan terpapar virus. Jangan egois. Setiap risiko paparan, harus diperhitungkan, karena frasa “memutar ulang waktu” hanya ada di kamusnya Doraemon. Pertimbangan matang selalu muncul di depan. Kalau di belakang, namanya penyesalan.

Dekatkan jarak sosial

Satu hal lagi, terakhir tetapi bukan afkir. Yang diperlukan saat ini adalah menjaga jarak fisik, bukan menjaga jarak sosial. Frasa dalam imbauan WHO sudah direvisi. Secara sosial justru kita harus saling mendukung dan menguatkan. Yang kuat, bantu yang lemah. Yang berpunya, sisihkan sebagian hartanya untuk yang papa. Sisihkan juga sebagian untuk penyediaan alat pelindung diri dan perangkat pendukung kesehatan lain, untuk nakes dan warga yang membutuhkan.

Tidak kalah penting, mari sebarkan semangat optimisme yang terukur, bukan optimisme yang meninabobokan, dan sebaliknya, bukan pula pesimisme yang menggerus energi positif. Hentikan juga mengirim informasi yang menyesatkan atau meningkatkan kegalauan di media sosial. Gantilah dengan pesan positif: kitalah yang berada di garda terdepan, untuk melindungi orang-orang terkasih yang rentan, dan para nakes yang menjaga benteng pertahanan terakhir.

Selain menunaikan beragam ikhtiar, mari jangan lelah mengetuk pintu langit, dengan iringan doa, semoga wabah ini lekas sirna dari muka bumi. Setelahnya, kita akan sambut wajah yang sumringah, hati yang tawaduk, dan rasa kesetiakawanan sosial yang mengental. Kengerian akan terurai, rasa jumawa bakal sirna, dan egoisme segera tergerus. Insyaallah.

Sumber : Republika

Rektor Universitas Islam Indonesia, mengeluarkan Surat Edaran Rektor Nomor: 1499/Rek/10/SP/IV/2020 tentang Pembelajaran Daring, Libur dan Jam Kerja Selama Ramadan, dan Layanan Konseling

Dengan mempertimbangkan:

    1. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Penanganan Covid-19;
    2. Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19;
    3. Surat Edaran Kementerian Pendidikan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Coronavirus Disease (Covid-2019) pada Satuan Pendidikan;
    4. Surat Keputusan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 13A Tahun 2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia;
    5. Perkembangan mutakhir terkait dengan penyebaran Coronavirus Disease (Covid-2019) yang belum menunjukkan tanda mereda,

dan dengan berpegang pada kaidah dar’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih (menghindari kerusakan lebih utama dibandingkan meraih kebaikan), maka dengan ini, Universitas Islam Indonesia mengambil kebijakan sebagai berikut:

Kerja dari rumah dan kegiatan di kampus

  1. Memperpanjang peniadaan layanan yang memerlukan tatap muka di seluruh unit Universitas Islam Indonesia, dan menggantikan sepenuhnya dengan Kerja dari Rumah (KdR), sampai dengan 1 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir.
  2. Memperpanjang peniadaan semua kegiatan akademik dan non-akademik yang memerlukan pertemuan fisik atau mengumpulkan orang banyak di lingkungan kampus Universitas Islam Indonesia, sampai dengan 1 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir
  3. Meminta semua mitra Universitas Islam Indonesia yang mempunyai konter layanan di dalam kampus (seperti bank dan kantin) untuk juga memperpanjang peniadaan layanan yang memerlukan kehadiran fisik, sampai dengan 1 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir
  4. Menegaskan untuk meminta semua tenaga kependidikan dan dosen menjalankan Kerja dari Rumah (KdR) dari tempat tinggalnya masing-masing (asrama, rumah sewaan, kamar sewaan, pondok pesantren, rumah tinggal) dan tidak melakukan perjalanan pulang kampung atau ke luar kota.
  5. Jika dan hanya jika dalam kondisi yang sangat khusus dan mendesak (seperti pengamanan kampus dan pencetakan ijazah), mengizinkan unit untuk bekerja di kantor dengan sif dan menjalankan protokol yang ketat.
  6. Meminta semua unit untuk lebih hati-hati mengamankan aset yang ada di kampus selama masa Kerja dari Rumah (KdR).

Libur awal Ramadan dan jam kerja

  1. Memutuskan Jumat, 24 April 2020 sebagai hari libur, sehingga seluruh kegiatan akademik dan non-akademik pada waktu tersebut diliburkan, termasuk pembelajaran daring, Kerja dari Rumah (KdR), dan pemberian layanan lain.
  1. Memutuskan jam kerja selama bulan Ramadan adalah Senin s.d. Jumat, jam 08.00 s.d. 15.00 WIB.

Pembelajaran daring dan Ujian Tengah Semester

  1. Menegaskan kembali bahwa masa pembelajaran daring sampai dengan 7 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir
  1. Mengizinkan mahasiswa yang belum membayar angsuran ke-4 karena terdampak wabah Covid-19 mengikuti Ujian Tengah Semester.
  1. Meminta kepada semua dosen untuk meningkatkan kepedulian dalam mempertimbangkan masalah yang mungkin muncul karena pembelajaran daring, termasuk distres mahasiswa yang kewalahan dengan tugas dari semua matakuliah yang diambil dan kualitas koneksi Internet di tempat tinggal mahasiswa yang tidak mendukung.
  1. Meminta kepada semua ketua program studi untuk secara periodik mengkoordinasikan evaluasi pelaksanaan pembelajaran daring, termasuk mode pembelajaran (seperti sinkron [satu waktu, beda tempat] dan asinkron [beda waktu, beda tempat] dengan variasi turunannnya), model penugasan, dan pengelolaan beban tugas kepada mahasiswa.

Layanan konseling dan informasi

  1. Menyediakan layanan konseling psikologis dan medis melalui nomor WhatsApp 085287373839.
  1. Menyediakan layanan informasi lainnya melalui Tim UII Siaga Covid-19 yang dapat dihubungi di 082131737773 (telepon, WhatsApp) dan informasi terkait kebijakan Universitas Islam Indonesia yang dapat diakses di https://uii.ac.id/covid-19.

Catatan lain-lain

  1. Kebijakan ini melengkapi surat edaran terkait yang telah dikeluarkan sebelumnya.
  2. Poin-poin pada surat edaran sebelumnya yang bertentangan dengan surat edaran ini dinyatakan tidak berlaku.
  3. Jika terdapat perkembangan lain yang perlu diperhatikan, pengumuman lebih lanjut akan disampaikan.

Sambil mengerjakan semua ikhtiar, mengajak semua sivitas Universitas Islam Indonesia untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan kualitas amalan terbaik, termasuk memperbanyak sedekah.

Semoga Allah meridai semua ikhtiar kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Yogyakarta, 15 Syakban 1441/8 April 2020

Rektor,

Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D.

= = =

unduh Surat Edaran Rektor Nomor: 1499/Rek/10/SP/IV/2020

Bantuan untuk Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang mata pencarian orangtua/penanggung biaya kuliah terdampak wabah Covid-19, Besaran bantuan didasarkan pada tingkat keterdampakan.

Beryukurlah kepada Allah, jika mata pencarian orangtua/penanggung biaya kuliah tidak terdampak. Bantulah yang terdampak dengan cara membayar biaya kuliah pada waktunya, sehingga proses bisnis dan layanan UII masih dapat berjalan dengan baik.

Terkhusus untuk adik-adik saya, mahasiswa Universitas Islam Indonesia, yang berbahagia, para pejuang penuntut ilmu. Kami mengeluarkan kebijakan baru untuk membantu mahasiswa yang terdampak wabah Covid-19. Saya yakin, kebijakan ini tidak akan bisa memuaskan semua pihak, tetapi ini ikhtiar terbaik yang mungkin kami lakukan. Semoga dapat sedikit meringankan beban. Bismillah. Semoga Allah meridai UII. Amin.

Rektor UII

Prof. Fathul Wahid., S.T., M.Sc., Ph.D

= = = =

 

 

“Orang sering menghubungkan mahadata, big data, sains data dengan era industri 4.0, namun ada hal yang sering terlupakan, atau minimal tidak terpikirkan, yaitu terkait dengan etika. Sains data yang merupakan memanen atau penambangan yang diambil dari banyak data dari banyak sumber dari konsumen, jika tidak dibingkai pengelolaan dengan etika, dapat berlari ke arah yang salah”.

Ungkap Fathul Wahid., S.T., M.Sc., Ph.D., Rektor Universitas Islam Indonesia, saat membuka secara resmi SNATI 2019 Industri 4.0 dengan tema Peran Sains Data dari Perspektif Akademisi dan Praktisi. SNATI 2019 diselenggarakan di Yogyakarta oleh Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (03 Agustus 2019).

Fathul Wahid, menambahkan tema SNATI 2019 Industri 4.0 relevan dengan apa yang dikembangkan saat ini oleh Universitas Islam Indonesia, diantaranya pembukaan konsentrasi Sains Data oleh Program Studi Teknik Informatika Program Magister FTI UII.

“Perusahan-peusahaan yang sekarang kita kenalpun, pada suatu masa, kalau kita lacak ke belakang, juga melakukan seperti itu, yaitu menambang data dari konsumen, tanpa sepengetahuan tapi digunakan diluar yang seharusnya. Hal tersebut menyedihkan, menakutkan, mengkhawatirkan karena dapat mengancam seseorang dan demokrasi. Hal ini menarik jika sain data tidak dibingkai dengan etika dapat berlari ke arah yang sesat” tuturnya.

Fathul Wahid menegaskan “Yang perlu dicermati juga dengan adanya surplus pengintaian, mengapa? Karena pengambilan data berlebih dan disimpan untuk diolah ulang untuk banyak hal, beberapa diantaranya untuk memprediksi produk, juga memprediksi perilaku dan kadang kita tidak sadar ujungnya adalah rekayasa perilaku, dan kadang kita tidak sadar perilaku kita direkayasa, berdasarkan keseharian dan kita dapat diarahkan oleh rekayasa tersebut”.

“Dengan banyaknya ahli dan peneliti yang hadir, berharap di SNATI 2019 dapat mendiskusikan karena pengelolaan maha data tidak hanya faktor teknis namun juga ada faktor non teknis, sehingga bagaimana menguatkan sisi positif dan menekan potensi buruk dari penggunaan mahadata dapat diminimalkan: tutur Fathul Wahid

Secara terpisah Moh. Idris,. S.Kom,. M.Kom, Ketua Pelaksana SNATI 2019 Industri 4.0 menambahkan “Hadir sebagai keynote speech Ridho Rachmadi, S.T., M.Sc., Ph.D, Kepala Pusat Studi Data Science UII Jurusan Teknik Informatika FTI UII dan Fadhilur Rizki, Data Scientist Bukalapak”.

Prof. Dr. Ir,, Hari Purnomo., M.T., Dekan FTI UII, Hendrik, Ketua Jurusan Teknik Informatika FTI UII dan Dr. R. Teduh Dirgahayu, S.T., M.Sc., Ketua Program Studi Teknik Informatika Program Sarjana FTI UII serta Tamu Undangan tampak hadir di sesi pembukaan.

“Alhamdulillah di tahun ke 15 ini, SNATI 2019 Industri 4.0 menerima 108 makalah namun hanya 29 makalah yang diterima dan paparkan di depan reviewer” pungkas Moh. Idris

Jerri Irgo

Qammaddin, S,Kom., M.Kom., Lulusan Pascasarjana Magister Teknik Informatika FTI UII, konsentrasi Sistem informasi Enterprise tahun 2012, terpilih menjadi Ketua Ikatan Alumni (IKA) Magister Teknik Informatika FTI UII, secara aklamasi di Musyawarah Nasional (Munas) 1 tahun 2018 yang diselenggarakan di Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (15 Desember 2018)

Salah satu wujud nyata dari kegiatan Munas tersebut adalah upaya mendorong 3 pilar untuk keselarasan antara Alumni, Almamater di dalamnya ada unsur Dosen dan Mahasiswa serta dunia kerja atau dunia bisnis” ungkap Qammaddin, Dosen Fakultas Teknologi Informasi Universitas Sembilanbelas November Kolaka, yang beralamat di Jalan Pemuda, No. 339, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Indonesia.

Peneliti bidang penerbangan juga aktif sebagai trainer, programming, multimedia, Qammaddin menjelaskan “tiga pilar tersebut haruslah efektif, sehingga keberadaan organisasi alumni ini menjadi dapat dirasakan. Apapun yang dilakukan oleh IKA haruslah mengacu pada kebutuhan alumni, almamater, dan dunia kerja/dunia bisnis”.

Kebutuhan para alumni adalah mempererat silaturahim dan yang paling utama dapat saling memberdayakan, sehingga tercipta kekompakan dan kebersamaan. “Sedangkan kebutuhan almamater termasuk para dosen dan mahasiswa adalah mengetahui keberadaan alumni. Bangga atas kesuksesan alumni tentu memiliki garis lurus dengan kebanggaan almamater atas proses pembelajaran” jelasnya

Bagi dunia bisnis, alumni adalah sumber daya yang diharapkan dapat menjadikan dunia kerja/dunia bisnis lebih produktif dan maju. Alangkah bangganya kontribusi strategis itu banyak dilakukan oleh para alumni Prodi Teknik Informatika Program Magister

Qammaddin kembali menjelaskan “Untuk itu butuh dukungan dan komitmen yg kuat, bukan hanya doa namun tentu saja peran aktif dan kontribusi konkret sehingga organisasi ini dapat berdaya”.

Kegiatan Munas, selain silaturahmi, kedatangan perwakilan alumni dari penjuru mata angin itu juga dalam rangka mempelajari program kerjasama yang telah, sedang, dan akan dijalankan bersama dengan salah satu tujuannya menjalin keselarasan antara dunia kerja dengan dunia pendidikan.

Kegiatan Munas dibuka secara resmi oleh Fathul Wahid., ST., M.Sc., Ph.D, Rektor UII, selain para Alumni juga dihadiri Ketua Jurusan Teknik Informatika, Hendrik, ST., M.Eng, didampingi Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Informatika, Program Sarjana, Dr. R. Teduh Dirgahayu, ST., M.Sc dan Sekretaris Program Studi (Prodi) Teknik Informatika, Program Sarjana, Dhomas Hatta Fudholi, S.T., M.Eng., Ph.D serta tampak hadir juga Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Informatika, Program Magister, Izzati Muhimmah, S.T., M.Sc., Ph.D dan Rahadian Kurniawan, S.Kom., M.Kom., Manajer Administrasi Keilmuan Magister Teknik Informatika FTI UII.

Jerri Irgo

Program Studi Magister Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia membuka konsentrasi baru, yaitu Sain Data. Hal tersebut untuk merespon perkembangan keilmuan dan kebutuhan profesional di bidang Big Data.

Dosen / Pengajar,  diantaranya:

  • Fathul Wahid, Ph.D
  • Ismail Fahmi, Ph.D
  • Dr. R. Teduh Dirgahayu
  • Dr. R. Bagus Fajriya Hakim S.Si., M.Si
  • Dr. Mukhammad Andri Setiawan

Pendaftaran sampai dengan 24 Agustus 2018.

Informasi lengkap beserta prosedur pendaftaran dapat diakses : master-fit.uii.ac.id atau dapat hubungi Jerri Irgo : 0813.9246.9391

 

 

Fathul Wahid, Ph.D, Rektor Universitas Islam Indonesia didampingi Prof Dr Ir Hari Purnomo, Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), menerima visitasi Tim Asesmen Lapangan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), dalam rangka akreditasi Program Studi (Prodi) Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta.

Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Prof. Dr. Ir. Soeprijanto, M.Sc dan Prof. Dr. Widayat, S,T., M.T., melakukan visitasi ke Program Studi (Prodi) Teknik Kimia FTI UII diterima di Ruang Dekanat FTI UII, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Jl Kaliurang Km 14,4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (5 Juli 2018).

Sholeh Ma’mun, S.T., M.T., Ph.D. Ketua Tim Visitasi Prodi Teknik Kimia menyampaikan Proses asesmen lapang yang dilakukan oleh Asesor BAN PT untuk memastikan apa yang sudah ditulis dalam dokumen borang, benar adanya. Selain itu, selama 2 hari, (05 dan 06 Juli 2018 -red), Tim Asesor BAN PT juga mempertanyakan bukti berupa dokumen atau sistem yang mendukung.

“Alhamdulillah pendukung dapat kita perlihatkan dengan baik. Hasil penilaian mudah-mudahan berada pada hasil yang terbaik dan membawa berkah” ujarnya

Lebih lanjut Sholeh Ma’mun mengatakan, “selain itu Tim Asesor melakukan kunjungan ke Divisi di lingkungan FTI UII dan Laboratorium Prodi Teknik Kimia serta Laboratorium Terpadu untuk memastikan semua sejalan dengan standard atau kriteria BAN PT, termasuk dokumen, sistem, proses, dan lain sebagainya”.

Jerri Irgo

Alhamdulillah,  Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) akhirnya memilih dan menetapkan Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D sebagai Rektor UII periode 2018-2022 berdasarkan Ketetapan Panitia Pemilihan Rektor No 08/SK-PP/III/2018 tentang Penetapan Rektor Terpilih UII periode  2018-2022.

Izzati Muhimmah, ST., M.Sc, Ph.D, Anggota Panitia Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor UII, representatif dari FTI UII, ungkapkan hal tesebut melalui pesan singkatnya (8 Rajab 1439 H / 26 Maret 2018)

Baca : Fathul, UII Siap Hadapi Digitalisasi Universitas 

Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) yang lahir di Jepara, 26 Januari 1974, tercatat menjadi Rektor termuda dalam sejarah UII,

Pernah menulis di blognya Fathul Wahid – Just another humble person (19 December 2009) tentang Calon Pemimpin Kampus. “Suatu ketika saya sedang ngobrol dengan beberapa kawan dan saya ditanya seorang kawan, “Siapa yang pantas jadi rektor?”. Waduh. Jawaban saya kadang asal, kadang agak serius” tulis Pakar Teknologi Informasi tersebut

Baca Juga : Calon Pemimpin Kampus

Pemimpin kampus harus tahu mau kemana akan membawa kampus ke depan, ngerti arep ngopo, visioner. Dia harus orang yang intellectually capable. Kata seorang kawan, harus pinter. Tanpa ini kok rasanya sulit untuk memenangkan persaingan ke depan.

Selain itu, pemimpin kampus harus orang yang suka bekerja keras, gelem kerjo. Seorang kawan menyebutnya harus kober. Diperlukan pimpinan yang dapat memberi contoh tentang arti kerja keras. Pimpinan tidak selayaknya hanya tunjuk sana sini, tanpa bisa memberikan contoh. Kalau perlu datang sebelum yang lain datang, dan pulang paling akhir. Rekam jejak selama ini bisa dijadikan acuan.

Baca Juga : Fathul, Raih Suara Calon Rektor Tertinggi

Pemimpin kampus juga harus socially acceptable, diterimo konco-konco. Kawan saya menyebutnya pener. Dalam konteks yang loosely coupled seperti universitas, pemimpin harus menjadi perekat dan bisa masuk ke semua kalangan. Kehadiran dia menyejukkan. Kehadirannya menjadikan suasana menjadi lebih semarak dan berwarna. Karenanya, pemimpin seperti ini biasanya lebih terbuka terhadap kritik dan saran.

Yang terakhir, pemimpin kampus harus punyak jaringan yang baik, duwe bolo. Betul, jaringan bisa dibuat sewaktu menjadi pemimpin, tetapi untuk percepatan yang baik, harus tidak dimulai dari nol. Tune-in diperlukan beberapa saat, tetapi setelah itu, harus menjadi pemain yang diperhitungkan.

Mau ditambah? Ini jawaban “asal” saya ketika ditanya senior saya yang ahli agama. Kalau rektor sholat subuhnya ke masjid pasti tambah sip! Orang yang selalu sholat subuh ke masjid pastilah orang yang rajin, suka bekerja keras, menghindari kesenangan pribadi, dan jiwa sosialnya tinggi.

Selamat ya pak Fathul Wahid.
Semoga Allah meridhoi UII, Aamiinn

Jerri Irgo