Posts

Dr. Zaroni

Head of Consulting Division Supply Chain Indonesia / Dosen Prodi Teknik Industri Program Magister FTI UII

 

Pandemik Covid-19 telah memengaruhi semua ekosistem kehidupan dan ekonomi. Tidak hanya kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Pandemik ini berimbas pada kemandekan ekonomi. Kita dipaksa memaknai ulang sesuatu yang telah menjadi kebiasaan atau normal. Kita memasuki era kenormalan baru (new normal)

Seberapa lama Pandemik Covid-19 ini? Tergantung pada efektivitas pengendaliannya. Berbagai skenario pengendalian penyebaran Covid-19 dan perkiraan puncak siklus telah banyak diprediksi. Salah satunya, prediksi Budi Sulistiyo et al yang telah merilis laporan Pemodelan Multiskenario dan Rekomendasi Strategi Pengendalian Penyebaran Covid-19 di Indonesia (2020) menyebutkan bila skenario physical distancing diterapkan cukup moderat, maka perkiraan akhir siklus akan berakhir 13 November 2020 dengan perkiraan akumulasi kasus terkonfimasi positif Covid-19 sebanyak 43.130 kasus.

Sebaliknya, bila skenario physical distancing diterapkan longgar, diperkirakan akhri siklus baru berakhir 18 Maret 2021. Dampaknya, akumulasi kasus yang terkonfirmasi menjadi 1.892.000 kasus, dengan perkiraan puncak siklus terjadi pada 12 Juli 2020 dengan puncak kasus harian mencapai 14.720. Mencermati berbagai skenario dan perkiraan penyebaran Covid-19 ini, isu penting yang perlu menjadi perhatian kita adalah Bagaimana kita merespon dan melakukan pemulihan. Bagi para pengusaha dan pemimpin bisnis, bagaimana melindungi keselamatan pekerja? Bagaimana tetap menjaga operasional dan menyediakan layanan kepada pelanggan? Dan bagaimana tetap menjaga keberlangsungan (going concern) perusahaan? Bagaimana pengaruh Pandemik Covid-19 terhadap sektor usaha? Dampaknya luar biasa.

Pada kondisi sebelum Covid-19 ditemukan, semua sektor usaha berjalan normal. Penjualan meningkat seiring dengan peningkatan pelanggan, baik pelanggan lama maupun penambahan pelanggan baru. Selain itu, umumnya, peningkatan penjualan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pasar. Semua berlangsung normal. Peningkatan penjualan mendorong peningkatan produksi atau pembelian barang. Peningkatan produksi menciptakan kegiatan pekerja untuk mengoperasionalkan sektor usaha, baik industrii, pertanian, perdagangan, keuangan, dan semua sektor yang mendukukung kegiatan usaha

Kegiatan usaha dan ekonomi yang normal mulai terguncang sejak Covid-19 ditemukan, menyebar, dan menjadi Pandemik. Sektor usaha pun menurun tajam seiring semakin ketatnya pengendalian penyebaran Covid-19, baik dalam skala rumah tangga, usaha, daerah, nasional sampai global. Para pengusaha dan pemimpin bisnis menghadapi dan menjalankan protokol survival, bertahan untuk tetap hidup. Masa pandemik dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mendorong banyak pengusaha untuk melakukan pemulihan dan lolos dari survival, meski kondisi belum normal.

Kondisi ketidaknormalan ini akan menjadi normal baru (new normal), dengan perubahan model bisnis baru yang kini telah biasa mereka jalankan selama survival di masa Pandemik Covid-19. Para pengusaha pun mengembangkan berbagai strategi pemulihan dan penyiapan untuk tetap tumbuh pada masa post Covid-19. Masa di mana kondisi “normal pada ketidaknormalan” atau next normal. Pandemik Covid-19 men-disrupsi banyak sektor usaha (BI, Doode dalam Liputan 6, 2020).

Banyak sektor usaha yang tertekan atau sulit bertahan dari disrupsi Covid-19 ini, contohnya sektor usaha penerbangan, restoran, hotel, konstruksi, industri pengolahan, pertambangan, energi khususnya bahan bakar, ekspor komoditi tambang, dan lain-lain. Sektor usaha ini mengalami penurunan permintaan yang sangat tajam. Sektor usaha yang masih bisa bertahan pada masa Pandemik Covid-19 ini, misalnya sektor kehutanan, perikanan, listrik, gas, air bersih, pengangkutan barang, pertanian, perkebunan, dan peternakan. Pada sektor usaha ini umumnya masih bisa bertahan, mengingat permintaan akan jasa dan produk dari sektor ini masih normal.

= =

Sumber dan selengkapnya TruckMagz Ed. Agustus 2020, halaman 42 – No 74 / VI / AUGUST 2020: https://truckmagz.com/login/

Kepada Yth. Sivitas (Mahasiswa, Tenaga Kependidikan, Dosen) dan Mitra Universitas Islam Indonesia

Dengan berpegang pada kaidah dar’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih (menghindari kerusakan lebih utama dibandingkan meraih kebaikan), maka dengan ini, Universitas Islam Indonesia mengambil kebijakan sebagai berikut

Bismillah. Dengan berat hati dan karena berhati-hati, UII memperpanjang masa pembelajaran daring dan kerja dari rumah sampai 24 Juli 2020.

Semoga Allah meridai ikhtiar ini.
Selamat mengisi sisa Ramadan dengan amalan terbaik. Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk bersua dengan Ramadan tahun depan.

Selamat Idul Fitri 1441 H. Mari, jaga silaturahmi tetap erat, walau tangan tak bisa berjabat.

Yogyakarta, 22 Ramadan 1441 / 15 Mei 2020
Rektor,
Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D.

= = =
Unduh Surat Edaran Rektor Nomor: 1769/Rek/10/SP/V/202

Prof. Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia dan Ketua Aptisi Wilayah V DIY

= = =

Hanya 11 persen PTS yang masih bertahan tanpa masalah serius sampai Desember 2020.

Tak seorang pun tahu pasti kapan pandemi Covid-19 berakhir. Beragam prediksi muncul dengan pendekatan aneka rupa. Hasilnya pun bervariasi. Ada yang menyebut Juni, September, Desember,  bahkan selepas pengujung 2020.

Namun, semua tampaknya sepakat kalau pandemi sudah meninggalkan dampak luar biasa di banyak sektor, tak terkecuali di perguruan tinggi swasta (PTS). Tentu, semua PTS berharap yang terbaik, tetapi harus bersiap untuk yang terburuk.

Selama ini, PTS telah membantu negara dengan luar biasa meski kadang dipandang sebelah mata. PTS telah meningkatkan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi (APK). Data termutakhir Badan Pusat Statistik pada 2019 menunjukkan angka 30,28 persen.

Artinya, hanya 30,28 persen warga Indonesia berusia 19-23 tahun yang mengenyam bangku kuliah. Data pada pengujung 2019 merekam, dari 7.339.164 mahasiswa, 60 persennya dilayani PTS. Bayangkan jika semua PTS tutup. APK akan anjlok menjadi 12,08 persen.

Lebih penting dari angka itu, PTS di seluruh penjuru Indonesia, berandil dalam pemerataan akses pendidikan tinggi ketika tangan negara belum mampu hadir. Pendidikan tinggi untuk negara sebesar Indonesia, bukan hanya soal kualitas, melainkan juga pemerataan akses.

Jika negara sepakat, pendidikan tinggi adalah salah satu penghasil aktor peradaban masa depan. Tidak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan PTS.

Banyak orang tak sadar, ketika PTS hidup sehat dampaknya luar biasa bagi publik. Anggaran mahasiswa yang dikelola PTS proporsinya jauh lebih kecil dibandingkan yang beredar di publik untuk menggerakkan roda perekonomian. Mulai dari bisnis indekos sampai kuliner.

Nah, pada saat pandemi seperti ini, PTS termasuk yang sangat terdampak. Berbeda dengan PTN yang masih mendapatkan kucuran dana pemerintah, termasuk untuk menutup belanja pagawai. Harus diakui, porsi terbesar anggaran PTS masih berasal dari mahasiswa.

Ketika sumber penghasilan penanggung biaya pendidikan terdampak, ini memengaruhi pemasukan PTS. Penulis percaya, PTS cukup terbiasa mengelola hal seperti ini, tetapi pandemi kali ini berbeda.

Jika berkepanjangan, dampaknya sangat dahsyat. Survei pekan lalu yang melibatkan 66 PTS di Yogyakarta menegaskan sinyalemen ini. Hanya 11 persen PTS yang masih bertahan tanpa masalah serius sampai Desember 2020.

Survei ini tidak hanya melibatkan PTS yang sedang berkembang, tetapi juga PTS besar dengan lebih dari 20 ribu mahasiswa. Jangan salah mengira, meskipun tengah menghadapi masalah, PTS mempunyai kepedulian tinggi terhadap yang terdampak pandemi.

Hanya 11 persen PTS yang masih bertahan tanpa masalah serius sampai Desember 2020.

Untuk memperpanjang umur, PTS menjalankan beragam jurus, termasuk membatalkan beragam program, realokasi anggaran, menurunkan insentif, memotong besaran gaji, sampai menunda pembayaran gaji. Pilihan yang tak mudah tetapi harus ditunaikan.

Masalah semakin terasa ketika saat ini, musim admisi mahasiswa baru juga sedang berjalan. Kegagalan dalam hal ini berdampak panjang. Tidak hanya untuk setahun, tetapi juga bisa mencapai empat tahun atau bahkan lebih.

Respons negara

Jika negara sepakat, pendidikan tinggi adalah salah satu penghasil aktor peradaban masa depan. Tidak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan PTS, kecuali jika negara mempunyai pandangan lain terhadap PTS.

Semoga tak ada pemangku amanah publik yang mencibir: PTS manja atau PTS kok ingin seperti PTN. Penulis yakin, negara tidak seperti itu. Seandainya negara mengulurkan tangan dengan beragam kebijakan yang tepat, PTS bersukacita jika diminta pendapatnya.

Meski pandemi menjadi momentum, kebijakan negara seharusnya dibuat untuk waktu yang panjang. Banyak yang bisa dilakukan, bahkan jika pilihannya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Negara dapat melonggarkan beragam kebijakan. Seumpama pemangku amanah publik sepakat PTS dibangun di atas premis membantu negara mencerdaskan kehidupan bangsa maka kebijakan perpajakan, misalnya, akan lebih bersahabat.

Sampai hari ini, mimpi PTS mempunyai dana abadi masih menjadi kemewahan karena kebijakan yang tidak berpihak. Alih-alih memberikan lahan subur untuk tumbuhnya PTS, kebijakan ini justru sering memasang mata curiga kepada PTS.

Energi pemimpin PTS tak jarang tersita untuk isu ini. Andaikata Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi menyadari, tak mudah bagi PTS merekrut dosen saat pandemi maka syarat rasio dosen dan mahasiswa untuk perpanjangan akreditasi, tak diberi tenggat singkat.

Meski demikian, jika rasio tidak ideal, yakinlah PTS tidak mempunyai niat jahat dan menjalankan PTS asal-asalan serta abai terhadap kualitas.

Jika saja jeritan  PTS di pelosok Indonesia yang tertatih-tatih dengan pembelajaran daring didengar, penulis yakin, negara akan mengajak diskusi dan hadir dengan beragam alternatif solusi, termasuk memberi bantuan koneksi internet.

Indonesia tidak hanya Pulau Jawa dan kota besar, apalagi sebatas Jakarta. Jangankan koneksi internet andal, jaringan listrik stabil pun masih menjadi kemewahan di banyak daerah. Daftar di atas, hanya merangkum beberapa pesan PTS yang sudah lantang bergaung.

Penulis yakin negara sensitif dan mendengar pesan PTS. Jika ini terjadi, harapan jadi kenyataan. Jika tidak, daftar mimpi PTS akan semakin panjang: seandainya, seumpama, andaikata, dan jika saja. Ah, dunia lebih indah, seandainya PTS tak hanya punya andaikata.

Sumber: Republika

Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyerahkan bantuan logistik kepada mahasiswa yang tengah belajar di rumah atau kos, sebagaimana Surat Edaran Rektor UII Nomor: 1499/Rek/10/SP/IV/2020, perihal Perpanjangan Kerja dari Rumah, Pembelajaran Daring, Libur dan Jam Kerja Selama Ramadan, dan Layanan Konseling.

Dr. R.M. Sisdarmanto Adinandra, S.T., M.Sc, Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni FTI UII mengatakan “menyusul pembatasan aktivitas untuk mencegah meluasnya wabah Covid-19.  Bantuan logistik ini diberikan untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa, sekaligus untuk mengatasi keterbatasan akses logistik yang mulai tutup.”

“Program ini dilatar belakangi oleh masih adanya mahasiswa FTI UII yang tinggal di Yogyakarta dan memerlukan bantuan. Jadi idenya mendata dari masing-masing Program Studi, siapa mahasiswa yang tinggal di Yogya dan memerluan bantuan, selanjutnya dilakukan seleksi” katanya disela-sela kegiatan bertempat di Teras Hall FTI UII, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta (18 April 2020).

Mahasiswa yang mendapatkan bantuan logistik tercatat 80 mahasiswa. “Kriteria bantuan tidak hanya diberikan kepada mahasiswa yang kurang mampu, namun juga bagi yang mulai mengalami kesulitan mengakses logistik. Adapun bantuannya tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, karena sebagai institusi pendidikan, kita mengajak untuk hidup sehat dengan memasak sendiri sehingga berupa kebutuhan pokok berupa beras dan lauk pauk,” tutur Dosen Program Studi Teknik Elektro FTI UII tersebut.

Harapan Sisdarmanto Adinandra untuk rekan-rekan mahasiswa semua, adalah  “stay safe, stay strong and stay healthy. Untuk tetap di kos, jaga jarak aman, jaga kesehatan, be happy karena bagian meningkatkan imunitas dan semoga kita semua dipertemukan di bulan Ramadhan 1441 H. Insha Allah Ramadhan tahun ini membawa keberkahannya Allah, aamiin” pungkasnya.

Jerri Irgo

Program Studi Rekayasa Tekstil (Rekateks) Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerjasama dengan Alumni dan Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) menyerahkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) kepada Tim UII Siaga Covid-19 selanjutnya akan diserahkan kepada Tenaga Medis dan Masyarakat yang terdampak wabah Covid-19.

Pada tahap pertama, APD dibagikan kepada masyarakat di sekitar Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang Km 14,5 Sleman, DIY berupa 2.000 pcs masker dan 100 pcs pakaian pelindung (protective clothing) kepada beberapa Puskesmas dan rumah sakit di sekitar Yogyakarta. Dan pada tahap berikutnya akan dibagikan 8.000 pcs masker dan 400 pcs pakaian pelindung, sehingga total akan disediakan 10.000 pcs masker dan 500 pcs pakaian pelindung kesehatan.

Suharno Rusdi, Ph.D, Ketua Jurusan Teknik Kimia FTI UII yang juga Ketua Umum IKATSI dalam rilis Jumat (17 April 2020) mengatakan, spesifikasi bahan APD yang digunakan terbuat dari Spun Viscose Yarn 8450 30R dan Spun Cotton Yarn 7454 30C, yang telah melalui proses kimiawi sehingga memiliki sifat Water Repellent (menolak air) dan Anti Bacterial dan telah diuji di Laboratorium Kendali Mutu Prodi Rekayasa Tekstil FTI UII. Dengan demikian, berdasarkan hasil laboratorium diperhitungkan APD tersebut akan mampu menangkal virus Corona.

Dikatakan, masker dibuat dengan dua lapis kain, bagian luar terbuat dari 8450 30R dan bagian dalam terbuat dari 7454 30C, sementara kain pelindung terbuat dari 8450 30R 100 persen. Dengan spesisfikasi tersebut APD yang dipakai akan terasa nyaman karena memiliki sifat dapat ditembus udara (breathable) dan dapat dicuci ulang dan digunakan kembali (washable) setelah melalui proses sterilisasi.

Sebagaimana diketahui bahwa ukuran partake (particel size) virus Corona adalah sebesar 0,12 mikron, sementara dengan proses penyempurnaan kimiawi Water Repellent di samping kain akan mampu menolak air, juga akan memiliki porosity lebih kecil dari 0.12 mikron, sehingga APD mampu memblokir virus corona menembus ke badan ataupun terhirup oleh manusia. Dengan proses anti Bacterial, si pemakai APD diharapkan tidak akan terkontaminasi oleh jenis bakteri apa pun.

Menurut Suharno Rusdi, puluhan bahkan ratusan tenaga medis yang tertular bahkan sampai meninggal saat menangani wabah Covid-19 karena kurang efektifanya APD yang digunakan. “Dengan dikenalkannya APD jenis 8450 30R/7454 30C ini diharapkan dapat mengurangi korban tenaga medis akibat terkena resiko tertular virus Corona,” kata Suharno Rusdi.

Rencana ke depan

Pada tahap lanjut, untuk membantu menanggulangi wabah Covid-19, dalam skema Catur Dharma UII, Program Rekayasa Tekstil FTI UII sedang dan akan mengembangkan jenis APD dengan bahan spesifikai lain yang dibuat dari bahan hydrophobic (tidak menyerap air) dan akan segera dirilis dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dikatakan, Program Studi Rekayasa Tekstil FTI UII merupakan program studi satu-satunya di Indonesia yang menyelenggarakan Pendidikan Rekayasa Tekstil program Sarjana/S1. Program studi ini mendalami pemintaan di bidang Garmen dan Tata Busana, Proses Kimia Tekstil, Proses Manufaktur Tekstil, Tekstil Fungsional, serta Teknologi Baik dan Kerajinan Tekstil.

Jerri Irgo

Prof Fathul Wahid, ST, M,Sc., Ph.D,  Rektor Universitas Islam Indonesia

= =

 

Tenaga kesehatan (nakes), tenaga medis dan paramedis, memainkan peran yang sangat penting dalam penanganan pandemi Covid-19. Kita sudah selayaknya angkat topi untuk mereka sebagai tanda takzim.

Benteng terakhir

Mari tempatkan nakes sebagai benteng pertahanan terakhir di kala pandemi ini. Mereka bukan pasukan yang berada di garda terdepan, seperti narasi publik yang beredar saat ini. Tidak ada yang salah dengan narasi ini, tapi ini bisa memunculkan kesadaran yang keliru.

Alam bawah sadar sebagian kita akan mengatakan: “Kita punya nakes yang berada di garda terdepan. Kita aman. Mari, kita tetap menikmati hidup: rekreasi dan bercengkerama di tengah kerumunan. Beragam berita pembubaran keramaian dan kerumuman warga oleh aparat, menjadi bukti empiris.

Bayangkan kalau kita tidak menambah kerepotan para nakes di Puskesmas dan rumah sakit. Tanpa pasien terpapar Covid-19 pun, mereka sudah mempunyai banyak pasien yang membutuhkan bantuan. Pasien Covid-19 akan menambah beban mereka, meski penulis sangat yakin mereka, para nakes, akan melakukannya dengan sepenuh hati. Nakes berhati mulia di kala seperti ini, jika tidak dapat terlibat aktif, akan terasa teriris hatinya dan lunglai nuraninya.

Benteng pertahanan terakhir itu kadang jebol karena pasien atau keluarga pasien tidak jujur. Pasien ini ibarat Kuda Troya yang digagas Odysseus untuk menjebol dan menaklukkan Kota Troya, dalam mitologi Yunani, yang langsung menyerang ke jantung pertahanan. Beberapa yang terpapar dan meninggal merupakan nakes yang tidak berada di ruang isolasi dengan protokol ketat dan bahkan direktur rumah sakit.

Garda terdepan

Lantas, siapa yang berada di garda terdepan? Kita. Ya, kita. Kita adalah bak para bidak yang menahan serangan terhadap raja dan ratu dalam permainan catur. Ketika garda terdepan terkoyak, karena bidak tidak hati-hati dalam melangkah, raja dan ratu akan berada dalam ancaman. Tenaga medis adalah para raja dan ratu yang harus kita lindungi.

Caranya? Inilah saatnya, semua orang bisa mengambil peran untuk menyelamatkan umat manusia, termasuk dengan berdiam diri di rumah, menikmati waktu bersama keluarga. Jika terpaksa atau panggilan tugas mengharuskan keluar rumah, pastikan untuk menyiapkan: imunitas yang tinggi, istikamah dalam menjaga jarak fisik, menjaga kebersihan tangan, tidak latah mengusap hidup, mulut, dan mata, serta mengenakan alat pelindung diri yang mencukupi (seperti masker).

Sebagian dari kita mungkin merasa hebat, mempunyai imunitas yang baik. Tetapi jangan lupa, di rumah, ada orang tua dan anak kecil, orang-orang terkasih, yang rentan terpapar virus. Jangan egois. Setiap risiko paparan, harus diperhitungkan, karena frasa “memutar ulang waktu” hanya ada di kamusnya Doraemon. Pertimbangan matang selalu muncul di depan. Kalau di belakang, namanya penyesalan.

Dekatkan jarak sosial

Satu hal lagi, terakhir tetapi bukan afkir. Yang diperlukan saat ini adalah menjaga jarak fisik, bukan menjaga jarak sosial. Frasa dalam imbauan WHO sudah direvisi. Secara sosial justru kita harus saling mendukung dan menguatkan. Yang kuat, bantu yang lemah. Yang berpunya, sisihkan sebagian hartanya untuk yang papa. Sisihkan juga sebagian untuk penyediaan alat pelindung diri dan perangkat pendukung kesehatan lain, untuk nakes dan warga yang membutuhkan.

Tidak kalah penting, mari sebarkan semangat optimisme yang terukur, bukan optimisme yang meninabobokan, dan sebaliknya, bukan pula pesimisme yang menggerus energi positif. Hentikan juga mengirim informasi yang menyesatkan atau meningkatkan kegalauan di media sosial. Gantilah dengan pesan positif: kitalah yang berada di garda terdepan, untuk melindungi orang-orang terkasih yang rentan, dan para nakes yang menjaga benteng pertahanan terakhir.

Selain menunaikan beragam ikhtiar, mari jangan lelah mengetuk pintu langit, dengan iringan doa, semoga wabah ini lekas sirna dari muka bumi. Setelahnya, kita akan sambut wajah yang sumringah, hati yang tawaduk, dan rasa kesetiakawanan sosial yang mengental. Kengerian akan terurai, rasa jumawa bakal sirna, dan egoisme segera tergerus. Insyaallah.

Sumber : Republika

Rektor Universitas Islam Indonesia, mengeluarkan Surat Edaran Rektor Nomor: 1499/Rek/10/SP/IV/2020 tentang Pembelajaran Daring, Libur dan Jam Kerja Selama Ramadan, dan Layanan Konseling

Dengan mempertimbangkan:

    1. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Penanganan Covid-19;
    2. Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19;
    3. Surat Edaran Kementerian Pendidikan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Coronavirus Disease (Covid-2019) pada Satuan Pendidikan;
    4. Surat Keputusan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 13A Tahun 2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia;
    5. Perkembangan mutakhir terkait dengan penyebaran Coronavirus Disease (Covid-2019) yang belum menunjukkan tanda mereda,

dan dengan berpegang pada kaidah dar’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih (menghindari kerusakan lebih utama dibandingkan meraih kebaikan), maka dengan ini, Universitas Islam Indonesia mengambil kebijakan sebagai berikut:

Kerja dari rumah dan kegiatan di kampus

  1. Memperpanjang peniadaan layanan yang memerlukan tatap muka di seluruh unit Universitas Islam Indonesia, dan menggantikan sepenuhnya dengan Kerja dari Rumah (KdR), sampai dengan 1 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir.
  2. Memperpanjang peniadaan semua kegiatan akademik dan non-akademik yang memerlukan pertemuan fisik atau mengumpulkan orang banyak di lingkungan kampus Universitas Islam Indonesia, sampai dengan 1 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir
  3. Meminta semua mitra Universitas Islam Indonesia yang mempunyai konter layanan di dalam kampus (seperti bank dan kantin) untuk juga memperpanjang peniadaan layanan yang memerlukan kehadiran fisik, sampai dengan 1 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir
  4. Menegaskan untuk meminta semua tenaga kependidikan dan dosen menjalankan Kerja dari Rumah (KdR) dari tempat tinggalnya masing-masing (asrama, rumah sewaan, kamar sewaan, pondok pesantren, rumah tinggal) dan tidak melakukan perjalanan pulang kampung atau ke luar kota.
  5. Jika dan hanya jika dalam kondisi yang sangat khusus dan mendesak (seperti pengamanan kampus dan pencetakan ijazah), mengizinkan unit untuk bekerja di kantor dengan sif dan menjalankan protokol yang ketat.
  6. Meminta semua unit untuk lebih hati-hati mengamankan aset yang ada di kampus selama masa Kerja dari Rumah (KdR).

Libur awal Ramadan dan jam kerja

  1. Memutuskan Jumat, 24 April 2020 sebagai hari libur, sehingga seluruh kegiatan akademik dan non-akademik pada waktu tersebut diliburkan, termasuk pembelajaran daring, Kerja dari Rumah (KdR), dan pemberian layanan lain.
  1. Memutuskan jam kerja selama bulan Ramadan adalah Senin s.d. Jumat, jam 08.00 s.d. 15.00 WIB.

Pembelajaran daring dan Ujian Tengah Semester

  1. Menegaskan kembali bahwa masa pembelajaran daring sampai dengan 7 Juni 2020. Durasi ini akan dievaluasi dengan memperhatikan perkembangan mutakhir
  1. Mengizinkan mahasiswa yang belum membayar angsuran ke-4 karena terdampak wabah Covid-19 mengikuti Ujian Tengah Semester.
  1. Meminta kepada semua dosen untuk meningkatkan kepedulian dalam mempertimbangkan masalah yang mungkin muncul karena pembelajaran daring, termasuk distres mahasiswa yang kewalahan dengan tugas dari semua matakuliah yang diambil dan kualitas koneksi Internet di tempat tinggal mahasiswa yang tidak mendukung.
  1. Meminta kepada semua ketua program studi untuk secara periodik mengkoordinasikan evaluasi pelaksanaan pembelajaran daring, termasuk mode pembelajaran (seperti sinkron [satu waktu, beda tempat] dan asinkron [beda waktu, beda tempat] dengan variasi turunannnya), model penugasan, dan pengelolaan beban tugas kepada mahasiswa.

Layanan konseling dan informasi

  1. Menyediakan layanan konseling psikologis dan medis melalui nomor WhatsApp 085287373839.
  1. Menyediakan layanan informasi lainnya melalui Tim UII Siaga Covid-19 yang dapat dihubungi di 082131737773 (telepon, WhatsApp) dan informasi terkait kebijakan Universitas Islam Indonesia yang dapat diakses di https://uii.ac.id/covid-19.

Catatan lain-lain

  1. Kebijakan ini melengkapi surat edaran terkait yang telah dikeluarkan sebelumnya.
  2. Poin-poin pada surat edaran sebelumnya yang bertentangan dengan surat edaran ini dinyatakan tidak berlaku.
  3. Jika terdapat perkembangan lain yang perlu diperhatikan, pengumuman lebih lanjut akan disampaikan.

Sambil mengerjakan semua ikhtiar, mengajak semua sivitas Universitas Islam Indonesia untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan kualitas amalan terbaik, termasuk memperbanyak sedekah.

Semoga Allah meridai semua ikhtiar kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Yogyakarta, 15 Syakban 1441/8 April 2020

Rektor,

Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D.

= = =

unduh Surat Edaran Rektor Nomor: 1499/Rek/10/SP/IV/2020

Analis Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menggagas gerakan memakai masker di akun media sosial Twitter. Gerakan itu lahir dengan tagar 100 juta masker challenge.

Ismail menceritakan, gerakan ini muncul karena kekhawatiran penyebaran Covid-19 melalui droplet, seperti percikan dari batuk, bersin, maupun air liur pada orang yang berbicara.

Selain itu, Ismail mendapati mahalnya harga masker bedah dan N95, serta stoknya yang terbatas. Ia pernah membeli kedua jenis masker tersebut dengan harga puluhan juta untuk disumbangkan ke rumah sakit.

“Saya dapat 5 boks N95 dan 20 boks masker bedah, harganya bisa beli motor, Rp 21 juta,” kata Ismail kepada Tempo, Senin, 6 April 2020.

Ismail mengatakan, masker jenis tersebut menjadi langka karena banyak dibeli dan dipakai oleh masyarakat umum. Padahal penggunaannya diprioritaskan bagi petugas kesehatan. Kemudian tercetus ide agar masyarakat bisa menggunakan masker tetapi dari bahan yang bisa dibuat dari rumah, yaitu masker berbahan kain.

Pada 21 Maret 2020, Ismail pun mencuit sebuah utas cara mengatasi kelangkaan masker. “Di semua negara, masker langka. Thread ini buat para ibu rumah tangga yang suka njahit, dan para tukang jahit. Tukang Jahit Bergerak,” cuitnya.

Ismail pun memaparkan kajian dari Cambridge University mengenai jenis-jenis masker. Untuk partikel virus berukuran besar, yaitu 1 mikron, masker bedah memiliki tingkat filtrasi hingga 97 persen

Masih dari penelitian Cambridge University, Ismail memaparkan bahwa masker berbahan kain bisa menyaring 50 persen partikel virus berukuran 0,02 mikron. Misalnya, bahan kain pada lap piring memiliki filtrasi 73 persen, kain bantal 57 persen, dan bahan katun 51 persen.

Lihat: Video Uji berbagai Bahan Masker

Namun, bahan kain yang nyaman untuk bernafas adalah kaus berbahan katun dan kain bantal. “Jadi, dari testing di atas, antara efektivitas dan kenyamanan, para peneliti di Cambridge merekomendasikan kain yang biasa dipakai untuk cover bantal dan t-shirt katun 100 persen sebagai bahan untuk bikin masker,” kata Ismail.

Menurut Ismail, jika masker berbahan katun digandakan, maka efektivitasnya naik menjadi 71 persen. Angka tersebut bisa lebih tinggi jika diberi filtrasi tambahan berupa tisu.

Ia kemudian memberikan foto mengenai langkah-langkah membuat masker berbahan kain. Juga memberikan informasi tentang masyarakat di luar negeri yang bergotong royong membuat masker dan mengirimkannya ke rumah sakit.

Gerakannya itu pun berhasil menggerakkan masyarakat umum. Terlihat dari sejumlah cuitan masyarakat yang diunggah kembali oleh akun Ismail. Seperti @TarjoSawud_Jady yang menunjukkan foto masker hasil jahitan yang hendak dijual. Keterangan foto itu tertulis, “Secara tidak langsung gerakan bang @ismailfahmi #100JutaMaskerChallenge telah menghidupkan UMKM yang bingung di saat Corona melanda. Alhamdulillah kini sudah bisa tersenyum kembali. Semoga #Covid_19 segera reda.”

Beberapa waktu lalu, kata Ismail, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga membuat petunjuk membuat masker persis seperti yang ia tulis. “Beliau pertama kali meminta warganya bikin sendiri. Itu lima hari yang lalu sebelum BNPB,” ujarnya.

Sumber: TEMPO.CO

Bantuan untuk Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang mata pencarian orangtua/penanggung biaya kuliah terdampak wabah Covid-19, Besaran bantuan didasarkan pada tingkat keterdampakan.

Beryukurlah kepada Allah, jika mata pencarian orangtua/penanggung biaya kuliah tidak terdampak. Bantulah yang terdampak dengan cara membayar biaya kuliah pada waktunya, sehingga proses bisnis dan layanan UII masih dapat berjalan dengan baik.

Terkhusus untuk adik-adik saya, mahasiswa Universitas Islam Indonesia, yang berbahagia, para pejuang penuntut ilmu. Kami mengeluarkan kebijakan baru untuk membantu mahasiswa yang terdampak wabah Covid-19. Saya yakin, kebijakan ini tidak akan bisa memuaskan semua pihak, tetapi ini ikhtiar terbaik yang mungkin kami lakukan. Semoga dapat sedikit meringankan beban. Bismillah. Semoga Allah meridai UII. Amin.

Rektor UII

Prof. Fathul Wahid., S.T., M.Sc., Ph.D

= = = =

 

 

Alat Pelindung Diri (APD) jadi kebutuhan utama dokter dan tenaga medis dalam menangani pasien infeksi virus Covid-19. Penggunaan APD dilakukan sesuai petunjuk dan standar kesehatan dunia dari World Health Organization (WHO). Hanya saja persediaan APD dalam penanganan Virus Corona (Covid-19) di sejumlah rumah sakit (RS) di Yogyakarta menipis.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama RSUD Sleman, Joko Hastaryo dalam rilisnya (26 Maret 2020) membenarkan pihaknya sedang menggalang donasi dari masyarakat untuk pengadaan APD berupa masker bedah, masker N-95, kacamata google atau face shield.

Kurangnya ketersediaan APD membuat ada dokter yang disebut harus berjibaku dengan mengenakan jas hujan dan itu sejatinya sangat membahayakan dirinya. Karena APD adalah alat kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan lingkungannya.

credit photo : Facebook Dr Nurul Indarti

Credit photo : Facebook Dr Nurul Indarti

Melihat kebutuhan APD tersebut, membuat Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, Rektor Universitas Islam Indonesia  (UII) bersama istri Dr Nurul Indarti serta kedua anaknya berinisiatif membuat Face Shield

Prof Fathul Wahid dalam rilisnya, mengatakan dalam waktu sekitar 5 jam, di sela kegiatan utama bekerja atau belajar di rumah, keempat orang tersebut dapat memproduksi 35 buah face shield dan 15 lagi sedang dalam proses. “Insya Allah, besok dapat didistribusikan 100-an,” ujar Prof Fathul Wahid

Face Shield produk Tim57 karena dari Timoho 5 no 7 Peduli Covid-19 telah rapi dan siap diambil RS JIH pada hari Kamis (26 Maret 2020) dan menurut Prof Fathul akan dibagi ke RS PDHI dan RS milik UII, jika mungkin. “Dengan ukuran 28×28 berbahan mika hanya diperlukan Rp 5.000-an per biji,” ujar guru besar bidang ilmu sistem informasi tersebut

Prof Fathul Wahid menegaskan bahwa Face Shield yang diproduksinya ini tidak diperjual belikan namun diberikan ke rumah sakit, puskesmas, dan klinik yang membutuhkan sebagai donasi. “Untuk donasi. Ada uang tapi kalau tidak ada barang, akan repot juga,” ujarnya.

Prof Fathul Wahid bersama dengan keluarga melayani permintaan dengan semampunya, hingga saat ini sudah ada pesanan dari rumah sakit, puskesmas dan klinik yang ada di Jogja maupun di luar kota.

Selain itu, bermodalkan video tutorial yang telah dibuatnya, Rektor UII tersebut juga mengajak mahasiswa dan rekan-rekan untuk memproduksi sendiri.

Berikut adalah video tutorial dari Prof Fathul Wahid: Tutorial Membuat Pelindung Muka Face Shield

Jerri Irgo