Posts

UII Ajak Warganet Perangi Terorisme

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta mengajak warganet untuk memerangi terorisme dengan kesadaran berperilaku positif di ruang siber. Kampanye berperilaku positif di ruang siber dengan membumikan tag line ‘Crime Leaves Trace’ dan slogan ‘Think before Click’ sudah dilaksanakan sejak bulan Maret 2018 lalu dengan seminar dan pelatihan di berbagai kota.

“Melalui tag line ‘Crime Leaves Trace’ dan slogan ‘Think before Click’ diharapkan akan menumbuhkan alam bawah sadar masyarakat bahwa sekecil apapun perilaku negatif yang merugikan orang atau pihak tertentu akan dapat ditangkap aparat. Tentu ini akan merugikan diri sendiri karena akan bersinggungan dengan aspek hukum,” kata Dr R Teduh Dirgahayu, Ketua PPs FTI UII kepada wartawan di Yogyakarta, Selasa (15/5/2018).

Lebih lanjut Teduh mengatakan dengan slogan ‘Think before Click’ diharapkan memunculkan perilaku positif dalam masyarakat. Sehingga mereka selalu waspada dan bijak menggunakan digital device dalam beraktivitas di ruang siber.

“Perilaku positif tersebut antara lain terwujud dalam bentuk tidak mudah melakukan share dan click untuk hal yang terkait dengan data dan aplikasi. Selain itu, juga muncul kesadaran untuk tidak terlibat dalam penggunaan berbagai sarana dan media yang mengarah pada tindakan negatif yang merugikan orang lain,” kata Teduh.

Era teknologi informasi, kata Teduh, telah menghantarkan manusia pada sebuah dimensi dan ruang baru untuk berinteraksi atau ruang siber (cyberspace). Kekuatan ruang siber ini adalah kemampuannya untuk melakukan digitasi berbagai jenis konten dengan beragam format dan menyimpannya di berbagai media.

Ketersediaan berbagai jenis platform aplikasi membuat ruang siber menjadi ruang publik yang memiliki karakteristik mirip kehidupan nyata. Di ruang siber, segala sekat kehidupan sosial yang selama ini menjadi rambu-rambu berinteraksi menjadi hilang. “Dalam ruang siber, siapa pun dapat menjadi apa pun untuk melakukan apa pun serta di mana pun berada,” ujar Teduh yang menambahkan kampanye ini merupakan rangkaian Milad UII ke 75.

Sementara Yudi Prayudi MKom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII mengatakan berdasarkan informasi dari media, kerusuhan LP Cipinang Cabang Kelapa Dua (Mako Brimob) dan bom di Surabaya didukung aktivitas para pelaku dan jaringannya dalam media sosial. Ada empat hal yang menarik dari penyalahgunaan pemanfaatan media sosial yaitu sifat anonim, cakupan tanpa batas, mudah dan murah, serta penyediaan layanan tambahan.

“Ada enam fungsi media sosial yang umumnya dilakukan para pelaku teroris yaitu rekruitmen dan mobilisasi, membangun jejaring komunikasi terbatas sesama pelaku, sharing informasi; penyebaran paham dan ideologi, perencanaan dan koordinasi: penyampaian taktik dan setrategi, perang psikologis dan propaganda: menyebar ancaman dan propaganda berdampak pada munculnya ketakutan masyarakat, dan penggalangan dana,” kata Prayudi.

Selain enam hal di atas, lanjut Prayudi, terdapat alasan lain mengapa media digunakan secara efektif oleh jaringan teroris. Pergerakan teroris di ruang nyata mungkin dapat dengan mudah terdeteksi melalui berbagai instrumen yang diterapkan aparat. “Namun pergerakan mereka di ruang siber sulit dideteksi. Penerapan sifat anonim terhadap setiap aktivitas dalam ruang siber dapat dilakukan dengan mudah,” tandas Prayudi.

diberitakan : Jogpaper

Jerri Irgo

Yudi, Buntut Skandal Data Cambridge Analytica

BUNTUT SKANDAL DATA CAMBRIDGE ANALYTICA

Pakar TI UII: Hati-hati Gunakan Aplikasi Lucu-lucuan di Facebook

Pakar informatika UII, Yudi Prayudi, MKom mengingatkan untuk selalu berhati-hati menggunakan aplikasi lucu-lucuan di facebook. Karena aplikasi lucu-lucuan seperti aplikasi yang memprediksi bagaimana wajah kita ketika tua, aplikasi yang memprediksi siapa artis yang mirip dengan kita, siapa sahabat terbaik kita dan sejenisnnya secara tidak langsung akan melakukan mekanisme akses terhadap foto, posting komentar, ‘like comment’ dan lainnya.

“Aplikasi sejenis ini, sifatnya walaupun hanya sekedar gurauan namun memiliki dampak yang sangat dalam terhadap akses privacy dan data kita,” tandas Yudi Prayudi yang juga menjabat Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) Universitas Islam Indonesia, Sabtu (31 Maret 2018).

Karena itu menurut Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII sebaiknya kita hindari aplikasi sejenis ini. Langkah preventif ini menurutnya perlu dilakukan terkait terungkapnya skandal data facebook dan Cambridge Analytica pada pertengahan Maret 2018 yang membuat Mark Zukerberg serta Facebook mendapat tekanan yang luar biasa dari sesama pebisnis digital dilingkungan Silicon Valley Amerika.

Tekanan disebut Yudi tidak hanya dari masyarakat luas, Mark juga mendapat tekanan dari mitra bisnis dari Facebook sendiri. Salah satu tekanan tersebut datang dari Brian Acton, salah satu pendiri Whatssap yang telah diakuisisi oleh Facebook. Acton menginisiasi sebuah tagar #deletefacebook.

Baca : Memahami Skandal Data Facebook dan Cambridge Analytica

“Memang di Indonesia, pengaruh ini tidak terlalu nyata. Hal ini berbeda dengan warga negara Amerika Serikat dimana data merekalah yang digunakan Cambridge Analytica untuk kepentingan pemenangan kampanye Donald Trump,” jelasnya.

Menurut Yudi Prayudi, bila akan bergabung dengan suatu web atau menjalankan sebuah aplikasi dengan memanfaatkan data facebook (biasanya ada pilihan apakah login/daftar manual atau login/daftar dengan akun facebook) maka pastikan bahwa web atau aplikasi tersebut benar-benar aplikasi yang terpercaya. Bila diragukan tambah Dosen MTI UII maka sebaiknya tidak menggunakan pilihan login dengan akun facebook. “Namun lakukan login dengan data manual. Minimalkan upaya untuk mengintegrasi facebook dengan aplikasi external lainnya,” tambahnya.

Baca Juga : Simak, Ini Langkah Keamanan Hadapi Skandal Data Facebook

Meski demikian Yudi mengingatkan langkah-langkah keamanan yang harus dilakukan pengguna facebook. Pertama, jelasnya, tinjau kembali semua ‘setting privacy’ yang telah kita buat untuk akun facebook kita. ‘Setting privacy’ ini menurutnya akan mengatur apa yang bisa dishare oleh kita kemudian siapa yang menerima sharing, kemudian bagaimana orang lain bisa berkomunikasi dengan kita.

“Data tempat dan tanggal lahir, lokasi tempat tinggal, nomor telepon, sebaiknya di setting sebagai ‘hidden’ dari akses public,” tandasnya. Selain itu juga perhatikan juga daftar aplikasi yang telah kita izinkan untuk dapat mengakses data facebook kita. Menurutnya, bila aplikasi tersebut sudah tidak lagi dipakai atau malah tidak kita kenal, segera hapus aplikasi tersebut dari daftar.

Diberitakan di KRJogja.Com

Jerri Irgo

Kejahatan ATM Skimming

Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital FTI UII ungkapkan ATM Skimming adalah sebuah bentuk kejahatan modern yang terorganisasi, yaitu sebuah upaya untuk melakukan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi pada strip magnetik kartu yang digunakan pada mesin ATM. Proses untuk menyalin informasi biasanya dilakukan dengan menngunakan bantuan sejumlah alat baik yang menempel langsung pada ATM ataupun yang dipasang berdekatan dengan ATMnya.

Hal tersebut disampaikan Yudi Prayudi, M.Kom,  yang juga sebagai Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII dalam releasenya kepada media (17 Maret 2018).

Data yang direlease oleh The British Press, di wilayah Inggris saja setiap tahun tercatat hampir 100.000 nasabah yang melaporkan menjadi korban dari aktivitas Skimming. “Berdasarkan data yang direlease tersebut setiap tahun jumlah uang nasabah yang dicuri melalui kejahatan Skimming meningkat hampir 20% tiap tahunnya” tutur Yudi.

Selain ATM Skimming yang saat ini populer, sebenarnya terdapat jenis skimming lainnya yang juga harus diwaspadai karena berpotensi memakan korban nasabah perbankan. Pertama adalah apa yang disebut dengan Hand-Held POS Skimming, yaitu sebuah alat yang bisa mencopy langsung / duplikasi kartu debit/credit. Kedua adalah apa POS Swaps, yaitu proses copy data kartu debit/credit dari mesin pembayaran yang sering terpasang di toko – toko. Dan ketiga adalah Dummy ATM, umumnya mesin ATM yang digunakan hanya untuk transaksi online, alih-alih mau melakukan transaksi online lewat mesin ATM, malah data-data kartu debit/kredit yang akan diambil oleh mesin dummy ATM ini.

Baca selengkapnya : Kejahatan ATM Skimming 

Jerri Irgo

PUSFID, Saracen dan Blackmarket

Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital – PUSFID Universitas Islam Indonesia, dalam releasenya (24 Agustus 2017) di ruang kerjanya FTI UII, Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta menyatakan “Maraknya konten-konten negative yang bernuansa SARA dan ujaran kebencian yang tersebar pada berbagai Read more