Posts

Rencana Aksi Calon Dekan FTI UII

Izzati Muhimmah, ST., M.Sc, Ph.D, Anggota Panitia Pemilihan Dekan dan Wakil Dekan UII, representatif dari FTI UII didampingi Ir Sukirman, MM, Ketua Panitia Pemilihan Dekan dan Wakil Dekan UII di Tingkat FTI UII mengharapkan kehadiran civitas akademika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), Dosen, Tendik dan mahasiswa pada Penyampaian Rencana Aksi Calon Dekan FTI UII. Hal tersebut disampaikan dalam releasenya (21 Mei 2018).

Baca : Terpilih 3 Calon Dekan FTI UII

Kegiatan Penyampaian Rencana Aksi Calon Dekan FTI UII tersebut, akan dilaksanakan hari Jumat, 25 Mei 2018 jam 8.30 WiB sampai dengan selesai, bertempat di Auditorium Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta

Baca Juga : Pemilihan Dekan dan Wakil Dekan UII, Periode 2018 – 2022

Ketiga Calon Dekan FTI UII tersebut yaitu Dr. R Teduh Dirgahayu yang meraih 30,5% atau 43 suara sebagai urutan pertama, diurutan kedua Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo meraih 24,1% atau 34 suara, dan Ir Agus Taufiq, M.Sc pada urutan ketiga besar meraih 17,0% atau 24 suara, akan menyampaian Rencana Aksi Calon Dekan FTI UII periode 2018-2022

Semoga Allah meridhoi UII, Aamiinn

Jerri Irgo

 

UII Ajak Warganet Perangi Terorisme

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta mengajak warganet untuk memerangi terorisme dengan kesadaran berperilaku positif di ruang siber. Kampanye berperilaku positif di ruang siber dengan membumikan tag line ‘Crime Leaves Trace’ dan slogan ‘Think before Click’ sudah dilaksanakan sejak bulan Maret 2018 lalu dengan seminar dan pelatihan di berbagai kota.

“Melalui tag line ‘Crime Leaves Trace’ dan slogan ‘Think before Click’ diharapkan akan menumbuhkan alam bawah sadar masyarakat bahwa sekecil apapun perilaku negatif yang merugikan orang atau pihak tertentu akan dapat ditangkap aparat. Tentu ini akan merugikan diri sendiri karena akan bersinggungan dengan aspek hukum,” kata Dr R Teduh Dirgahayu, Ketua PPs FTI UII kepada wartawan di Yogyakarta, Selasa (15/5/2018).

Lebih lanjut Teduh mengatakan dengan slogan ‘Think before Click’ diharapkan memunculkan perilaku positif dalam masyarakat. Sehingga mereka selalu waspada dan bijak menggunakan digital device dalam beraktivitas di ruang siber.

“Perilaku positif tersebut antara lain terwujud dalam bentuk tidak mudah melakukan share dan click untuk hal yang terkait dengan data dan aplikasi. Selain itu, juga muncul kesadaran untuk tidak terlibat dalam penggunaan berbagai sarana dan media yang mengarah pada tindakan negatif yang merugikan orang lain,” kata Teduh.

Era teknologi informasi, kata Teduh, telah menghantarkan manusia pada sebuah dimensi dan ruang baru untuk berinteraksi atau ruang siber (cyberspace). Kekuatan ruang siber ini adalah kemampuannya untuk melakukan digitasi berbagai jenis konten dengan beragam format dan menyimpannya di berbagai media.

Ketersediaan berbagai jenis platform aplikasi membuat ruang siber menjadi ruang publik yang memiliki karakteristik mirip kehidupan nyata. Di ruang siber, segala sekat kehidupan sosial yang selama ini menjadi rambu-rambu berinteraksi menjadi hilang. “Dalam ruang siber, siapa pun dapat menjadi apa pun untuk melakukan apa pun serta di mana pun berada,” ujar Teduh yang menambahkan kampanye ini merupakan rangkaian Milad UII ke 75.

Sementara Yudi Prayudi MKom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII mengatakan berdasarkan informasi dari media, kerusuhan LP Cipinang Cabang Kelapa Dua (Mako Brimob) dan bom di Surabaya didukung aktivitas para pelaku dan jaringannya dalam media sosial. Ada empat hal yang menarik dari penyalahgunaan pemanfaatan media sosial yaitu sifat anonim, cakupan tanpa batas, mudah dan murah, serta penyediaan layanan tambahan.

“Ada enam fungsi media sosial yang umumnya dilakukan para pelaku teroris yaitu rekruitmen dan mobilisasi, membangun jejaring komunikasi terbatas sesama pelaku, sharing informasi; penyebaran paham dan ideologi, perencanaan dan koordinasi: penyampaian taktik dan setrategi, perang psikologis dan propaganda: menyebar ancaman dan propaganda berdampak pada munculnya ketakutan masyarakat, dan penggalangan dana,” kata Prayudi.

Selain enam hal di atas, lanjut Prayudi, terdapat alasan lain mengapa media digunakan secara efektif oleh jaringan teroris. Pergerakan teroris di ruang nyata mungkin dapat dengan mudah terdeteksi melalui berbagai instrumen yang diterapkan aparat. “Namun pergerakan mereka di ruang siber sulit dideteksi. Penerapan sifat anonim terhadap setiap aktivitas dalam ruang siber dapat dilakukan dengan mudah,” tandas Prayudi.

diberitakan : Jogpaper

Jerri Irgo

Manajemen Risiko Teknologi Informasi

“Manajemen Risiko Teknologi Informasi ada 4 yaitu penentuan lingkupnya (risk framing), penilaian resiko (risk assessment), penanggapan resiko (risk response) dan pemantauan resiko (risk monitoring) merujuk Panduan NIST Sp.900-39”.

Dr. R. Teduh Dirgahayu, ST., M.Sc, Kepala Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise UII, sampaikan hal tersebut di Workshop Pengamanan Data & Sistem Informasi Rumah Sakit dari Serangan Perentas Maupun Virus menjadi tema workshop kerjasama Program Pascasarjana FTI UII dan RSU Islam Harapan Anda.

Kegiatan lakukan di Ruang Pertemuan Rumah Sakit Umum Islam Harapan Anda, Jl. Ababil No.42, Randugunting, Tegal, Jawa Tengah (6 Februari 2018) dihadiri Zaki Afiff, Ketua Yayasan Rumah Sakit Umum (RSU) Islam Harapan, didampingi dokter Hj. Shahabiyah MMR, Direktur RSU Islam Harapan Anda dan dokter. Hj. Silvia, Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medis RSU Islam Harapan Anda serta dan Kepala Bagian serta Staf terkait.

“Tindakan Medis dan Pengelolaan Rumah Sakit sudah banyak memanfaatkan Teknologi Informasi. Perlu diwaspadai Teknologi Informasi membawa resiko sendiri, virus, hacker, corruted data, disconnected network. Kegagalan TI dapat berdampak pada kegagalan tindakan medis dan pengelolaan Rumah Sakit” ungkap Dr. R. Teduh Dirgahayu.

“Karakteristik Rumah Sakit berbeda, ada 3 serangan ke perangkat medis dapat berakibat pada keselamatan pasian. Selanjutnya meski layanan administrasi Rumah Sakit terhenti, pasien tetap akan datang dan harus dilayani. Serta pada saat terjadi bencana alam, Rumah Sakit harus tetap buka dan terlibat dalam penanganan korban bencana. sehingga perlu Rumah Sakit perlu menerapkan Manajemen Risiko Teknologi Informasi Rumah Sakit” pungkasnya

Materi : Manajemen Risiko Teknologi Rumah Sakit

Jerri Irgo